Ilustrasi (Image by Free-Photos from Pixabay)

Rata-rata staf khusus milenial Presiden adalah lulusan universitas luar negeri bergengsi. Di antaranya adalah orang penting di perusahaan rintisan. Sementara, yang lebih sering terdengar dari generasi milenial adalah rintihan. Salah satunya merintih karena uang kuliah kemahalan.

Ditambah, rintihan menjadi generasi sandwich yang harus menghidupi diri sendiri dan membantu orang tua pada saat yang sama. Merintih terhimpit di KRL pada jam berangkat dan pulang kerja demi sesuap nasi dan sebongkah berlian untuk main Mobile Legends.

Berbeda dengan Putri Tanjung yang pernah rugi Rp 800 juta karena bisnis lalu mengurung diri di kamar selama tiga hari, generasi milenial pada tanggal tua bisa minta tolong temannya untuk transfer Rp 10 ribu ke rekening bank supaya bisa tarik saldo Rp 50 ribu di ATM.

Baca juga: Muda Belum Tentu Kaya, Tua Habis Harta: Milenial

Jika anak muda dituntut harus mencapai kesuksesan yang sama dengan para stafsus milenial, rasanya tidak adil. Sebab tidak semua generasi muda memiliki privilese sebagai anak konglomerat yang disekolahkan sampai ke luar negeri. Begitu pulang ke negara asal, langsung dikasih modal oleh orangtua untuk berwirausaha. Sudah begitu, dekat dengan petahana sampai ditunjuk untuk membantu Presiden.

Billy Mambrasar sempat mencantumkan jabatan stafsus setara dengan menteri di profil LinkedIn miliknya. Mungkin karena menteri dan stafsus kerjanya sama-sama membantu Presiden. Memang tidak salah klaim tersebut. Salah kalau disebutkan bahwa stafsus setara dengan mantri. Sebab belum tentu stafsus mampu menangani pasien sunat.

Ternyata ide itu dibuktikan oleh Andi Taufan Garuda Putra sang empunya Amartha Mikro Fintek. Dengan kop Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, Andi Taufan pernah menyurati para camat untuk mendukung relawan Amartha dalam menanggulangi pandemi Covid-19. Di titik itulah, Andi Taufan seakan setara dengan Menteri Desa.

Baca juga: Dear Stafsus Presiden dan Milenial di Seantero Negeri

Selanjutnya, drama Adamas Belva Syah Devara. Netizen yang budiman menyebut pendiri Ruangguru tersebut punya konflik kepentingan. Sebab Skill Academy yang dinaungi Ruangguru mendapatkan proyek Kartu Prakerja.

Istilah yang cocok untuk menggambarkan kondisi ini: ruang guru dulu, ruang buruh kemudian. Sebab Ruangguru yang biasanya mengedukasi anak sekolahan via online, kini melalui Skill Academy menyediakan kursus online untuk para buruh yang jadi korban PHK di tengah pandemi.

Namun, hal itu dibela oleh Kemenko Perekonomian bahwa kualitasnya lebih bagus ketimbang video tutorial di YouTube yang tidak jelas sumbernya. Mungkin mereka lupa jika Presiden Jokowi juga Youtuber.

Stafsus yang disebut-sebut media massa mendapat proyek pemerintahan mengisyaratkan pengaruhnya setara dengan menteri. Mengingatkan kita dengan uang SPP anak sekolah yang bisa bayar pakai GoPay setelah bos Gojek menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Baca juga: Di Balik Toko ‘Online’ Ada Kerja Perempuan yang Terabaikan

Namun, berbeda dengan Nadiem Makarim yang memilih mundur dari jabatan CEO Gojek demi fokus jadi Mendikbud, Belva lebih memilih mundur dari jabatan stafsus supaya fokus jadi CEO Ruangguru. Setelahnya, Andi Taufan juga mundur dari jabatan stafsus. Langkah dua anak muda ini memang sangat milenial. Ciri milenial itu tidak betah di satu pekerjaan.

Mundurnya Belva dan Andi Taufan menyisakan bangku kosong di barisan stafsus milenial. Presiden Jokowi harus segera mencari pengganti mereka. Kalau bisa, cari stafsus yang benar-benar mewakili mayoritas generasi milenial. Bukan mewakili sebuah perusahaan.

Tentunya milenial yang bertindak sebagai agen perubahan, meski kadang suka rebahan.

Artikel populer: Macam-macam Karakter Pacar Berdasarkan Cara Kerja Menteri Hadapi Pandemi

Stafsus milenial Presiden juga harus punya keterampilan mumpuni dalam menulis. Salah satunya menulis surat. Surat cinta dari istana yang dikirimkan untuk pejabat dan rakyat harus lolos koreksi netizen. Jangan sampai ada tata bahasa yang keliru dan penulisan yang tidak sesuai. Nanti, kalau suratnya beredar di media sosial dan direvisi netizen, tidak membuat jurnalis bingung lagi. Cukup Aiman Witjaksono yang kerepotan.

Selayaknya aktivitas surat-menyurat, ada surat keluar, ada surat masuk. Tidak hanya menulis surat untuk mereka yang di luar istana, stafsus juga perlu membaca surat-surat terbuka dari rakyat untuk penguasa. Mampu menyesap intisari dari suara hati rakyat, lalu menyampaikan ide-ide tersebut kepada Presiden.

Akhir kata, dicari pengganti stafsus milenial Presiden yang mampu memberikan manfaat nyata kepada rakyat keseluruhan. Bukan semata golongan, apalagi perusahaan.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini