Komodifikasi Janda dalam Semangkuk Makanan

Komodifikasi Janda dalam Semangkuk Makanan

Ilustrasi (Maranatha Pizarras via Unsplash)

Status beberapa teman di Facebook berhasil membuat saya jadi kepo. Mereka membicarakan fenomena makanan di sebuah daerah yang dikasih embel-embel janda, berikut pramusaji yang menggunakan kostum unik cenderung mini.

Seorang teman laki-laki yang sudah menginjak usia matang menganggap fenomena itu bisa menghancurkan dan merusak moral. Namun, tidak ada komentar yang nampang di status yang dibuatnya.

Berbeda dengan status teman saya yang perempuan. Ia tampak sangat sebal, terlihat dari statusnya yang menyoal para pramusaji di tempat makan tersebut. Dengan menggunakan dalil agama, dia minta para pramusaji dan pemiliknya yang semuanya janda untuk bertobat.

Diskusi tentang janda ini terus berlanjut dengan komentator ibu-ibu. Mereka menganggap para janda tidak setara dan mulai menghakimi.

Saya pun jadi kepo maksimal. Kalau dilihat dari profil ibu-ibu tersebut, mereka tampaknya bukan janda. Dari percakapan mereka tampak kegelisahan, kekhawatiran, dan kemarahan.

Ya memang sih, kalau melihat foto dan video yang diunggah di Facebook, para janda ini tampak seksi, cantik, dan lucu. Mereka menampilkan kostum dengan beragam karakter. Kadang menemani pelanggan yang makan.

Secara penampilan memang unik. Namun, dengan mengenakan pakaian mini, banyak yang menganggapnya tidak sopan, sehingga tidak pantas digunakan.

Yah, walaupun banyak remaja bahkan ibu-ibu yang juga menggunakan tank top dan rok mini. Toh, selama ini biasa saja. Tak ada yang menegur atau bikin status, kemudian jadi bahan diskusi. Apa karena status janda, lantas ibu-ibu menghardik mereka?

Dalam budaya masyarakat kita, perempuan menjadi makhluk atau kelas kedua, kalau meminjam istilahnya Simone de Beauvoir. Konstruksi gender menjadikan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki tidak seimbang.

Perempuan dianggap menjadi pelengkap. Ada pula yang beranggapan bahwa perempuan hanya sebagai pemanis. Hal itu tidak terlepas dari budaya patriarki yang telah mengakar kuat pada masyarakat kita.

Jika perempuan menjadi the other atau ‘yang lain’ di dalam masyarakat, lalu janda menempati kelas berapa?

Dalam masyarakat yang patriarkis, janda dianggap sebagai ‘makhluk lain’ bahkan oleh perempuan sendiri. Tak jarang mereka menghakimi, bahkan memusuhi janda.

Di negeri ini, menyandang status janda menjadi serba salah. Jadi janda sukses dan cantik dicurigai, kok bisa cantik dan kaya? Jangan-jangan jadi simpanan bos-bos?

Di sisi lain, janda cantik baru ditinggal mati suaminya disebut janda kembang. Terus, kalau sering pergi keluar rumah dibilang kelayapan nggak jelas, padahal bisa jadi kerja menghidupi keluarga.

Janda selalu lekat dengan stigma, termasuk dari kalangan perempuan itu sendiri. Pada dasarnya, perempuan saling bersaing dengan perempuan lain. Hal itu tergambar dari kegelisahan ibu-ibu yang takut suaminya bakal direbut janda yang dianggap cantik nan seksi. Lha, memangnya isi otak laki-laki hanya sekadar tubuh perempuan?

Pandangan itu justru merendahkan harga diri perempuan, dan semakin mempertegas bahwa perempuan hanya dinilai dari fisik atau tubuhnya saja.

Dan, yang juga sangat disesalkan, kadang persaingan ini membuat janda dan perawan saling berhadap-hadapan. Katanya demi menarik perhatian. Persaingan ini bahkan seperti sudah menjadi komoditi.

Janda seolah tidak ingin ‘kalah saing’ dengan para perawan. Begitu juga sebaliknya. Ini menjadi semacam realitas sosial yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Di balik persaingan itu, ada pula bapak-bapak yang ikut dicurigai. Ada juga para lelaki yang dituduh mata keranjang.

Lantas, siapa yang paling bahagia dari itu semua?

Dialah kapitalis, pemodal yang meraup untung dengan melakukan komodifikasi janda. Menggunakan janda sebagai isu, sehingga orang bisa penasaran dan berkunjung ke tempatnya.

Strategi inilah yang menjadikan para janda sebagai korban dari komodifikasi tubuh dan korban bullying. Hal ini sekaligus semakin menguatkan stereotip negatif terhadap janda dalam masyarakat yang patriarkis.

Jadi, apa sebetulnya yang bisa kita petik? Ya tidak lebih dari masyarakat yang gemar bergunjing, dan komodifikasi janda yang ujung-ujungnya melanggengkan stigma.

Duh, susahnya jadi janda.

1 COMMENT

  1. Jadi janda itu serba susah dan disalahkan
    geser sedikit kena keplak, nggak geser juga kena jitak

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.