Kita Tetap Bisa Pakai Makeup dan Skincare Sekaligus Melawan Standarisasi Kecantikan

Kita Tetap Bisa Pakai Makeup dan Skincare Sekaligus Melawan Standarisasi Kecantikan

Ilustrasi (Photo by Cristian Newman on Unsplash)

Makeup dan skincare kamu mungkin sebentar lagi habis, tapi pembahasan mengenai produk yang lekat dengan keseharian ini tak ada habisnya. Selalu ada hal dan tren baru.

Para pemerhati kecantikan pun semakin dimanjakan dengan banyaknya produk lokal maupun impor, dari yang harganya setara sepotong ayam cepat saji sampai ada yang bisa buat DP mobil. Sementara itu, para beauty influencer sering kali hadir dan dijadikan patokan dalam berbagai ulasan produk maupun tutorial.

Tentu saja, ini tidak lepas dari pengaruh tren kecantikan di Korea Selatan, yang kemudian membawa istilah baru dalam industri kecantikan, yaitu K-Beauty.

Sama seperti saudaranya yang duluan go international, yaitu K-Pop melalui musik-musiknya, K-Beauty juga melebarkan sayapnya dan menarik perhatian para pemerhati kecantikan di Eropa dan Amerika. Berkat ketenaran produk dan pemakaian makeup dan skincare-nya, nama Korea Selatan semakin disegani dan menduduki jajaran teratas dalam industri kecantikan dunia.

Lalu, tren yang muncul atas pengaruh K-Beauty ini mengakrabi para pemerhati kecantikan. Mulai dari 10 tahap pemakaian skincare maupun makeup yang membuat wajah bersinar seperti nastar atau istilahnya glowing skin dan glass skin, hingga lipstik ombre yang membuat pemakainya seperti habis makan permen lolipop dengan pewarna berlebihan.

Baca juga: Di Balik Perlawanan ‘Skipcare’ terhadap Rezim 10 Tahap ‘Skincare’

Mudah saja mengenali gaya makeup dan skincare K-Beauty karena sifatnya yang cenderung homogen. Namun, karena sifatnya yang homogen itulah, K-Beauty kemudian mendapat backlash atau reaksi dari para feminis di negaranya sendiri, yaitu Korea Selatan.

Homogenitas dari K-Beauty sebetulnya berkelindan dengan standar kecantikan Korea Selatan yang sebenarnya jauh dari realistis. Tubuh langsing, kulit putih mulus dan licin seakan tidak memiliki pori-pori, wajah kecil dengan rahang berbentuk huruf ‘V’, mata seperti boneka, bibir merona, dan rambut panjang seolah menjadi ‘syarat-syarat’ untuk memenuhi standar kecantikan di Negeri Ginseng tersebut.

Setidaknya, perempuan Korea Selatan dituntut memiliki fitur-fitur tersebut agar bisa diterima oleh masyarakat yang patriarkis. Standar kecantikan ini juga lah yang membuat angka operasi plastik di Korea Selatan menjadi tertinggi di dunia.

Penggunaan makeup bagi perempuan di Korea Selatan seperti sudah wajib hukumnya. Saking wajibnya, perempuan yang tidak memakai makeup ketika keluar rumah sering kali dicap dekil, tidak rapi, dan bahkan dianggap tidak menghargai orang sekitarnya. Hal itu terutama berlaku bagi para perempuan yang bekerja.

Baca juga: Sebelum Kamu Ikut-ikutan Tren 10 Langkah Perawatan Wajah Ala Korea

Di sisi lain, dengan tuntutan standar kecantikan yang menguras kocek, para pekerja perempuan mendapat upah yang lebih rendah dibanding pekerja laki-laki.

Dengan narasi-narasi yang muncul dari K-Beauty itulah, para feminis Korea Selatan mencanangkan gerakan Escape the Corset untuk melawan obsesi standar kecantikan. Hal pertama yang dilawan adalah narasi soal pemakaian makeup.

Berbagai aksi pun muncul untuk menolak pemakaian makeup sebagai atribut wajib bagi kaum perempuan. Aksi mematahkan lipstik menjadi salah satu aksi simbolis yang diadakan untuk mematahkan wacana mengenai makeup di Korea Selatan.

Ada pula beauty influencer lokal yang menghapus makeup-nya di video tutorial yang ia unggah dan menunjukkan wajahnya yang pucat tanpa makeup. Kemudian, ia mengatakan bahwa para perempuan harus berhenti terobsesi dengan penampilan untuk memenuhi standar kecantikan yang tak realistis dan menerima tubuh mereka apa adanya, karena tidak ada yang sempurna.

Banyak aksi simbolis yang secara tidak sadar mengantagoniskan produk makeup. Namun, tidak demikian dengan produk skincare. Tidak ada aksi simbolis seperti pembakaran serum atau aksi membuang toner ke jalanan, misalnya.

Baca juga: Sisi Lain Gerakan ‘No Makeup’, Pengikutnya juga Wajib Tahu

Mengapa banyak perempuan begitu mudahnya melepaskan makeup, tetapi belum bisa melepaskan skincare? Padahal, keduanya merupakan produk yang sama-sama dimiliki oleh kapitalis dengan tujuan yang sama, yaitu standarisasi kecantikan yang bersifat homogen dan tidak realistis.

Hal ini mungkin disebabkan oleh wacana penggunaan skincare itu sendiri yang selalu dihubung-hubungkan dengan self-care atau self-love. Apabila tidak merawat wajah dengan menggunakan skincare, bisa jadi orang tersebut dianggap tidak menyayangi dirinya sendiri.

Padahal, konsep self-care atau self-love itu salah satunya adalah menyayangi kondisi tubuh apa adanya, semisal menerima hadirnya jerawat, bekas jerawat, bahkan kulit keriput.

Adapun alasan utama mengapa orang memakai skincare sebetulnya sesuatu yang natural dan pasti terjadi pada hampir semua orang. Tentu saja, setiap orang berhak mencegah kemunculan jerawat dan keriput.

Namun, sekali lagi, standar kecantikan yang berlaku seolah berusaha menihilkan sesuatu yang natural. Dengan kata lain, orang-orang yang belum bisa melepaskan skincare, secara tidak sadar masih ingin memenuhi standar kecantikan yang diterima oleh masyarakat.

Artikel populer: Girls, Seberapa Menor atau Naturalnya Riasan di Wajahmu, Jangan Mau Diadu!

Hegemoni wacana kecantikan ini memang sangat sulit dihilangkan. Masih banyak orang yang belum bisa menerima kehadiran sesuatu yang dianggap ‘cacat’ dalam sebuah pandangan tentang kesempurnaan. Padahal, sesuatu yang dianggap ‘cacat’ tersebut bukanlah masalah, jika kita tak memandangnya sebagai masalah.

Ini bukan berarti saya mengantagoniskan skincare seperti para feminis di Korea Selatan yang mengantagoniskan make up. Namun, alangkah baiknya apabila gerakan perlawanan terhadap standarisasi kecantikan ini memberikan opsi kepada para perempuan, yang sebetulnya memilih untuk memakai makeup karena memang menyukainya. Para perempuan pun memiliki opsi untuk menggunakan skincare juga karena mereka menyukainya.

Tentu saja, penggunaan produk makeup dan skincare ini diikuti kesadaran penuh dengan tidak termakan iming-iming promosi yang sebagian besar melanggengkan standar kecantikan yang selama ini ada.

Tenang, para perempuan tetap bisa menggunakan skincare sekaligus make up dan secara bersamaan melawan standarisasi kecantikan yang tidak realistis dan patriarkis.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.