Ilustrasi kereta. (Image by iqbal nuril anwar from Pixabay)

Anker alias anak kereta di area Jabodetabek pasti familiar dengan rutinitas di jam sibuk saat berangkat dan pulang kerja. Karena rebutan bangku adalah keniscayaan, maka disediakan bangku prioritas. Khusus untuk lansia, ibu hamil, difabel, dan ibu yang membawa anak. Penumpang lainnya, selain yang ada di kriteria tersebut, silakan baku rebut.

Belakangan, cuitan tentang fenomena rebutan bangku di kereta terasa relate sekaligus menggelitik. “Pemuda sehat rebutan bangku kereta sama perempuan, kok ga malu, ya.” Begitu isi cuitannya.

Saat membaca cuitan tersebut jadi merasa perlu berpikir sejenak. Terus terang, kalau rebutan bangku sama laki-laki sampai harus adu fisik, ya, rasanya jengkel dan bikin kepingin ngomel. Sebab saya sering kalah, kaki nyut-nyutan karena sepatu flat andalan terinjak-injak sepatu laki-laki yang lebih besar dan berat. Sering kali sampai terdorong jauh ke tengah gerbong dan kesulitan mencapai pintu keluar.

Mungkin karena itu petugas di kereta sering terlihat meminta penumpang laki-laki menyerahkan bangkunya untuk perempuan, meski bukan termasuk prioritas. Jelas terlihat wajah-wajah lega dan bersyukur dari mereka yang akhirnya mendapat bangku. Sementara, laki-laki yang ditodong bangku terjebak di situasi yang serba salah. Bisa dibilang, ada momen-momen penumpang laki-laki dipaksa menerima perlakuan tak adil dengan beragam alasan (belum tentu alasannya buruk).

Baca juga: Feminitas Toksik Itu Ada atau Tidak? Nih, Biar Nggak Asal Jeplak

Di satu sisi, kental dengan muatan maskulinitas toksik, meski bisa saja tidak bermaksud demikian karena tidak menyadarinya atau nihil pengetahuan tentang maskulinitas toksik. Di sisi lain, ada perkara manner yang menurut sebagian orang merupakan cara hidup yang tak bisa diganggu gugat. “Apaan bahas-bahas maskulinitas toksik, ini simply soal manner, kok.” Seperti itu kira-kira bantahannya. Chivalry vs equality, mana yang seharusnya lebih diutamakan?

Pendapat bahwa lelaki harus mengalah sama perempuan di kereta karena fisiknya dianggap lebih kuat sudah jelas maskulinitas toksik – sekalipun si laki-laki dalam kondisi sehat. Ini seirama dengan pendapat bahwa lelaki nggak boleh nangis, lelaki harus jadi pemimpin, lelaki nggak boleh terlihat lemah. Duh, capek banget kayaknya jadi lelaki dibebani stereotip maskulinitas.

Ada joke tentang maskulinitas yang bisa menjelaskan betapa tak masuk akal situasi yang biasa dihadapi laki-laki dalam keseharian. Soal pasang tabung gas. Sering kali perempuan menolak pasang tabung gas, alasannya takut meledak lalu kenapa-kenapa. Memantik tanya, memangnya kalau yang pasang laki-laki kemudian (amit-amit) meledak, laki-laki akan lebih kebal? Padahal sama saja, laki-laki atau perempuan sama-sama bisa celaka.

Baca juga: Dear Laki-laki yang Merasa Keki sama Aktor dan Idol Korea

Meski begitu, soal pasang gas ini bisa saja terjadi karena alasan-alasan yang sifatnya personal. Seperti minta suami yang pasang gas supaya ada sumbangsihnya dalam pekerjaan domestik. Biar suami merasa dibutuhkan dan karena ia telah mengerjakan sesuatu yang istrinya nggak bisa selesaikan. Atau, supaya jadi uwu-uwu saja, hubungan dengan suami makin mesra karena si istri bersikap manja. Ini soal lain.

Kutukan maskulinitas toksik ini bisa membahayakan orang lain dan kesehatan mental diri sendiri, plus berdampak buruk pada perempuan. Merupakan deskripsi kejantanan yang sempit dan punya kecenderungan represif, maskulinitas toksik identik dengan agresi. Membuat laki-laki secara spontan melakukan kekerasan kepada perempuan misalnya, dan perilaku tersebut dinormalisasi.

Deskripsi maskulinitas yang kita lihat itu bukan karena karakteristik biologis laki-laki dan perempuan. Tapi karena ada norma-norma sosial tentang feminitas dan maskulinitas. Nah, dari norma-norma sosial tersebut lah manner berasal.

Ketika iseng googling dengan kata kunci “manner laki-laki”, muncul sejumlah artikel yang judulnya menyertakan kata “gentleman”. Dalam artikel-artikel tersebut, intinya, laki-laki disebut gentleman jika memperlakukan perempuan ‘with certain manner‘. Salah satunya sudah bisa ditebak, membukakan pintu untuk perempuan.

Baca juga: Untuk Lelaki yang Sering Kali Merasa Tersaingi

Dari situlah muncul anggapan bahwa laki-laki seharusnya malu jika rebutan sama perempuan. Dianggap nggak gentleman. Menyenangkan memang mendapat perlakuan manis dari laki-laki, tapi di ruang publik, misalnya di kereta, kalau bersikap manis malah aneh. Lagi pula, gender perempuan nggak termasuk kategori dapat bangku prioritas, bukan?

Berbeda situasinya jika memberikan bangku atau mengalah karena melihat perempuan mendapat bahaya atau kondisinya tidak baik. Misalnya, merasa nggak tega melihat saya yang meringis kesakitan karena kaki terinjak. Terjebak di tengah gerbong tanpa pegangan dikelilingi laki-laki juga membuat saya rentan mendapat pelecehan.

Lalu, ada penumpang laki-laki yang memberikan bangkunya. “Saya turun tiga stasiun lagi, kok,” katanya. Memberikan bangku meski posisi kami berjauhan, dan setelah memberikan bangku gantian dia yang harus berdiri berdesakan.

Saya pun melakukan hal serupa. Saat berhasil mendapat bangku, kemudian sudah dekat stasiun tujuan, refleks memberikan bangku ke sesama perempuan. Jika ditolak karena sama-sama mau turun, baru deh mulai menawarkan ke laki-laki yang saat itu terlihat paling membutuhkan bangku. Pertimbangannya bukan karena pilih kasih atau menolak kesetaraan gender, tapi untuk meminimalisir pelecehan seksual yang umum diterima penumpang perempuan saat harus berdesakan.

Artikel populer: Cinta Bisa Mengubah Laki-laki? Itu Hanya Dongeng

Kalau melihat ada perempuan dilecehkan atau rentan mendapat pelecehan saat di kereta, bolehlah dibantu kasih bangku. Mengalah untuk memberikan ruang aman bagi orang lain yang membutuhkan, bukan karena gender dan manner atau bahkan norma sosial. Ini soal kemanusiaan.

Untuk perempuan, jika dalam kondisi sehat dan situasi di kereta aman-nyaman tak berdesakan, nggak perlu juga melotot ke laki-laki yang duduk. Laki-laki bisa capek dan sakit, sama seperti laki-laki bisa celaka kalau ada tabung gas yang meledak. Laki-laki nggak berkewajiban memberi bangku kepada perempuan di kereta. Maskulinitas dan manner nggak ada urusannya di sini. Perempuan juga nggak perlu merasa harus diistimewakan. Nggak seringkih itu, kan?

Jadi, ini tidak melulu isyarat kejantanan yang rapuh, bukan berarti sesuatu yang memalukan, jangan pula dicap nggak punya manner. Tapi, please, baku rebut nggak seharusnya jadi baku hantam. Badan sampai biru-biru, kaki kesakitan, kadang kepala benjol gara-gara terdorong oleh mereka yang kepingin banget dapat bangku. Ini naik kereta, apa tawuran?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini