Berhenti Memuja Laki-laki Bule

Berhenti Memuja Laki-laki Bule

Ilustrasi (Luke Porter via Unsplash)

Pelecehan yang dialami VV telah menimbulkan diskusi baru. Banyak komentar netizen yang justru membenarkan tindakan si pelaku, seorang laki-laki bule yang dianggap ganteng.

Komentar seperti, “Ah dia kan bule, itu adalah hal yang biasa diucapkan”, “Ah dia kan bule, masih untung ada yang mau”, atau “Itu adalah cara bule mendekati perempuan”.

Apa yang dialami korban adalah hal yang tidak ia inginkan. Jika laki-laki – entah kulit putih atau bukan – hendak mendekati dan menggoda, maka dekati dengan cara yang berempati.

Bukan malah merendahkan dan membuat perempuan seperti objek dengan mengirim pesan mesum yang meminta perempuan untuk memakai baju seksi dan bernyanyi di kamarnya.

Terlepas dari fakta bahwa korban dan pelaku pernah bertemu sebelumnya, namun dalam konteks pesan mesum, ini adalah hal yang mengganggu ruang privat. Sebab, korban merasa tidak nyaman dan direndahkan.

Anehnya, banyak yang masih menganggap perbuatan itu normal, hanya karena pelakunya adalah bule.

Sepanjang saya berteman dan berkencan dengan laki-laki bule, mengirim pesan-pesan mesum adalah hal yang paling menjijikkan dan mengganggu. Terlebih, orang tersebut bukanlah orang yang terikat dengan kita.

Ada kalanya pesan bernada seksual dapat diterima, jika hubungan romantisme sudah berlangsung cukup lama dan ada ketertarikan antar kedua pihak.

Banyak bule yang saya tolak, tatkala mereka sudah sangat mengganggu dengan pesan-pesan mesum. Namun, ada pula bule yang berteman baik dan menggoda saya dengan cara yang terhormat, sopan, dan tidak merendahkan.

Kita tidak bisa menganggap pelecehan dan kekerasan seksual itu sesuatu yang normal dan lumrah hanya karena pelakunya berkulit putih.

Jika terus memuja bule seperti itu, kita akan terus melanggengkan supremasi kulit putih yang makin hari makin menguat. Tak hanya di masyarakat Indonesia, tapi juga di negara-negara yang memiliki massa konservatif dalam populasi kulit putih.

Supremasi kulit putih adalah sebuah pemikiran yang menganggap bahwa laki-laki kulit putih lebih unggul dan lebih baik di antara laki-laki lain yang bukan kulit putih. Hal ini sejak lama dilanggengkan oleh anggapan bahwa orang yang berkulit lebih putih atau lebih cerah itu lebih cantik atau lebih tampan.

Pemikiran seperti itu seringkali kita temui dalam percakapan sehari-hari seperti, “Nikah sama bule aja buat memperbaiki keturunan, kan lucu nanti anaknya putih!”

Tanpa disadari, pemikiran itu merupakan buah hasil pemikiran kolonial Belanda, yang mana Belanda telah lama mendoktrinasi pemikiran orang-orang Indonesia untuk bergantung pada mereka hingga pada tahap pemujaan layaknya dewa.

Supremasi kulit putih tidak hanya diamini oleh orang Indonesia yang bermental inlander, namun oleh orang kulit putih itu sendiri. Banyak pula laki-laki Kaukasia yang mencari perempuan Asia hanya karena pandangan bahwa orang Asia lebih submisif dan penurut.

Pandangan bahwa orang Asia lebih penurut merupakan hasil jajahan yang memaksa orang-orang Asia untuk tunduk terhadap mereka. Karena itu, tidak heran, jika kamu menemui banyak laki-laki kulit putih yang berubah menjadi penjahat kelamin super mesum, tatkala mereka berada di Asia.

Apa yang dilakukan oleh laki-laki Kaukasia yang melecehkan VV merupakan bentuk seksisme dan rasisme terhadap perempuan Asia.

Dalam hal rasisme, laki-laki tersebut menganggap bahwa perempuan Asia mudah jadi penurut dan tunduk, ketika dihadapkan pada laki-laki kulit putih. Mereka sesungguhnya menyadari bahwa mereka memiliki privilege sebagai laki-laki kulit putih.

Namun, sayangnya, bukannya ia menggunakan ‘keistimewaan’ itu untuk kebaikan, malah memilih untuk memanfaatkannya untuk mengobjektifikasi tubuh perempuan, yang mana itu tergolong seksisme.

Banyak pula yang berdalih bahwa korban dianggap berlebihan dan hanya mengekspos orang-orang terkenal untuk mencari ketenaran. Justru karena pelaku adalah orang yang cukup dikenal oleh masyarakat, maka kita perlu mengekspos orang-orang tersebut.

Kita tidak bisa membiarkan orang-orang terkenal memiliki pengaruh besar untuk memberikan contoh buruk. Kita tidak boleh membiarkan reproduksi pemikiran yang melanggengkan kekerasan terhadap perempuan.

Hal ini diharapkan memberi efek jera, setidaknya pengucilan sosial terhadap pelaku pelecehan dan kekerasan seksual, terutama para laki-laki kulit putih seperti apa yang dilakukan Hollywood kepada Harvey Weinstein dan Kevin Spacey.

Dengan begitu, mereka tidak akan seenaknya lagi dan kabur begitu saja karena sudah berbuat semena-mena terhadap perempuan.

Namun, jika kita terus memuja laki-laki kulit putih, kita tidak akan pernah merdeka dari penjajahan. Sebab, penjajahan dimulai dari pikiran.

Kita perlu memeriksa dan mempertanyakan kembali bagaimana konsep-konsep yang menempati ruang benak kita, baik dalam melihat sebuah ideologi, keyakinan, hingga sesama manusia.

Kita tidak bisa melihat pelaku pelecehan dan kekerasan seksual hanya sebatas warna kulit, lalu menginvalidasi perasaan korban. Ini seringkali dianggap lazim oleh masyarakat. Seperti Donald Trump bilang, “Ketika kamu terkenal, mereka membolehkan kamu melakukan apapun.”

Seringkali masyarakat menganggap kejahatan seksual sebagai perbuatan yang normal hanya karena orang itu kaya, berkulit putih, terkenal, seorang seniman, penulis kawakan, dan sebagainya. Kemudian, banyak orang yang justru membela tindakan tersebut.

Sudah saatnya kita berhenti mentolerir kejahatan seksual, karena sudah cukup lama dijajah oleh budaya pemerkosaan yang semakin hari semakin dibenarkan oleh penyakit misoginis masyarakat.

Waktu kalian sudah habis!

Time’s up…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.