Lagi Ngetren Pernikahan Intim, Memang Seberapa Intim?

Lagi Ngetren Pernikahan Intim, Memang Seberapa Intim?

Ilustrasi (Image by Pexels from Pixabay)

Akhir-akhir ini, banyak warganet berbagi tips and tricks bagaimana menghemat biaya pesta pernikahan. Salah satunya menggunakan konsep intimate wedding, semacam mengundang segelintir orang yang benar-benar dekat saja. Konsep pernikahan intim ini sedang ngetren, terutama di kalangan milenial.

Tak seperti massive wedding atau mengundang banyak orang, intimate wedding tidak perlu gedung besar dan mewah, cukup mencari tempat eksklusif yang nyaman. Semisal restoran, villa di pinggir pantai atau perbukitan, bahkan di taman.

Dekorasinya pun minimalis, tapi berkesan. Begitu juga dengan gaun pengantin yang tampak simpel, namun elegan. Kalau biasanya sang mempelai terpaku di pelaminan, ini lebih luwes alias bisa berkeliling menemui undangan yang jumlahnya berkisar 100, 300, paling mentok 500.

Sebagai gagasan yang anti-mainstream di Indonesia, konsep intimate wedding ini mengundang reaksi yang beragam. Tentunya, ada yang pro dan kontra. Padahal, pada akhirnya sama saja. Sama-sama berada dalam naungan logika industri pernikahan yang kapitalistik.

Baca juga: Utang Nggak Utang Asal Kawin

Yang menjadi isu menarik adalah konsep keintiman itu sendiri. Seberapa intim sih teman yang layak untuk diundang dalam sebuah acara berkonsep intimate wedding? Apa indikator bahwa teman yang A lebih intim daripada teman yang B? Pun, sejauh mana masyarakat kita memahami tentang makna keintiman dalam sebuah relasi persahabatan?

Cristina Miguel dalam bukunya menulis bahwa ada dikotomi pemahaman dalam menjelaskan konsep keintiman. Ada yang berpegang pada konsep konvensional, dimana keintiman itu bersifat eksklusif dan berpegang teguh pada loyalitas serta ikatan (bonding) yang kuat. Bentuk loyalitas dan ikatan ini sering kali berbentuk balas budi agar kelak tak perlu merasa punya utang budi.

Contohnya, teman saya miss X memberi sumbangan sebesar Rp 200 ribu ketika saya menikah, dan memberi kain untuk pengiring pengantin (bridesmaid). Dengan demikian, bila berpegang teguh pada konsep keintiman yang konvensional, saya harus menyumbang uang atau barang yang minimal senilai itu, syukur-syukur lebih mahal. Plus, jangan lupa kain bridesmaid-nya tak boleh ketinggalan.

Baca juga: Rencana Menikah dan Beli Rumah Hingga Batas Waktu yang Belum Ditentukan

Selanjutnya, Miguel juga melihat bahwa ada bentuk baru dalam berpraktik keintiman yang bersifat lebih cair dan longgar. Keintiman yang semacam ini terbentuk ketika seseorang memiliki jaringan relasi pertemanan yang luas alias nggak “lo lagi lo lagi”. Dengan demikian, loyalitas mereka tidak terpusat pada satu sirkel pertemanan saja.

Relasi semacam ini akan membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya jauh lebih mudah memaklumi ketika temannya tidak bisa berbuat ‘sama dengan’ apa yang sudah ia lakukan sebelumnya.

Nah, sebagian besar masyarakat di negeri +62 ini masih memahami makna keintiman dalam kerangka yang konvensional. Ada faktor balas budi yang harus dipertimbangkan ketika menyeleksi teman yang intim/tidak intim untuk diundang ke pesta pernikahan.

Mau dikata ia jarang berkomunikasi dengan kita atau tidak pernah hadir ketika kita sedang di titik terendah dalam hidup, kalau dia sudah lebih dulu memberi kita undangan, maka masyarakat kita sulit memaklumi kalau besok-besok giliran kita yang nikah orang tersebut tidak masuk dalam daftar undangan.

Baca juga: Tren ‘Bridal Shower’: Mulai dari Selempang ‘Belah Duren’ Hingga Hal-hal yang Tak Kita Sadari

Begitu sulit bagi masyarakat kita untuk bersifat cair dan longgar dalam memaklumi keputusan orang lain ketika mengundang atau tidak mengundang kita pada hari bahagianya.

Sulit juga bagi masyarakat kita untuk bisa bersikap biasa saja ketika daftar nama yang sudah diundang ternyata tidak hadir tanpa kabar, tanpa ucapan, apalagi sumbangan.

Semakin sulit lagi bagi masyarakat kita untuk menerima kenyataan bahwa orang yang dulu sudah diberi hadiah atau sumbangan dengan nilai tinggi, ternyata tidak memberi umpan balik yang setara.

Watak semacam ini sebenarnya warisan dari mana sih? Warisan kolonial? feodal? Orba? Atau, malah ketiganya?

Saya dapat memahami bahwa sebagian dari kita pasti memiliki keluarga besar yang jumlahnya tidak sedikit. Gimana mau bikin intimate wedding kalau saudara satu kakek-nenek saja sudah 80-100 orang sendiri? Ngundang keluarga besar saja udah habis bujetnya. Ya kan?

Artikel populer: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Sementara, bagi orang-orang yang mengadopsi konsep intimate wedding, tentunya selain berhemat juga memiliki hasrat ingin berpraktik lebih modern alias non-konvensional. Meskipun, mereka sadar masih hidup dalam semesta yang memahami konsep keintiman sebagai relasi berasaskan balas budi. Praktik tersebut bakal dianggap ora mashook oleh masyarakat kita.

Tapi apapun itu, konvensional atau non-konvensional, intim atau tidak intim atau bahkan intim bingits, adalah pilihan setiap individu. Ada konsekuensinya, sudah pasti. Lagipula, kita rebahan saja tetap ada konsekuensinya kok, apalagi urusan menikah?

Toh, mau dibikin besar-besaran atau kecil-kecilan, mulut kiri-kanan tak akan kehabisan baterai untuk sekadar mencari cela sebagai bahan cibiran obrolan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.