Suka atau Tidak, Laki-laki Lebih Rapuh daripada Perempuan

Suka atau Tidak, Laki-laki Lebih Rapuh daripada Perempuan

Ilustrasi (Morgan Basham via Unsplash)

“Adakah baju perempuan yang sanggup menutupi pikiran kotor laki-laki?” tulis Weslly Johannes, salah satu penyair keren asal Ambon. Setelah tulisan itu dibagikan di media sosial, seorang laki-laki berkomentar, “Ya namanya laki-laki emang pikirannya gitu.”

Setajam apapun sebuah pertanyaan, ternyata tetap ada orang-orang yang lincah dalam memilih alasan dan berlindung di balik kata-kata. Apa itu kelebihan laki-laki? Eh maaf, jadi personal.

Komentar itu mengundang tanya yang cukup panjang. Menimbang-nimbang apakah komentar itu pernyataan tulus dari lubuk hati yang terdalam atau bukan. Tapi, ternyata, itu bentuk pengakuan.

Pengakuan atas kekalahan, ya kalau ibarat lagi main perang-perangan seperti sedang mengibarkan bendera putih dari balik batu. “Ampun… Kami makhluk dengan testosteron yang katanya kuat ini tak mampu menghadapi binatang buas yang ada di dalam diri.” Mungkin begitu kira-kira erangannya yang sendu dari balik batu.

Hai para lelaki, kalian memang nggak bakal kuat. Biar perempuan saja.

Menurut riset yang dipublikasikan awal 2018, secara resmi telah dinyatakan bahwa perempuan lebih kuat dibandingkan laki-laki. Masa? Iya, suwer nggak ada janji-janji manis pakai pemanis buatan di sini.

Baiklah, sebelum fakta ini dipaparkan, para lelaki siap-siap jangan kecewa ya, terus beramai-ramai bikin kaos #2019GantiApaApalah. Ego lelaki memang besar, tapi faktanya ya tetap sayang, uhuk…

Riset tentang perempuan itu dilakukan selama bertahun-tahun dan akhirnya sampai pada kata sepakat. Para peneliti dari Universitas Southern Denmark mendapati bahwa perempuan hidup lebih lama dibanding laki-laki di mana saja, kapan saja, dan dalam kondisi apa saja.

Perempuan punya kemampuan bertahan hidup yang lebih besar dibanding laki-laki, bahkan semenjak lahir. Bayi laki-laki memiliki rasio kematian 10% lebih tinggi dibandingkan bayi perempuan.

Meski penyebabnya belum dipahami secara terperinci, hasil riset sementara dari para ahli berujung pada hormon.

Iya, hormon yang ternyata secara ilmiah menjadi salah satu senjata kaum perempuan untuk berjuang mempertahankan hidup lebih gigih, bahkan dalam keadaan sakit keras ataupun trauma. Rata-rata perempuan dapat bertahan hidup 5-6 tahun lebih lama dibanding laki-laki.

Lelaki itu more fragile alias lebih rapuh, ungkap artikel yang telah dipublikasikan di dalam jurnal PNAS. Rapuh dan lemah kalau lihat rok mini, rapuh dan lemah kalau lihat baju berbelahan dada rendah.

Dalam kondisi-kondisi sulit, lelaki pun lebih mudah menyerah dibanding perempuan. Hal ini dikukuhkan oleh ucapan Robin Dunbar, profesor Psikologi Evolusi di Oxford University. Women are just more determined: men give up quicker when the going gets tough.”

Nah, jangan-jangan ini alasan mendasar mengapa para lelaki selalu mengunakan berbagai tameng untuk membenarkan aksinya sejak dalam pikiran maupun perbuatan.

“Sudah lahir batin pikiran kami begini”, “Laki-laki ya pasti mikirnya gituan”, atau “Mau gimana lagi otak kami emang selalu ke kiri.” Maksudnya sudah terbakar bersama buku-buku kiri gitu, Bang?

Semoga dengan mengetahui penelitian di atas, kaum perempuan sadar jika suatu waktu menemukan laki-laki bermain peran sebagai korban dan menunjukmu sebagai tersangka.

Sadarilah, laki-laki hanya ingin dimengerti. Tapi tergantung perempuan mau mengerti atau tidak, sih? Setidaknya sebagian perempuan paham inilah alasan si abang nggak pernah kuat memperjuangkan neng? Ishh…

Meskipun laki-laki selalu minta dimengerti, tolong ingat satu hal ini. Jika muncul berbagai pikiran kotor di kepalamu ketika melihat perempuan mengenakan pakaian seksi, kamu bukan sedang memperlihatkan kegagahan dan kejantananmu. Bukan!

Kamu justru sedang mempermalukan dirimu, mengakui kegagalanmu dalam mengendalikan diri sendiri. Lemah syahwat pada pikiran sendiri.

Kelak, kalau syahwat pikiranmu sudah menguat, bolehlah kita mengayuh biduk rumah tangga. Perjuangkan neng! Kalau capek di atas bilang saja, nanti kita gantian ya.

Eitss… Jangan berpikiran kotor dulu, maksudnya gantian jadi kepala keluarga.

3 COMMENTS

  1. Menurut testimonial para istri (terutama yang jadi IRT), laki kalo lagi pilek atau demam bisa berubah jadi bayi (11-12 ama anak kecil yang juga sakit). Sementara itu, perempuan udah capek dan sakit dilarang ngeluh, karena masih (harus) mengurus keluarga.

    Untuk setiap kelahiran anak, ibu jadi lebih kuat menahan sakit (fisik). Lupa pernah baca di mana, tapi udah masuk jurnal penelitian medis juga.

    Daaan…masih ada laki-laki yang in denial atau dengan lancangnya bilang kita lemah. Mereka emang kuat ngangkat barang berat sama berantem/melakukan kekerasan, sih. Tapiii…

    Ah, sudahlah. Lagi puasa. Ntar ada yang marah lagi. Hihihihi…

    • Intinya sih jangan ada yg merasa lebih tinggi dan superior satu sama lain. Setiap manusia diciptakan dgn kelebihan dan kekurangan masing masing.

      Yang ditakutkan, ada aktifis aktifis feminis yg karena dia udah merasa sbg wanita yg kuat terpelajar dan mandiri, timbul bibit bibit “superioritas”, setitik kecil rasa “lebih tinggi” di hatinya bahwa “gue (dan wanita pada umumnya) lebih superior dari laki laki. Yang ujung ujung bibit superioritas ini akan menyebabkan hypocrisy atau kemunafikan.

      Mereka bisa aja berfikir bahwa punya pikiran kya gini ga “seksis” tp kalau yg terjadi kebalikannya itu seksis. Ujung ujungnya dobel standar yg main. Penting bgt untuk para aktifis supaya bisa “fair” dan tetap idealis, serta membersihkan hati dari segala bibit bibit kotor seperti ini.

      Bayangin jika artikel kya gini “judulnya dibalik”, seksis! saya tau ini artikel mengarah kemana, tp kenapa harus memasukan hal yg kurang relevan seperti angka harapan hidup cuma untuk membuktikan klaim delusional tentang siapa “gender terkuat”? Ide awal ini aja udah dangkal sekali.

  2. LAKI-LAKI adalah ciptaan TUHAN yg paling TEGAR*

    Dia bina MASA DEPAN mereka sekeluarga dengan *hutang* dan membayar cicilan

    Dia telah bersusah payah tapi masih selalu *dimarahi*,

    Bayangin
    masih kecil di *Marahi ORTU*,

    Sekolah di *Marahi GURU,*

    Kerja di *Marahi BOSS*,

    Nikah di *Marahi ISTERi,*

    Tua di *Marahi ANAK CUCU*,

    Matipun bisa bisa di *Marahi MALAIKAT*

    Kehidupan dia berakhir hanya untuk *MENGALAH demi KEBAHAGIAAN orang lain*

    Kalau dia keluar rumah, kata org dia *NGELAYAP*

    Kalau dia tinggal di rumah, kata org dia *MALAS*

    Kalau dia marahi anak2, kata org dia *GALAK*

    Kalau dia tak marah, kata org dia laki-laki *TIDAK TEGAS*

    Kalau dia tak bolehkan isteri bekerja, kata org dia *MENGEKANG*

    Kalau dia bolehkan isteri
    bekerja, kata org dia *MAKAN GAJI ISTERI*

    Kalau dia banyak *MENOLONG* wanita yg membutuhkan, dibilang *HIDUNG BELANG*

    Kalau *GAK MAU TOLONG* wanita lain, katanya *KEJAM*

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.