Ilustrasi anak (Image by Alexas_Fotos from Pixabay)

“Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra-putri sang hidup, yang rindu akan dirinya sendiri,” tulis Kahlil Gibran dalam puisinya yang kesohor; On Children. Sayang sekali, mungkin Gibran keliru atau puisinya tak relevan lagi. Terlebih, jika dihadapkan pada jenis orangtua tertentu, anak-anak bukan semata manusia mungil yang penuh kegembiraan, dia adalah ladang penghasil engagement di media sosial.

Anda boleh tak percaya. Tapi baru-baru ini, seorang anak kecil dipaksa bangun lewat tengah malam untuk merayakan ulang tahunnya yang pertama. Ia disambut oleh sepotong kue tanpa lilin, kamera yang diletakkan di sudut tertentu – dengan jangkauan paling luas, sepasang orang tua dengan kesiapan paling paripurna agar tampil jatmika di hadapan publik, juga jaringan internet yang siap dibutuhkan untuk kepentingan unggahan.

Entah, reaksi apa yang diharapkan dari anak semungil itu, selain derai air mata dan kebingungan yang mencekam.

Baca juga: “Tolong, Saya Hanya Dijadikan Alat Investasi oleh Orang Tua”

Bahwa secara biologis, ia adalah anak kandungnya, itu benar belaka. Saya, dan kita semua, tidak punya hak untuk ikut campur kehidupan orang lain. Tetapi, keadaan yang melulu membuat tertekan adalah, melihat orang bodoh berbahagia. Itu bukan kata saya, lho. Itu nukilan wawancara Zizek oleh Rosanna Greenstreet yang diterbitkan The Guardian edisi 9 Agustus 2008 dengan tajuk “Slavoj Zizek, Short Survey”.

Problemnya adalah, satu kebodohan kekonyolan yang dengan gempita diumbar memiliki potensi untuk menyebar, bahkan menular. Bikin konten, dikritik warganet, memaki “Dasar SJW”, merasa bersalah, minta maaf. Itu siklus berulang, sih.

Tetapi, bisa jadi, itu memang yang dihendaki oleh si orangtua. Mendapat satu spot bahasan dari warganet dan melejitkan engagement rate. Lalu, banyak brand tergiur untuk mengiklankan produk.

Jika kebiasaan ini terus berlanjut, bagi para anak, cara untuk berbakti kepada orang tua memang menjadi jauh lebih mudah; ikhlaskan tubuhmu menjadi konten. Dengan cara seperti itulah kelak, jika mengikuti logika Bro Kokok Dirgantoro, kau bisa menjawab, “Apakah kurang saya berbakti kepada kedua orangtua, sedari kecil sudah dijadikan konten?”, seumpama orangtuamu menanyakan sejenis bakti atau balas budi.

Baca juga: Maaf, Kami Memang Anak-anak yang Tak Bisa Dibanggakan Orangtua

Kita paham Kokok Dirgantoro sedang meracau, tapi dia ada benarnya. Orangtua, yang hidup pada masa dan tempat mana pun, selalu punya rasa pamrih. Mungkin ada yang benar-benar ikhlas dan tulus, tapi jumlahnya jelas tak sebanding dengan yang pertama. Persis seperti kekuatan Liverpool saat bersanding dengan klub semenjana (baca: Emyu), timpang jauh. Eh.

Jika bukan dalam bentuk materi, orangtua bisa menuntutmu dalam bentuk yang paling laten, terselubung. Memenuhi obsesinya menjadikan kita sebagai objek hiburan atau bahan sombong-sombongan dengan tetangga, misalnya.

Saat kecil, saya dipaksa untuk berlatih memahami matematika. Saya selalu mengatakan lebih tertarik membaca serial komik Dragon Ball atau menontonnya di televisi. Kata ibu, matematika itu penting dan bisa membawa hidup kita lebih aman. Dan, beberapa tahun setelah itu, kecakapan tercanggih saya menaklukkan matematika adalah memecahkan rumus dasar penjumlahan. Hidup saya sungguh aman-aman saja.

Baca juga: Bapak Poligami, Ibu Pura-pura Bahagia, Anak Tak Dilibatkan

Seorang kawan di kampung, lain cerita. Ia selalu dijejali dengan ragam cakap Bahasa Inggris. Kami masih kecil saat itu, kelas dua SD. Dia selalu dipaksa menghabiskan sore untuk bertatap muka dengan guru les, alih-alih bergabung bermain layangan dengan kami. Padahal, tidak ada satu pun kegiatan praktis yang memungkinkan Bahasa Inggris berguna pada saat itu. Baik guru, penjaga sekolah, tukang cilok, dan tukang nasi uduk di sekolah paling banter menggunakan Bahasa Indonesia campur Sunda sebagai obrolan.

Kefasihan berbahasa itu hanya berguna bagi ibunya di tukang sayur, untuk obral kesombongan. Saya yakin, jika ia punya lebih banyak waktu bermain layangan, ia punya potensi menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang lari cepat antar benua, atau menjadi seorang astronom karena cukup sering memandang dan menelaah benda-benda langit dan angkasa.

Begitulah para orangtua, ia kadang menyebalkan. Padahal, tidak ada satu pun anak yang bisa memilih untuk dilahirkan atau sebaliknya. Beberapa anak lahir oleh segelintir harapan atau sebagai tameng agar tak kena tanya tetangga dan mertua “Kapan punya anak?”, bahkan tak sedikit yang disebabkan ‘kecelakaan’ – nikah muda atau hamil di luar kendali karena menolak pendidikan seks yang baik. Tetapi, mereka selalu punya dalih untuk membuat kita menanggung beban.

Artikel populer: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Sejak kecil dijadikan bahan meraup retweet, likes, dan comment. Dipamerkan di feeds Instagram. Padahal, dalam tulisan berjudul Parents: Watch Those Social Media Posts di situs American Psychological Association, Mary Alvord PhD, seorang psikolog di Rockville, sudah mengingatkan kita bahwa mengunggah data personal berpotensi menempatkan anak dalam risiko pencurian identitas, atau memungkinkan informasi tersebut berakhir di tangan seseorang yang salah. Ini belum bahas soal hak privasi atau kesepakatan si anak lho, ya.

Jangan mentang-mentang zaman berganti, orangtua membuat kredo baru; semakin banyak anak, semakin banyak konten.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini