Kucing Aja Kawin Pakai ‘Consent’, Nah kalau Manusia?

Kucing Aja Kawin Pakai ‘Consent’, Nah kalau Manusia?

Ilustrasi (Image by Dimitris Vetsikas from Pixabay)

Sebagai kucing, aku sebetulnya nggak suka ikan asin. Tapi apa daya, stigma manusia lebih kejam daripada ibu tiri. Tiap ada kasus pelecehan yang dilakukan manusia lelaki kepada manusia perempuan, pasti deh alasannya, “Kucing mana mungkin nolak ikan asin?” Jadinya, tiap lewat minta jatah makan di rumah warga, aku dapatnya ikan asin sama nasi melulu. Sedih akutu…

Oh iya, kenalkan. Namaku Dilan, kucing garong komplek Duren. Maap nih kalau ada yang nggak rela namaku sama kayak filmnya Iqbaal. Maklum, sebagai alpha-male di kampung ini, aku pun panglima tempur kayak Dilan di film. Jadinya dikasih nama begitu deh sama Pak RT.

Eniwei, balik ke masalah pelecehan dan kucing-ikan asin tadi. Tempo hari, manusia diributkan dengan pernyataan seorang pejabat di sebuah kampus ternama terkait kasus perkosaan. Katanya, “Ibarat kucing kalau diberi ikan asin, pasti kan setidak-tidaknya akan dicium-cium atau dimakan.”

Lha, memang sih, kucing kalau ketemu ikan asin minimal dicium-cium dulu. Maklum, sebagai karnivora yang butuh protein hewani untuk bertahan hidup, ikan walaupun diasinin tetaplah menggoda. Jadi, wajar dong kalau kucing pas ketemu ikan asin bakal beraksi.

Baca juga: Muallaf Melankolis dan Agama Si Kucing Persia

Bagi kucing sedunia, ikan adalah salah satu komoditas yang berharga. Saking berharganya, kalau ketemu ikan (asin maupun asam manis), langsung diembat. Nolak ikan itu berat, aku nggak kuat. Nggak peduli siang atau malam, sepi atau ramai. Maklum, di dunia yang semakin beradab ini, mencari mangsa di alam semakin susah.

Nah, beda dengan cara manusia memperlakukan komoditas berharganya. Misalkan relasi manusia dengan mobil atau sepeda motor. Manusia yang baik, kalau melihat mobil sendirian di jalanan komplek saat tengah malam, nggak akan mengambilnya begitu saja. Jelas, mengambil sesuatu tanpa izin sama dengan mencuri. Itu dilarang oleh negara, agama, juga mama papa.

Manusia juga tahu bahwa mengambil milik orang lain tanpa kerelaan dari yang punya adalah perbuatan tercela. Misalnya, mengambil paksa sebuah mobil dengan kekerasan atau mengancam pemiliknya. Sekalipun pemiliknya menyerahkan kunci mobil ke kamu, belum tentu dia mau mobilnya dipakai sama kamu. Iya, kan?

Sementara kami, para kucing meong-meong tentu tidak begitu. Ikhlas maupun tidak ikhlas, ikan tetap akan kami ambil dari pemiliknya. Selama ada kesempatan sekalipun dalam kesempitan, ada ikan di depan mata, serbu!

Apalagi, kalau sebelumnya kami sering melihat kucing-kucing lain ikut makan ikan di suatu tempat. Maka, kami berasumsi bahwa ikan di tempat tersebut memang tersedia buat kami makan.

Baca juga: Cintaku Terhalang Seorang Bapak yang Rasis

Tapi, kalau manusia lihat mobil tetangga sering dipakai beramai-ramai, dia nggak akan beranggapan bahwa dia juga punya hak buat pakai mobil itu semaunya. Beda memang, manusia kan makhluk berakal dan beradab.

Tentu perkara ini berbeda dengan masalah gigit-gigit leher antar kucing. Masalah perkawinan kucing ini memang terlihat liar dan patriarkis di mata manusia. Maklum sih, antar sesama jantan kita bisa berantem buat rebutan kucing betina. Terus betinanya juga mesti digigit-gigit lehernya biar bisa dikawinin. Serem? Tunggu dulu, Ferguso. Itu semua hanya tampak permukaannya saja.

Setiap musim kawin, kucing betina yang birahi (biasanya disebut estrus) akan mengirim sinyal kepada para pejantan di seluruh kompleks. Kucing jantan yang mendapat sinyal tersebut akan mendatangi si betina. Ketika jantan yang datang lebih dari satu, maka terjadilah pertarungan adu testosteron dengan suara cempreng yang sudah sering kamu dengar itu.

Primitif? Toxic masculinity? Kok sesama jantan malah berantem, bukannya saling support satu sama lain? Gini loh, manusia. Kenapa kami ‘berantem’ ya karena itulah cara kami berkomunikasi. Minta kawin dengan betina manis yang sedang birahi itu kan nggak bisa dilakukan bersama-sama. Kamu pikir kami bisa bilang, “Eh, bro, gimana nih? Apa biar kita lihat aja nanti si Milea milih siapa di antara kita?” Ya, nggak lah. Emang lingua franca kucing secanggih manusia?

Baca juga: Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Ketika proses perkawinan terjadi pun, kucing jantan dan betina memang tak akan terlihat indah di mata manusia. Sebelum proses gigit-gigit leher yang terkenal itu, si jantan dan betina kejar-kejaran sambil ngeong-ngeong cempreng. Mungkin kamu berkata, “Kawin kawin aja sana!” Tapi percaya lah, itu terjadi demi kebaikan kita semua. Proses itu untuk melihat persetujuan atau consent dari kedua pihak.

Biasanya, si jantan akan mepet ke betina sambil mencoba menggigit lehernya. Kalau si betina berkenan, dia nggak akan berkelit sekalipun pas digigit ngeong-ngeong berisik. Sementara, kalau si betina nggak cucok meong dengan jantan yang mendekati, dia akan menolak pendekatan si jantan. Kalau si jantan terus maksa, nggak jarang si jantan dipukul pakai tangan dan cakarnya, paw! paw! paw!

Hal yang sama juga terjadi pada kucing jantan. Jangan salah, biar terkenal nggak bisa nolak ikan asin, kita kucing jantan juga bisa menolak betina yang birahi ke kita. Biasanya, si betina kalau sudah nafsu sama jantan bakal nungging-nungging ke muka si jantan. Bahasa ilmiahnya adalah lordosis.

Nah, kalau si jantan tergoda, ya mereka bakal kawin. Kalau nggak, ya si jantan cuek aja dan berlalu. Karena yang berat itu menolak ikan asin, bukan betina seksi.

Artikel populer: Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi

Tentu, hal itu terjadi dalam proses perkawinan kucing secara alami. Dalam proses breeding kucing yang dilakukan manusia, perkawinan sering terjadi dengan paksaan. Misalnya, jantan yang birahi dikurung dengan betina (yang belum tentu naksir si jantan), sehingga betina tak ada kesempatan kabur. Atau, si kucing diberi obat-obatan yang membuat mereka birahi dan akhirnya terpaksa kawin.

Sementara, proses perkawinan kucing secara alami cenderung lebih komunikatif, meski tampak nyaring dan kasar. Tapi sekali lagi, memang begitulah cara kucing jantan dan betina berkomunikasi saat musim kawin. Pengen sih, komunikasi kayak manusia biar nggak ribet, misalnya…

“Kamu Milea, ya? Aku ramal nanti kita akan kawin di atas atap.”

“Maaf, Bang Dilan. Adek nggak minat. Meong.”

Kalau begitu kan simpel. Tapi, percaya deh, biar pun perkawinan kucing penuh gigitan beserta geraman dan teriakan betina yang entah keenakan atau kesakitan, perkawinan antar kucing pada dasarnya terjadi atas persetujuan kedua pihak.

Nah, kalau manusia, gimana?

1 COMMENT

  1. Pertanyaan nya adlh ini kah yg di sebut dgn “concern”??? Sampe cocoklogi sama dunia perkucingan gitu?? Gara gara kemarin ada analogi kucing dan ikan asin, si penulis artikel pengen nunjukin klo analogi tersebut salah sambil bilang “ini lho, kucing aja kawin jg pake concern!!!” Apa selanjut nya?? Feminisme diantara dunia perkucingan??

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.