Latihan Kepemimpinan Tak Mesti Baris-berbaris, Nonton Saja ‘Nagabonar Reborn’

Latihan Kepemimpinan Tak Mesti Baris-berbaris, Nonton Saja ‘Nagabonar Reborn’

Nagabonar Reborn (Gempita Tjipta Perkasa)

Setelah sempat – dan tampaknya masih – berperkara di pengadilan perihal hak cipta, akhirnya film Nagabonar Reborn nongol juga. Sebagai orang yang nonton Nagabonar pada masa kecil dan Nagabonar Jadi 2 pada masa galau, sudah tentu ingin nonton edisi yang satu ini.

Oh ya, pertama-tama jangan harapkan adegan Kirana dipijat malam-malam sama pembantunya akan diulang pada versi ini. Langsung saya spoiler saja: nggak ada. Tapi kecantikan Citra Kirana betul-betul terpancar maksimal sepanjang film ini.

Sebagaimana kisah sebelumnya, film Nagabonar Reborn menceritakan tentang seseorang yang bukan siapa-siapa, kemudian menjadi orang yang memimpin pasukan dan punya gelar jenderal. Sang jenderal Nagabonar memimpin pasukannya melawan Belanda yang masuk lagi ke Indonesia membonceng tentara sekutu.

Saya tidak hendak menyebut Nagabonar yang ini adalah jenderal copet sebagaimana film terdahulu, karena memang tidak ada sedikitpun adegan Nagabonar dewasa mencopet pada film ini. Menangkap copet malah ada.

Sudah jelas, film ini selain tentang perjuangan, juga tentang kepemimpinan. Ada mantan Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI segala, juga Menko Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) saat itu. Tapi, leh uga buat latihan kepemimpinan. Sebab latihan kepemimpinan tidak mesti pelatihan baris-berbaris.

Baca juga: Pesan-pesan Film Susi Susanti yang Lebih Berkilau dari Medali Emas

Berikut ini pelajaran dari film Nagabonar Reborn:

Tidak Perlu Pintar

Ya, nggak zaman dulu, nggak zaman sekarang, yang namanya orang pintar itu tergusur dari posisi pemimpin dan cenderung jadi orang di balik layar. Lihat saja, orang pintar di sirkel Nagabonar adalah Lukman, teman kecilnya yang lulusan Hogere Burgerschool (HBS). Posisinya di pasukan sangat penting bahkan sampai mengurus beras segala, tapi bukan di posisi pemimpin.

Jadi, sudah jelas bahwa kalau mau jadi pemimpin itu nggak perlu pintar. Yang penting punya pembisik pintar dan pelayan setia, sebagaimana Nagabonar punya Bujang. Beres.

Selalu Benar

Hampir semua yang disampaikan oleh Nagabonar tidak punya muatan pemikiran strategis layaknya pemimpin pada era disrupsi sebagaimana para staf khusus baru Presiden Jokowi. Isi omongan Nagabonar sebagai pemimpin sangat spontan, sangat pribadi, dan sangat ‘ngawur’. Saya yakin dia itu kalau sedang sambutan juga bakal membaca “Bapak2 dan Ibu2” sebagai “Bapak dua dan Ibu dua”.

Baku tembak yang terjadi dalam Nagabonar Reborn ini bahkan sebenarnya diawali dari salah tangkap sang jenderal terhadap informasi dari Lukman yang notabene bawahan. Bahkan, ketika seorang pemimpin tidak paham makna demarkasi, dan tidak terima jika dikoreksi oleh bawahannya, dia juga tetap benar.

Baca juga: OK Boomer, Adaptasi ‘Harvest Moon’ ke Dunia Nyata untuk Selamatkan Anak Bangsa

Garis Keturunan

Sosok Puan Maharani seakan menjadi aspek vital dalam film ini. Bagaimana tidak, pada credit menjelang akhir film, nama dan gambar mantan Menko PMK tersebut ada di urutan ketiga setelah Gading Marten dan Citra Kirana. Donny Damara, Ence Bagus, dan para pemain lain baru ada setelah Ketua DPR periode 2019-2024 ini.

Kehadirannya di film ini juga tampak begitu membakar semangat dengan orasi cukup panjang yang berkali-kali diakhiri dengan pekik “Merdeka!”. Untuk hal ini, seorang Puan Maharani pasti sangat fasih karena memang sering dipekikkan di acara internal PDI Perjuangan.

Gaya kepemimpinan Soekarno sepertinya mengalir begitu deras dalam dirinya, sehingga pembuat film mungkin merasa tidak perlu memberikan informasi kepada penonton bahwa sebenarnya ibu-ibu berbaju biru dengan rambut dikepang yang secara tiba-tiba berorasi cukup panjang itu adalah utusan Soekarno dari Jakarta.

Saya saja tahu peran Bu Puan sebagai utusan itu dari berita, kok.

Baca juga: ‘Nge-roasting’ Menteri Pilihan Jokowi bak ‘Stand Up Comedy’

Serba Cepat

Perbedaan mendasar dari Nagabonar Reborn dengan Nagabonar versi Deddy Mizwar pada 33 tahun silam adalah tambahan adegan-adegan masa kecil seorang Nagabonar, Lukman, hingga Mariam, namun dengan durasi film yang kurang lebih sama. Boleh dibilang, adegan pada 15 menit pertama itulah yang istimewa dari film ini. Sisanya? Ya, mungkin karena ini era serba cepat, maka plotnya juga berjalan dengan kecepatan nggak karuan.

Rapat penentuan pangkat dalam pasukan, misalnya, pada versi 2019 ini berlangsung menjadi sangat pendek dan minim dialog penuh makna sebagaimana versi terdahulu. Yah, namanya juga era serba cepat. Mengisahkan plot cerita ke penonton juga kudu cepat. Nggak peduli penontonnya ngos-ngosan.

Tangguh dan Kreatif

Film Nagabonar Reborn termasuk langka. Sejauh saya berjuang mencari tiket, film ini hanya tayang di satu brand bioskop saja. Itupun sedari awal juga tidak tayang cukup banyak di bioskop pada brand tersebut. Saya beruntung masih bisa dapat jadwal nonton, meskipun di bioskop yang cukup jauh dari rumah.

Artikel populer: Menaklukkan Ratu Ilmu Hitam dengan Ilmu Sosial dan Teknik Sipil

Jadi, kelihatan sekali bahwa film ini sesuai dengan profil yang diharapkan, yakni pemimpin yang tangguh dan kreatif, sebagaimana upaya yang dilakukan oleh para penonton untuk bisa menyaksikannya.

Kontestasi

Kita tahu bahwa di kemudian hari, sosok Nagabonar yang adalah Deddy Mizwar pernah menjadi wakil gubernur Jawa Barat. Bahkan, pada tahun yang sama, Nagabonar dan Kirana pernah sama-sama bertarung di Pilkada. Deddy di pemilihan gubernur Jawa Barat, Nurul Arifin di pemilihan wali kota Bandung. Keduanya kalah, sih.

Namun, hal itu tentu menjadi profil bahwa kelak pada 2040 bisa jadi Gading Marten maupun Citra Kirana juga akan terjun dalam kontes calon kepala daerah. Hehehe.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.