Kita Pernah Mesra, Apakah Kemesraan Ini akan Cepat Berlalu?

Kita Pernah Mesra, Apakah Kemesraan Ini akan Cepat Berlalu?

Foto: INASGOC

Seluruh atlet Indonesia di Asian Games 2018 membanggakan. Itu tampaknya sulit untuk dibantah. Mereka, dengan latar belakang yang beragam, mampu mengukir prestasi yang turut mengangkat nama Indonesia. Yah, meski ada saja orang yang masih nyinyir.

Ini bukan urusan mengejar bonus atau karier pribadi, melainkan soal cinta. Cintanya kepada negeri sendiri. Apa itu cinta yang salah? Tentu tidak.

Lagipula, kita tahu, ada atlet Indonesia di cabang olahraga bridge yang faktanya adalah orang terkaya di Indonesia, dan mampu meraih medali perunggu. Memang, apa yang ia kejar?

Mereka, para atlet Indonesia, baik yang menyabet medali atau tidak, mampu mengubah pesimisme sebagian kalangan menjadi parade kemenangan. Menjawab nyinyiran dengan prestasi, kemudian menjadi ikon persatuan. Bukan persatean, seperti yang pernah dikatakan Bung Hatta.

Salah satu momen paling epik terjadi di cabor pencak silat. Selain memborong medali emas, salah satu pesilat Indonesia, Hanifan Yudani Kusumah seolah ‘menampar’ kita dengan aksinya.

Ketika merayakan kemenangan, Hanifan merangkul dan menyatukan Presiden Jokowi dengan Ketua Umum IPSI Prabowo Subianto, yang saat itu ikut menyaksikan pertandingan.

Dengan aksi tak biasa, seolah itu adalah jurus pamungkas dari seorang pesilat tangguh, Jokowi dan Prabowo menjadi tampak seperti orang berpelukan. Ehm..

Media massa dan media sosial pun gempar. Hampir semua netizen takjub melihat momen Jokowi dan Prabowo itu, karena keduanya tengah bersaing menjadi presiden pada 2019. Dan, kita juga tahu, situasi politik belakangan ini memanas oleh pertentangan antar dua kubu.

Giring-menggiring opini, agitasi propaganda, bahkan saling menjatuhkan satu sama lain, menghiasi kehidupan kita sehari-hari, terutama di linimasa media sosial. Dan, tiba-tiba, datang seorang pesilat bernama Hanifan, yang setidaknya mampu mendinginkan sejenak dunia persilatan, eh perpolitikan.

Lantas, mengapa kita semua terbelalak?

Ini bisa diasumsikan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia masih cinta damai. Masih punya harapan bahwa kontestasi politik di negeri ini berlangsung sportif layaknya menang atau kalah dalam olahraga.

Hanifan seolah menjawab kerinduan kita akan hidup berdampingan satu sama lain, apapun latarbelakangnya. Sesuatu yang belakangan mulai langka, bukan?

Bagi kamu yang merasa momen itu menggetarkan hati, berarti kamu adalah salah satu orang yang masih menginginkan kedamaian di negeri ini. Selamat! Tapi, bagi kamu yang masih saja menebar kebencian, tidak ada jalan selamat bagimu.

Hanifan adalah kita, begitu juga dengan para atlet lainnya.

Sebagian netizen bahkan mengungkapkan ketakjubannya dengan cara yang unik. Tak sedikit yang merasa baper. Bahkan, membuat sejenis parodi yang bernuansa satire jenaka.

Semua itu adalah ungkapan rasa yang dulu pernah ada dan sempat menghilang. Seperti perasaan kamu sama dia, eh?

Yup, bagaimanapun, kita pernah mesra. Tapi, apakah kemesraan ini akan berlalu begitu saja? Atau…

Setidaknya, hari ini, semua orang kembali menyadari bahwa kemesraan adalah sesuatu yang indah. Semua pemimpin dan tokoh di negeri ini pasti menyimpan rasa yang sama.

Twitter: @IndoPluralitas

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.