Kursi Presiden dan Klaim Takhta dalam ‘Game of Thrones’

Kursi Presiden dan Klaim Takhta dalam ‘Game of Thrones’

Game of Thrones (HBO)

Pemilu 2019 telah digelar di Indonesia. Parpol-parpol yang berebut suara bagaikan klan-klan yang bertarung dalam cerita Game of Thrones. Dua kubu capres pun berseteru dengan sengit untuk meraih kursi RI 1 bak perebutan Iron Throne.

Hasilnya, menurut quick count, capres 01 Joko Widodo alias Jokowi menang: kemungkinan bisa lanjut dua periode. Sementara, capres 02 Prabowo Subianto mengklaim kemenangan berdasarkan perhitungan internal: sujud syukur dua periode.

Sampai sini, Indonesia seolah-olah akan memiliki dua presiden. Bagaimana bisa? Yah, mungkin Jokowi shift pagi, Prabowo shift malam, hehehe… Dikira negara ini sama kayak Pulau Zou yang jadi tempat tinggalnya Suku Mink di manga One Piece?

FYI, Pulau Zou dipimpin oleh dua raja. Lantaran dua raja ini nggak pernah akur – karena kebetulan mereka adalah anjing dan kucing – serta terus-terusan berantem tiap ketemu, jadilah keduanya sepakat berbagi waktu berkuasa. Raja Anjing berkuasa dari pukul 6 malam sampai pukul 6 pagi, lalu dilanjutkan oleh Raja Kucing.

Baca juga: Jawaban Penggemar Naruto soal Indonesia Rasa Konoha

Kalau untuk jabatan presiden, pembagian shift ini tentu tidak masuk akal. Kalau Jokowi kerjanya dari pukul 7 pagi sampai 7 malam, terus malamnya Prabowo ngapain? Mau blusukan juga paling ke gardu-gardu pos kamling tempat warga ngeronda sambil main gaple. Mau pidato kenegaraan? Belum mulai sambutan, rakyat udah ketiduran.

Duh, punya satu presiden saja kondisinya suka berubah-ubah, gimana ada dua? Bisa-bisa presiden shift pagi menaikkan harga BBM, presiden shift malam menurunkannya. Presiden shift malam menjemput Habib Rizieq, tapi besoknya pergi lagi karena giliran presiden shift pagi.

Urusan klaim takhta juga terjadi di film Game of Thrones, ketika King’s Landing ditinggal Raja Robert Baratheon yang mangkat kesundul babi hutan: para putra mahkota rebutan ingin jadi raja.

Dalam dongeng feodal adaptasi seri novel ‘A Song of Ice and Fire’ karangan George R. R. Martin tersebut, kekuasaan bisa dipindahkan dengan berbagai cara yang jauh dari prinsip demokrasi. Saya pun membayangkan, jika tidak ada pemilu damai di negeri ini, lantas mengikuti cara-cara perebutan takhta dalam cerita Game of Thrones, apa yang bakal terjadi dengan kursi RI 1?

Mari, kita telaah cara-cara perebutan kekuasaan yang disahkan dalam Game of Thrones, yang tahun ini ceritanya memasuki musim terakhir.

Baca juga: Berbagai Versi Akhir Cerita ‘Game of Thrones’ Berdasarkan Kepribadian Penonton

1. Keturunan

Sepeninggal Raja Robert, Iron Throne kosong. Seharusnya Ned Stark sebagai tangan kanan raja bisa naik takhta untuk jadi pelaksana tugas. Sambil menunggu pewaris takhta cukup umur, Plt Raja menjalankan fungsi kerajaan.

Namun, Cersei Lannister terlalu angkuh dengan melantik anak sulungnya menjadi raja baru. Joffrey yang masih remaja labil pun jadi penguasa. Hal ini tetap dibenarkan. Pasalnya, menurut hukum kerajaan, anak raja memanglah jadi pewaris takhta dan sah untuk menggantikan ayahnya yang meninggal dunia.

Yang jadi masalah, Joffrey bukanlah anak kandungnya Robert Baratheon. Joffrey adalah hasil peranakan incest (bukan incess Syahrini, melainkan perkawinan sedarah antara si kembar Cersei dan Jaime).

Ned Stark, sang idealis sontak menolak penobatan raja bocah tersebut, “Jangan hanya karena Joffrey di Kartu Keluarga statusnya sebagai anak Robert, lantas tiba-tiba dinobatkan menjadi raja. Bisa hancur kerajaan ini! Bisa masalah!”

Benar saja, pengangkatan Raja Joffrey jadi masalah. Tepatnya, masalah untuk Ned Stark secara pribadi karena harus kehilangan kepalanya di tangan tukang jagal.

Kalau memakai cara ini, Prabowo dan Jokowi jelas tidak bisa mencalonkan diri menjadi presiden. Sebab, mereka bukan keturunan presiden. Politisi sekaligus ketua umum partai yang bisa jadi capres hanya Megawati Soekarnoputri dan Tommy Soeharto.

Baca juga: Apa yang Penting dan Dipertaruhkan dalam Pemilu 2019?

2. Hukum Agama

Iron Throne pernah diduduki oleh raja boneka, yaitu Raja Tommen. Walaupun statusnya raja, pemegang kekuasaan sejati adalah sang tangan kanan raja yang tak lain adalah mbahnya sendiri, yaitu Tywin Lannister. Begitu Tywin mati di toilet duduk, mamihnya Tommen yang ambil alih kekuasaan, yakni Cersei Lannister.

Sampai akhirnya, Raja Tommen menikah dan otomatis istrinya jadi ratu. Nah, Ibu Suri Cersei takut posisinya tergeser oleh ratu baru. Lalu, ia memainkan strategi kotor untuk menyingkirkan sang ratu. Agar tangannya tetap bersih, Cersei bermain di zona suci, yaitu hukum agama. Dengan membawa isu agama ke dunia politik, Cersei berhasil membuat ratu masuk penjara.

Walaupun King’s Landing punya raja, nyatanya pemegang kekuasaan tertinggi adalah The High Sparrow yang supersuci. Buktinya, raja tidak bisa berbuat banyak saat ratu dipenjara.

Berhubung hukum agama adalah hukum yang tak pandang bulu, ditambah pemimpinnya adalah fanatik agama yang sudah selesai dengan urusan dunia, maka Cersei yang penuh dosa pun mendapatkan ganjarannya. Cersei menyusul masuk penjara sebagai pendosa.

Kalau memakai cara ini, kita bisa langsung call Felix Siauw untuk presentasi tentang ideologinya.

Artikel populer: ‘Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga’ dalam Cerita Anime Naruto

3. Pemberontakan dan Kudeta

Konflik cerita Game of Thrones diawali dengan ‘Robert’s Rebellion’. Lalu, disusul dengan tentara Lannister yang dipimpin Tywin melakukan kudeta terhadap kerajaan. Mad King yang saat itu berkuasa ditusuk dari belakang oleh Jaime Lannister sebagai King Guard. Robert Baratheon sebagai pencetus pemberontakan pun diangkat jadi raja setelah Mad King wafat.

Kini, keturunan Mad King berusaha mengambil alih apa yang seharusnya menjadi haknya. Adalah Daenerys Targaryen yang siap kudeta King’s Landing. Dari sini, kita bisa menarik pelajaran bahwa pemberontakan dan kudeta akan melahirkan pemberontakan dan kudeta di masa depan.

Indonesia pernah memakai cara pemberontakan seperti ini, yaitu peristiwa ’98. Soeharto berhasil dilengserkan. Sebelumnya, menurut beberapa sumber, Soekarno digulingkan dengan cara kudeta. Sementara itu, Gus Dur yang merupakan presiden di awal masa reformasi, juga dijatuhkan.

Jika mengikuti cerita Game of Thrones, Amien Rais yang katanya sebagai ‘Bapak Reformasi’ seharusnya jadi presiden selayaknya ‘Robert’s Rebellion’ yang berakhir dengan Robert Baratheon jadi raja. Hmmm…

Namun, perlu diingat kembali, reformasi adalah periode baru demokrasi. Pilpres adalah cara yang sudah sesuai dengan sistem demokrasi. Jadi, perebutan kekuasaan tidak perlu diselesaikan dengan cara ‘barbar’.

Dewasalah!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.