Laki-laki Sadar Nggak sih Kalau Kalian juga Sering Dilecehkan?

Laki-laki Sadar Nggak sih Kalau Kalian juga Sering Dilecehkan?

Ilustrasi (Ant Rozetsky via Unsplash)

“Laki-laki diperkosa? Kok ngakak yaa… kan enak toh.” Ada banyak celetukan yang muncul ketika lelaki menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual.

Anda tidak perlu membayangkan betapa kejamnya netizen Indonesia. Tapi seperti itulah kenyataannya. Ketika lelaki yang menjadi korban bukanlah dukungan yang didapatkan. Justru malah dirisak.

Saya memiliki dua orang adik yang sedang berada di pesantren. Salah satu dari mereka terpaksa memukul temannya karena mencoba melakukan pelecehan seksual. Anda bisa membayangkan hukuman apa yang didapat adik saya? Tentu saja skorsing.

Banyak aturan di lembaga pendidikan yang tidak jeli dan tidak peka terhadap masalah ini. Tak hanya lembaga pendidikan, pelecehan bisa terjadi di mana-mana, termasuk keluarga. Banyak orang tua yang melakukan pelecehan secara verbal seperti ucapan, “Jadi laki-laki yang tegas, jangan kayak b*nci!”

Jika merujuk pada pasal 6 RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) bahwa tindak pidana pelecehan seksual – sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat (2) huruf a – adalah tindakan menghina dan/atau menyerang tubuh dan seksualitas seseorang.

Dalam konteks ini, siapapun bisa menjadi korban, termasuk laki laki. Negara juga harus peka terhadap persoalan ini.

Tak hanya laki-laki straight, gay dan lelaki dari gender ketiga pun sama-sama rentan dengan perlakuan ini. Saya pernah menyaksikan bagaimana seorang pimpinan begitu seksis kepada bawahannya yang gay. Ia bilang, “Kamu yang rajin ya… Kalau kamu closing di atas 2 M, kamu boleh tidur dengan lelaki manapun di tim. Saya yang sediakan kamar.”

Baca juga: Kamu Laki-laki, Dilecehkan, Memang Siapa yang Bela?

Sementara itu, kasus lainnya adalah persoalan toilet. Ada perbedaan yang cukup senjang antara toilet laki-laki dan perempuan. Kalau toilet perempuan, privasi memang sangat diutamakan. Tapi bagaimana dengan laki-laki?

Wahai laki-laki, kalian sadar nggak sih kalau toilet kalian itu minim privasi, bahkan tidak ada sama sekali? Di toilet laki-laki, kata beberapa teman, kita akan menemukan urinoir yang berjejer tanpa sekat. Sungguh tidak memperhatikan aspek privasi dan keamanan.

Sebetulnya banyak keluhan soal itu, karena merasa risih dan tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Kadang-kadang ada oknum yang memanfaatkan kondisi untuk melakukan pelecehan, meski ini minim laporannya. Namun, sadar atau tidak, itu sering terjadi di sekitar kita.

Dan, masih banyak kasus lainnya.

Karena itu, pemerintah dan pihak terkait, tak boleh abai dan serampangan dalam membuat kebijakan. Seringkali pemerintah tidak memperhatikan beberapa paradoks yang muncul dalam pembuatan kebijakan.

Atnike Sigiro pernah mengungkapkan dalam kuliahnya tentang Kebijakan Publik dan Feminisme bahwa dalam sebuah pengambilan kebijakan terkadang kita menemukan singgungan dan tumpang tindih antara equality dan differences.

Baca juga: Laki-laki Nggak Usah Gengsi Minta Bantuan Perempuan, Begitu juga Sebaliknya

Pengadaan KRL gerbong khusus perempuan, misalnya, adalah satu contoh bahwa pemerintah berusaha memperhatikan perbedaan kebutuhan antar gender, namun justru melahirkan kebijakan yang tidak setara.

Anda pernah menyaksikan video yang sempat viral tentang dua orang perempuan yang melakukan catfight atau pertengkaran fisik, semisal mencakar dan menjambak, di KRL? Saya yang tidak tinggal di Jakarta saja, pernah merasakan bagaimana gerbong khusus perempuan seperti ‘neraka’.

Suatu waktu, ketika kebetulan mampir ke Jakarta, saya sempat naik KRL gerbong khusus perempuan. Di hadapan saya, ada seorang ibu yang minta duduk. Tapi, karena saya tak kasih kursi, ibu itu marah-marah.

Namun, ketika ada perempuan lain yang terlihat 30 tahun lebih tua, saya berikan kursinya. Saya hanya berusaha menerapkan kursi prioritas untuk lansia. Itu menjadi pengalaman pertama dan terakhir di gerbong khusus perempuan.

Selain persoalan KRL, ada pula kebijakan di mana perempuan dan laki-laki setara dalam mengenyam pendidikan, tapi belum memperhatikan faktor differences.

Artikel populer: Habis Bapakisme, Terbitlah ‘Laki-laki Baru’

Pemerintah juga belum memperhatikan dampak dari budaya nikah muda pada kelompok adat tertentu. Nikah muda menyebabkan anak-anak perempuan putus sekolah. Negara harus hadir agar mereka tetap bisa sekolah.

Selama ini, faktor interseksionalitas masih luput dari alat analisa yang dipakai pemerintah dalam menerapkan kebijakan. Sedangkan yang kita tahu, kebijakan publik bukanlah kebijakan yang sederhana. Sangat kompleks dan multi-problem.

Dalam hal ini, Komnas Perempuan dan Forum Pengada Layanan (FPL) telah meminta Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI) untuk mengawal pembahasan dan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Selanjutnya, tugas kita bersama untuk mengawal undang-undang yang nantinya akan melahirkan turunan aturan dan kebijakan baru untuk lebih memperhatikan faktor equality dan differences. Agar tidak ada lagi aturan-aturan perlindungan yang justru semakin merugikan dan menguatkan kesenjangan gender.

Sebab, yang menjadi korban bukan cuma perempuan dan kelompok ragam identitas gender lainnya, tapi laki-laki juga. Namun, selama ini, banyak laki-laki yang tidak berani bersuara, karena takut dianggap lemah atau tidak jantan.

Lha, sampai kapan Anda diam?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.