Makna ‘Lagi Syantik’ bagi Perempuan

Makna ‘Lagi Syantik’ bagi Perempuan

Siti Badriah (Instagram)

Bicara tentang musik, memang unik. Setiap orang punya selera berbeda. Tapi, banyak juga yang kemudian ‘jatuh cinta tanpa sengaja’ kepada lagu-lagu yang sedang hits, walau genrenya kontras dengan genre yang selama ini digandrungi.

Nggak usah jauh-jauh, belakangan banyak yang mendadak dangdut berkat Via Vallen dan Nella Kharisma. Padahal, dalam keseharian, biasa mendengarkan lagu-lagu hardcore atau slowrock.

Tak hanya beda genre, sebelumnya juga banyak yang ‘mengharamkan’ musik dangdut yang kerap diberi label murahan, kampungan, juga lekat dengan stempel erotisme dan seksualitas dalam setiap goyangannya.

Belum lagi, anggapan bahwa para penyanyi dangdut cenderung memiliki side job sebagai ‘pekerja seks komersial kelas atas’. Antara manggung, terima saweran, dan terima bookingan menjadi stigma negatif bagi para pekerja musik perempuan di genre ini.

Padahal, kalau bicara bisnis esek-esek di balik industri musik, nggak adil rasanya kalau kita menyetempel para pelaku industri musik dangdut ini, terutama yang perempuan, seolah mereka gampang ‘dipake’ hanya karena lekat dengan goyangan yang aduhai.

Sebab, namanya bisnis esek-esek, sudah jadi rahasia umum ada di segala lini, terbuka maupun terselubung. Tak terbatas di industri musik, terlebih musik dangdut saja.

Tapi repotnya, stempel negatif kepada para biduan dangdut ini kadung menempel dengan kuat. Itulah mengapa sempat ramai kasus pelecehan seksual yang dialami Via Vallen.

Via dianggap sebagai perempuan yang bisa diajak manggung pula di atas ranjang, hanya karena dia seorang penyanyi dangdut. Sudah begitu, banyak yang belain si pelaku. Yang belain perempuan juga lagi. Hadeuh…

Diakui atau tidak, mungkin saja, bukan hanya karena faktor sensualitas yang dianggap identik dengan para penyanyi dangdut. Tapi, bisa jadi pula karena lirik-lirik dalam lagu tersebut.

Lirik lagu dangdut memang cenderung melow, sedih, seperti orang-orang yang butuh kasih sayang, perhatian, harapan, dan terkadang beberapa lagu menyuguhkan lirik yang ’nakal’ dan menjurus pada seksualitas.

Memang jarang rasanya, ada lagu dangdut yang mengangkat isu-isu yang lebih universal ketimbang tema cinta, harapan, kasih sayang, kesedihan, dan sebagainya. Boro-boro mengangkat isu kesetaraan gender, isu sosial saja hanya diangkat dalam beberapa lagu dangdut, seperti Begadang dan Judi karya Rhoma Irama.

Itulah mengapa, saat lagu Siti Badriah berjudul Lagi Syantik booming, saya langsung berpikir bahwa nada dan liriknya paling nggak jauh-jauh dari yang tadi.

Dari pemilihan judul saja, sudah bikin sebagian dari kita mengernyitkan dahi. Alih-alih memakai kata Cantik, lagu yang dipopulerkan Siti Badriah alias Sibad ini justru memakai kata Syantik. Untungnya nggak harus ketemu dulu dengan mas Ivan Lanin.

Sekarang cermati liriknya…

Emang lagi manja, lagi pengen dimanja.

Pengen berduaan dengan dirimu saja.

Emang lagi syantik, tapi bukan sok syantik.

Syantik-syantik gini hanya untuk dirimu.

Coba deh, nyanyi lirik di atas dengan gaya lempeng kayak penggaris, bisa? Terus itu bibir biasa aja keleus waktu ngomong kata Syantik, bisa nggak? Saya kok nggak yakin deh.

Kalau dilihat sekilas, lirik tersebut memang nggak seratus persen menggambarkan seorang perempuan yang ‘ganjen’ atau sok cantik.

Itu seolah menggambarkan perempuan yang hari itu pingin tampil istimewa di hadapan kekasihnya, lain dari hari-hari biasanya. Khusus hari itu, yang bukan kebiasaannya berdandan cantik, untuk kekasihnya.

Well

Coba deh, baca kembali lirik secara keseluruhan, toh nggak banyak kok, pendek saja, hanya diulang-ulang. Saya rasa pendapat bahwa lagu tersebut tentang seorang perempuan yang nggak ‘ganjen’ dan sok cantik bakal jadi pendapat yang taksa dan ambigu.

Bagi sebagian kalangan, mungkin lagu tersebut biasa saja, asyik saja untuk dinikmati tanpa harus dipahami artinya.

Tapi, saat kita bicara ada bocah-bocah perempuan yang asyik saja menyanyikan lagu ini, lengkap dengan gaya kemayunya, plus dengan embel-embel kebanggaan orang tua atas ’prestasi’ anaknya ’berhasil’ meniru, lalu mengunggahnya di media sosial, saya kok speechless ya…

Baiklah, kita memang nggak bisa berharap banyak, seperti misalnya membandingkan dengan Aretha Franklin dengan lagunya berjudul Respect. Sebuah lagu yang menempatkan seorang perempuan dalam posisi yang setara, mempunyai posisi tawar, tak hanya sebagai perempuan penunggu rumah.

Atau, lebih jauh lagi membandingkan dengan Tracy Chapman, yang konsisten dengan isu-isu sosial, terutama isu rasial yang memang menjadi problem utama para penduduk Afro-Amerika.

Latar belakang kehidupan Chapman, yang erat dengan kemiskinan serta rasisme, tak membuatnya gamang untuk berada ditengah-tengah dunia musik yang hingar-bingar. Ia juga tertarik dengan politik, menggebrak dunia lewat debut perdananya di Elektra Records dengan lagu Fast Car.

Toh, lagu tersebut bisa ngehits. Terbukti, lagu yang menyuarakan kisah seorang perempuan pekerja yang berusaha keluar dari lingkaran kemiskinan itu berhasil menduduki urutan pertama tangga lagu Billboard kala itu.

Begitu juga dengan lagu Baby Can I Hold You yang hingga kini masih asyik-asyik saja, terlebih dikemas kembali oleh beberapa musisi lainnya. Lagu tersebut berkisah tentang cinta bertepuk sebelah tangan, cinta yang universal, yang kerap dialami oleh pasangan berbeda ras saat itu.

Mereka, para penduduk Afro-Amerika, tak bisa bebas untuk sekadar berteman dengan orang-orang kulit putih, apalagi menjalin hubungan asmara. Hukuman yang bakal diterima amat sangat jelas. Tak hanya hukuman fisik maupun psikis, bahkan tak jarang berakhir dengan kematian.

Ada banyak sekali kritik dan perlawanan yang Chapman tuangkan dalam lagu-lagunya. Tak hanya lagu Freedom Now yang ia ciptakan khusus untuk Nelson Mandela, ia juga menciptakan lagu Born To Fight yang menjadi simbol perlawanan atas politik apartheid.

Chapman mungkin tak seberuntung Janis Joplin atau Joni Mitchell, meski mereka kurang lebih sama. Banyak mengangkat isu sosial, termasuk feminisme, dalam lagu-lagunya.

Joplin yang terlahir sebagai kulit putih, tentu tak mengalami isu rasial dalam kehidupannya. Namun, itu tak membuatnya berhenti menyuarakan isu feminisme melalui musik yang ia gaungkan.

Ia melakukan dekonstruksi sekaligus rekonstruksi lewat lagu-lagunya. Bahwa perempuan harus keluar dari dominasi gender laki-laki, harus berani bebas mengekspresikan diri sebagai dirinya sendiri. Tak harus menjadi orang lain demi menyenangkan laki-laki.

Hal ini tercermin tak hanya dalam lirik-lirik lagunya, melainkan juga lewat gaya bernyanyi. Dengan lirik lagu yang melengking lalu terkadang rendah, serta tiba-tiba tone-nya berubah menjadi tak beraturan, layaknya ombak di lautan.

Ini mencerminkan bahwa perempuan, tak hanya tentang kelembutan, kesabaran, atau segala hal manis yang biasa disematkan pada perempuan.

Kita memang belum punya banyak musisi yang berani menyuarakan tentang isu sosial, termasuk feminisme, secara konsisten seperti beberapa musisi tadi, terutama di genre musik dangdut yang sebenarnya banyak peminatnya dari berbagai kalangan.

Takut nggak ngehits? Ah, masa?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.