Laki-laki Nggak Usah Gengsi Minta Bantuan Perempuan, Begitu juga Sebaliknya

Laki-laki Nggak Usah Gengsi Minta Bantuan Perempuan, Begitu juga Sebaliknya

Ilustrasi (Bahaa A Shawqi via Pexels)

“May I help you?”

“Thank you, but I’m okay.”

“Girl power, huh? Hahaha.”

“Ha ha.”

Dialog nggak lucu itu terjadi antara saya dan seorang teman lelaki dalam sebuah forum internasional. Ceritanya dia mau bantu saya membawa koper dan ransel. Tapi karena ranselnya ringan dan koper tinggal digeret, saya merasa nggak perlu bantuannya.

Eh, nggak disangka dong, mentang-mentang di forum kita membahas kesetaraan gender, dianggapnya saya menolak bantuan dia karena girl power. Eww…

Ya nggak bisa sepenuhnya menyalahkan persepsi dia juga sih. Beberapa orang tumbuh dengan keyakinan absolut bahwa laki-laki lebih kuat dari perempuan. Sehingga dalam interaksinya laki-laki harus selalu melindungi, sementara perempuan harus selalu dilindungi.

Konsep mainstream itu yang kemudian ditentang oleh mereka yang disebut teman saya sebagai ‘feminis galak’. Entah apa definisi sesungguhnya, tapi tampaknya mengacu pada sebagian perempuan yang menjadi superior, karena saking nggak sukanya sama lelaki. Menolak semua bantuan dari laki-laki hingga urusan bawa tas sekalipun.

No offense lho ya, dear feminists. I love most of your movements. Tapi melawan superioritas lelaki dengan superioritas perempuan sampai kapan pun nggak akan menyelesaikan masalah. Sunatullah yang saya yakini begitu.

Oh ya, sebenarnya posisi keberpihakan feminis terhadap relasi gender bermacam-macam, karena dalam perkembangannya kelompok feminis itu banyak sekali. Saya banyak bertemu teman-teman yang gagasannya superioritas gender alias women rule the world, bukan lagi equality for men and women.

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Nah, tipe feminis seperti itulah yang membuat lelaki macam teman bule saya tadi langsung menilai bahwa penolakan atas bantuannya semata karena saya akan merasa inferior ketika ditolong lelaki.

Padahal ya, waktu dulu pernah agak mabok sehabis naik Tornado di Ancol, saya nggak perlu berpikir dua kali ketika ada Uda charming yang berinisiatif membawakan tas dan jaket saya yang nggak seberapa beratnya, kemudian membukakan pintu bus rombongan dan memastikan saya duduk dengan nyaman.

Hal-hal kecil so sweet ala Drama Korea dan nggak girl power banget. Tapi ya gimana saya mau nolak bantuan Uda itu, jalan bener saja nggak bisa.

Terlebih, dalam keyakinan saya sebagai muslim, konsep perlindungan dalam kemanusiaan seperti itu bersifat universal alias nggak melihat jenis kelamin.

Kalau pas perempuannya perlu bantuan, ya minta tolong. Nggak usah gengsi tinggi: eh aku kan girl power, masa minta tolong lelaki, nanti dikira nggak emansipasi? #apaansih

Laki-laki juga begitu. Kalau butuh bantuan perempuan, ya bilang saja. Nggak usah sok kuat hanya demi menjaga stereotip maskulinitas yang anti bantuan perempuan.

Sorry to say nih, hanya lelaki cemen yang menolak memberi atau diberi bantuan dengan melihat jenis kelamin. Penilaian itu tentu saja berpedoman pada lelaki favoritku di muka bumi ini, Muhammad SAW.

Baca juga: Soal Traktiran saat Kencan dengan Feminis Hingga Angkat Barang yang Berat-berat

Diceritakan ketika melihat Asma binti Abu Bakar berjalan sendirian dengan memikul bawaan berat, Rasulullah langsung menawarinya tumpangan kendaraan. Meskipun tawaran itu ditolak Asma sih.

Tapi, walaupun ditolak, Rasulullah nggak lantas marah sama Asma, apalagi sensi ngatain dia sok girl power, sok mandiri, atau sok feminis. Beliau woles aja menghormati keputusan Asma.

Ini nih teladan nyata bahwa sejak zaman Nabi, perempuan boleh menolak bantuan lelaki selama nggak dalam kondisi terzalimi. Tapi nolaknya biasa saja sis, nggak usah bawa-bawa gengsi gender.

Di sisi lain, Rasulullah juga nggak gengsi ketika harus menerima perlindungan dari perempuan. Dalam Perang Uhud diceritakan pasukan umat Islam yang hampir kalah semakin tercerai-berai. Nyawa Rasulullah pun dalam bahaya. Dan, tebak siapa yang melindungi beliau?

Ummu Ammarah! Perempuan lho itu, gais, perempuan…

Kepada para sahabat, Rasulullah senang menceritakan bagaimana Ummu Ammarah sigap melindunginya dari depan, samping, dan belakang selama Perang Uhud. Oh ya, nggak usah norak bertanya, “Di mana para sahabat, kok malah perempuan yang melindungi pemimpin tertinggi?”

Yah namanya juga kondisi peperangan penuh kekacauan, gais. Yang penting dari kejadian itu, kita bisa sadar bahwa perempuan bisa banget melindungi laki-laki.

Artikel populer: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Lantas apakah setelah penyelamatan itu derajat perempuan menjadi lebih tinggi di mata Nabi karena girl power-nya Ummu Ammarah? Nggak juga.

Dari dulu perempuan dan laki-laki sama derajatnya di mata Allah dan Nabi. Yang membedakan cuma derajat takwa dan sampai sekarang pun belum ada manusia yang bisa menilai itu. Namun, secara personal, Ummu Ammarah dapat ‘bonus’ golden ticket ke surga berkat perlindungannya pada Nabi.

Lantas, apakah setelah penyelamatan itu, Nabi merasa nggak laki atau turun wibawa karena telah dilindungi perempuan? Nggak juga. Toh, muslim perempuan atau laki-laki sebaiknya memang saling melindungi, apalagi yang dilindungi seorang Nabi.

Ummu Ammarah adalah seorang peserta baiat Aqobah Tsaniyah alias janji setia terhadap Nabi. Maka, perlindungan itu simply menjadi konsekuensi dari kecintaannya pada Nabi. Istilahnya rahmah, cinta yang menggerakkan. Rasulullah pun justru bahagia, bukannya gengsi apalagi merasa nggak laki banget ketika menerima perlindungan seperti itu.

Jadi gitu ya, dear sohibul akhi wa ukhti… Kalau ada perempuan yang menolak dilindungi lelaki, jangan langsung menuduhnya sok girl power.

Sementara, ketika lelaki harus menerima perlindungan dari perempuan, nggak usah khawatir harga diri jatuh. Rasulullah lho yang jelas gentleman woles aja dilindungi lawan jenis.

Kuy ah, jangan terperangkap jebakan stereotip gender, gais… Lagipula, kalau parameter perlindungannya sangat bias gender begitu takutnya niat kebaikan kita berbelok. Nggak lagi ingin melindungi manusia lain, tapi ego dan gengsi pribadi. Hehe…

1 COMMENT

  1. Suka banget sama tulisan ini. Udah lama pengen ngomong juga, karena eneg ama laki yg sok macho pdhl emang beneran lg butuh prtolongan. Tp yg bikin perempuan nolak ditolong kadang justru krn jg distigma, dibilang cengeng, lemah, dan manja. Siapa yg gak terhina sampai takut ditolongin coba?

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.