Kulari ke Pantai dan Pesan Kritis di Balik Itu

Kulari ke Pantai dan Pesan Kritis di Balik Itu

Kulari ke Pantai (Miles Films)

Film Kulari ke Pantai yang digarap Riri Riza di bawah rumah produksi Miles ini laksana hujan, setelah kemarau panjang perfilman layar lebar Indonesia yang mengusung tema cerita anak.

Apresiasi terhadap karya ini tak hanya terletak pada kesederhanaan ide cerita yang lucu dan sarat pesan moral, sehingga mudah dicerna anak-anak, namun juga menyelipkan kritisisme mendalam untuk para orang tua.

Pembacaan situasi dalam film ini mungkin memang diniatkan untuk memperingatkan orang dewasa khususnya usia milenial atas peran pengasuhan hari ini.

Jika penonton cermat, sebenarnya ini bukan sekadar film anak-anak yang mengangkat tema petualangan, melainkan sebuah film lintas usia mengenai refleksi peran pengasuhan masa kini.

Orang tua milenial mana yang tidak mengkiblat pada budaya global, coba? Terlebih, para kelas menengah atas?

Mereka yang merawat karier di ibu kota, memuja budaya global yang disimbolisasi melalui gaya hidup, penampilan, bahasa hingga lingkungan, diam-diam melahirkan anak-anak modern yang tumbuh kembangnya dikontrol oleh internet dan aneka platform narsisnya.

Riri Riza dkk menyindir persoalan itu melalui penggambaran tokoh Happy dan orang tuanya. Sementara upaya kritik terhadap pemujaan corak hidup masyarakat urban dengan segala modernitasnya digambarkan melalui tokoh Sam dan keluarganya.

Kepada anak-anak, film ini seolah hendak mengatakan bahwa betapa noraknya rutinitas meng-update Instastory, berkunjung ke tempat-tempat wisata demi swafoto yang dikoleksi, atau membiasakan diri berbahasa Inggris – sementara kaki berpijak di bumi melayu.

Sindiran ini bahkan diperkuat dengan mengangkat karakter bule. Jika selama ini bule identik dengan corak hidup modern dan borju, film ini justru memperlihatkan karakter yang anti-kemapanan dan menghargai lokalitas budaya.

Upaya yang bagus untuk menawarkan idealitas baru bagi anak-anak tentang makna menjadi keren hari ini.

Kepada para orang tua dan kita semua, film ini mengingatkan bahwa tumbuh kembang para generasi Z begitu mencemaskan. Lingkungannya dikepung oleh industri yang kian berevolusi, menjadi hasrat, tabiat, bahkan mimpi dan kebahagiaan ‘yang sangat personal’ pun turut dikontrol.

Bahwa akan semakin sulit menjadi orang tua pada hari dimana industri telah sedemikian rumit menggunakan citra dan penanda.

Siapa yang mampu menjamin sampai kapan idealisme yang kita miliki mampu bertahan sebelum lapuk tergerus pragmatisme dunia atau habis dimakan usia? Maka, mengasuh anak-anak di usia yang relatif muda mungkin pilihan yang tak begitu buruk, karena setidaknya energi dan idealisme masih memiliki cukup sisa.

Namun, di sisi lain, pengasuhan tak berjalan tanpa sumber materi yang mapan. Bagaimanapun, kita akan melahirkan. Jika harus mengadopsi, bukan berupa anak tuyul, melainkan manusia, sehingga perlu dijamin – selain pemikiran, afeksi, dan kognitifnya – juga kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang tak akan didapat secara cuma-cuma di negara beriklim pasar ini.

Bahkan, untuk kebutuhan non-materil semacam pengetahuan sekalipun memerlukan kapital untuk bisa diakses. Itupun dengan kualitas yang masih jadi perdebatan.

Saya sendiri kelak tak akan rela membiarkan anak-anak saya dididik di sekolah Islam terpadu berideologi partai tertentu, sekolah swasta bentukan korporasi global, atau sekolah publik yang desain kurikulum pendidikan dasarnya berubah sewaktu-waktu menyesuaikan iklim politik praktis dan tak jelas juntrungannya.

Selain persoalan kebutuhan dasar yang aksesnya tak cuma-cuma seperti di beberapa negara penganut sosial demokrasi (sosdem), budaya populer yang menggilas segala keilmuan juga tak karuan banyaknya. Melepas anak-anak kita ke ruang publik pun ibarat melepasnya ke alam liar.

Anak-anak ini akan berinteraksi dan mengenal berbagai hal yang diam-diam membentuk pengalaman dan pemikirannya. Entah akan menjadi si maniak kosmetik atau si maniak game online ke depannya. Entah menjadi dewasa pemuja surplus kapital atau seorang radikal.

Sekalinya anak-anak ini memiliki tokoh pahlawan favorit, ia justru berwujud makhluk-mahkluk imajinatif kreasi Marvel. Tak satupun dari deretan tokoh bangsa yang menggelorakan revolusi di tanah Hindia Belanda melekat dalam pikiran, apalagi sanubari mereka.

Ketika menginjak usia remaja, dimana mereka mulai mengidentifikasi diri dengan bercermin pada sosok idola, referensi mereka adalah selebgram dan youtuber dengan konten endorse-nya.

Adapun para seleb penerima beasiswa pemerintah yang pada mereka disematkan predikat public figure juga tak memberi kontribusi cukup berarti. Hampir mustahil menemukan tulisan-tulisan tentang ulasan persoalan bangsa dari para seleb awardee LPDP bertebaran sebagaimana koleksi selfie di akun Instagram mereka.

Betapa para remaja dan anak-anak kita dilanda krisis di dunia hiburan dan figur publik.

Mungkin ini tampak seperti kecemasan yang lebay, tapi fenomena Bowo si bocah Tik Tok sepadan untuk kecemasan ini. Bukan salah Bowo, tapi salah kita semua yang kurang mempertimbangkan anak-anak sebagai subyek dalam struktur sosial. Kiranya kita perlu lebih memikirkan dunia para generasi Z di tengah arus kapitalisasi hiburan yang semakin tak sehat.

Pelajaran yang setidaknya bisa direfleksi dari ini, bahwa ada hal yang lebih mendasar yang perlu disiapkan sebelum ngana sekalian memutuskan untuk nikah muda. Bukan hanya kemapanan materi, tapi juga kemapanan cara berpikir dan pengetahuan kita dalam mengenali struktur dan kultur sosial.

Untuk memilih jalan pengasuhan secara publik atau privat adalah sama mulianya. Seseorang berhak memilih tidak menikah dan melakukan peran pengasuhan secara publik, begitu juga orang yang memilih melakukan peran pengasuhan di ruang privat.

Masing-masing dari kita memiliki pengalaman hidup dan tumbuh kembang yang berbeda, sehingga berhak memutuskan. Satu-satunya yang sama adalah kita ingin benar-benar menjamin mimpi ideologis kita terwariskan.

Menghendaki atau tidaknya pengasuhan di ruang privat pun bukan perkara feminis atau tidaknya seseorang, bukan perkara kemerdekaan perempuan dari ranah domestik. Tapi, apakah ia memiliki cita-cita ideologis atau tidak.

Seorang yang tak pernah mengkaji feminisme pun bisa jadi memprioritaskan karier pribadi di atas peran pengasuhan, jika prinsip hidupnya berupa akumulasi kapital, jika dunianya adalah pangkat dan jabatan.

Karena mengasuh adalah kerja aktivisme, maka hanya mampu diamalkan oleh mereka yang memegang teguh idealisme.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.