Ada Pemikiran Besar dalam Lirik Lagu Via Vallen, dari Camus Hingga Sartre

Ada Pemikiran Besar dalam Lirik Lagu Via Vallen, dari Camus Hingga Sartre

Via Vallen (instagram.com)

Pada 1942, filsuf Prancis bernama Albert Camus menulis esai berjudul Le Mythe de Sisyphe. Esai itu berisi tentang seorang bernama Sisifus yang dikutuk untuk mendorong batu besar ke atas gunung.

Ketika sudah sampai di atas gunung, batu tersebut menggelinding lagi ke bawah dan Sisifus harus kembali mendorongnya. Itu dilakukan hingga tak terbatas.

Lagu Sayang, yang dipopulerkan oleh Via Vallen, mengandung pemikiran Albert Camus. Kita bisa membayangkan kesedihan Sisifus pada penggalan lirik ini: sayang opo kowe krungu jerite atiku | sayang nganti memutih rambutku (sayang, apa kamu mendengar jeritan hatiku | sayang, hingga memutih rambutku).

Kata “sayang” di sini, bagi Sisifus, bisa saja ditujukan kepada dewa-dewi yang mengutuknya. Salah satunya, Zeus. Namun, di akhir esai tersebut, Camus mengatakan bahwa tidak ada jalan lain bagi Sisifus kecuali tetap (mencoba) berbahagia dalam kondisi yang absurd.

Sekarang coba resapi penggalan lirik ini: yo wes ora popo, Insya Allah aku iso lilo | aku welasno ningmas, aku mesakno aku (ya sudah tidak apa-apa, Insya Allah aku bisa rela | aku ikhlaskan dik, aku kasihan aku).

Pada akhirnya, hanya sikap menyandarkan diri sepenuhnya pada nasib yang bisa menolong seseorang dari keabsurdan hidup. Kira-kira demikian kata Camus.

Selain Camus, lagu Sayang yang dibawakan Via Vallen juga sesuai dengan filsafat eksistensialisme Martin Heidegger, filsuf asal Jerman. Heidegger – yang sebetulnya masih diperdebatkan apakah seorang eksistensialis atau bukan – mengatakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah Ada-Menuju-Kematian (Being-Towards-Death).

Jadi, segala yang kita lakukan pada dasarnya memiliki orientasi pada kematian. Hidup menjadi bermakna karena menunggu mati. Perasaan menunggu mati itu seperti: hari demi hari uwis tak lewati | yen pancen dalane kudu kuat ati (Hari demi hari sudah kulewati | jika memang jalannya harus kuat hati).

Filsafat eksistensialisme sendiri merupakan filsafat yang berkembang pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Prinsip utama dari eksistensialisme adalah eksistensi mendahului esensi.

Filsafat ini mempertanyakan hal paling mendasar, yaitu keberadaan (eksistensi) manusia itu sendiri. Karena itu, lewat eksistensialisme, hal-hal terkait kelahiran, kematian, cinta, derita, bahagia, dan sebagainya menjadi sesuatu yang lebih penting.

Bagi sebagian orang, lagu Sayang mungkin terdengar seperti lagu cengeng dan lebay. Tapi dalam kacamata filsafat eksistensialisme, lagu ini justru menggambarkan problem manusia yang paling hakiki.

Persoalan ini justru lebih penting daripada hal-hal ‘bombastis’ seperti keadilan, kemanusiaan, kebudayaan, sejarah, pengetahuan, dan sebagainya. Dengan kata lain, mengapa kita tidak bicara hal yang sangat dekat dengan keseharian kita saja, misalnya putus cinta?

Dalam daftar pemikir eksistensialisme, terdapat sosok Friedrich Nietzsche yang begitu terkenal dengan ungkapannya yang begitu berbahaya: “Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya”.

Namun, Nietzsche sebenarnya tidak hendak menyingkirkan Tuhan dalam arti sebenarnya. Ia mengajak manusia untuk berdikari dan hidup dengan suatu semangat yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Bagaimanapun, dengan mengesampingkan Tuhan dan juga manusia, maka hidup berada dalam suatu ‘bahaya yang tragis’.

Seperti lirik pada lagu Sayang-Via Vallen ini: meh sambit kalih sinten | yen sampun mekaten, merana uripku | aku welasno ningmas, aku mesakno aku | aku nangis nganti metu eluh getih putih (mau curhat sama siapa | kalau sudah demikian merana hidupku | aku ikhlaskan dik, aku kasihan aku | aku menangis hingga keluar air mata).

Ketragisan itu adalah konsekuensi, namun harus dilakukan demi munculnya sosok manusia baru. Dalam istilah Nietzsche, manusia baru itu adalah Superman.

Setelah demikian dalamnya makna lirik lagu Sayang dari kacamata Camus, Heidegger, dan Nietzsche, maka kita harus memasukkan nama terakhir, yang tidak boleh dilepaskan dari daftar pemikir eksistensialisme: Jean Paul Sartre.

Sartre adalah pemikir Prancis yang punya pengaruh besar, baik pada masanya (awal hingga pertengahan abad ke-20) maupun hingga saat ini. Sartre dikenal sebagai pemikir yang mengutamakan keberadaan manusia di atas apapun.

Namun, menurut dia, menjadi seorang ateis, pada dasarnya, melelahkan. “Menjadi ateis seperti naik kereta api tanpa karcis. Hati ini gelisah, karena harus bersembunyi dari kejaran kondektur. Jantung berdegup kencang dan begitu paniknya, hingga keluar air mata. Meski kita berusaha keras, di ujung sana, di stasiun, tidak ada siapapun yang menanti kita.”

Sekarang, coba kita simak lirik dari lagu Sayang yang dinyanyikan Via Vallen: sayang opo krungu tangise atiku | mengharap koe bali neng jero ati iki | nganti rambutku putih, nangis elu dadi getih | mbok yo gek ndang bali ngelakoni tresno suci.

Kira-kira artinya begini: sayang, apa kamu mendengar jeritan hatiku | mengharap kamu kembali di dalam hati ini | hingga rambutku memutih, menangis air mata jadi darah | lekaslah kembali menjalani cinta suci.

Memang ada sedikit tegangan di kalimat terakhir. Apa hubungannya “ketiadaan siapapun yang menanti kita” dengan “cinta suci”? Untuk menjawab ini, kita harus kembali pada satu bab dalam buku Zarathustra-nya Nietzsche yang masyhur itu.

Menurut dia, ada tiga tahap metamorfosis manusia: Dari unta, menjadi singa, dan yang terakhir, yang paling suci, menjadi anak.

Menjadi unta adalah manusia yang senang menanggung beban, ia tunduk pada moral dan aturan. Menjadi singa adalah manusia yang melawan, berontak terhadap tatanan.

Sementara itu, tahap paling paripurna adalah menjadi anak, yaitu hidup hanya untuk sesuatu yang ada di hadapan. Di hadapan apapun, ia berkreasi dan tidak banyak pikiran-pikiran tendensius tentang apa makna di balik sesuatu.

Dalam diri seorang anak, tiada siapapun yang menantinya, sehingga ia tampil tanpa beban dan begitu santai. Pada titik itulah, seseorang akan mencapai tahapan yang paling suci nan agung.

Jadi begitulah, dahsyatnya lagu Via Vallen berjudul Sayang.

Vyanisty mana suaranya?!

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN