Kita Memang Butuh ‘Garis Lucu’ dalam Beragama

Kita Memang Butuh ‘Garis Lucu’ dalam Beragama

Ilustrasi (Image by Amber Clay from Pixabay)

“Sebuah hari tanpa tertawa adalah hari yang tidak berguna.” – Charlie Chaplin

Suatu ketika, seorang pemimpin agama bertemu dengan seorang nenek. Di hadapan perempuan tua itu, sang pemimpin sempat mengatakan bahwa surga tidak dimasuki oleh orang-orang tua. Sontak si nenek kaget, bergidik membayangkan panasnya api neraka.

Namun, sang pemimpin hanya tersenyum enteng. Dengan mengutip surat Al-Waqi’ah: 35-38, sang pemimpin menjelaskan, mereka yang sudah lanjut usia akan kembali muda saat di surga kelak. Jadi, di surga memang tidak ada yang tua.

Beberapa waktu lalu, Majelis Lucu Ulama Indonesia meminta masyarakat agar tidak bercanda membawa-bawa agama. Hal itu disampaikan oleh Ketua Komisi Dakwah MUI, Cholil Nafis. Anjuran tersebut terkait kasus yang menimpa komedian Andre Taulany. Seperti diketahui, partner Sule dalam program TV itu dilaporkan ke polisi karena dianggap menghina Rasulullah.

Pada paragraf awal, sudah jelas sang pemimpin bercanda dengan membawa-bawa agama, sesuatu yang bisa saja dianggap tidak etis. Agama kok jadi bahan candaan? Tapi, bagaimana jika kelakar tersebut justru datang dari Nabi besar Islam itu sendiri? Ya, sang pemimpin yang dimaksud adalah Muhammad SAW.

Kisah tersebut terdapat dalam Tafsir Al-Mishbah, karya monumental Muhammad Quraish Shihab. Ayah dari Najwa Shihab itu menulis riwayat yang mengisahkan bagaimana sang Nabi bercanda dengan sahabat-sahabatnya.

Pada kesempatan lain, Nu’aiman ibn Rufaah, seorang sahabat yang kerap terlibat berbagai pertempuran bersama Nabi, mendatangi Rasulullah sambil membawa buah-buahan. Ia bermaksud menghadiahi buah tersebut kepada Nabi.

Baca juga: Sebab Humor Adalah Cara Agar Kita Tak Lupa Berpikir

Namun, tak berselang lama, muncul seorang pedagang di hadapan Nabi, hendak menagih bayaran atas buah-buahan tersebut. Sontak, Nabi kaget.

“Bukankah telah kamu hadiahkan buah-buahan ini kepadaku?” tanya Nabi kepada Nu’aiman.

“Benar wahai Nabi, aku sungguh ingin bisa makan buah bersamamu, tapi aku sedang tidak punya duit,” kilah Nu’aiman.

Mendengar ucapan itu, Nabi tertawa dan kemudian membayar buah yang diutangi tadi.

Ini mungkin prank paling kelewatan dan bisa saja dianggap kurang ajar. Bagaimana tidak, korban prank ini bukan pacar yang kalau marah paling-paling hanya didiemin seminggu. Hhmm.. itu juga berat sih, tapi masih mendingan lah dibanding korban prank-nya Nu’aiman. Bayangkan kalau Nabi marah?

Memang, keyakinan terhadap agama selalu identik dengan sesuatu yang serius, tak boleh main-main. Entah kenapa itu terpancar dalam diri fundamentalis agama. Bahwa membuat banyolan terkait agama berarti sama dengan mempermainkannya.

Dalam novel masyhur karya Umberto Eco berjudul The Name of the Rose, penulis asal Italia itu menggambarkan bagaimana tertawa menjadi alasan dari deretan aksi pembunuhan di sebuah gereja kuno.

Jorge, seorang rahib tua menjadi sosok yang begitu anti terhadap tawa. Ia bahkan mengatakan Yesus tak pernah tertawa. Jorge menganggap tawa adalah racun bagi keimanan. Dengan tertawa, seorang penjahat akan merasa diri bak seorang majikan.

Baca juga: Menjadikan Patrick Sebagai Panutan Hidup. Ya, Patrick Star!

“Tawa adalah kelemahan, pengrusakan, ketololan dari daging kita,” ucap Jorge saat bersitegang dengan William. “Tawa membuat penjahat tidak takut kepada iblis,” tukas Jorge yang menyamakan tawa sebagai racun kalajengking.

Atas ketakutannya terhadap tawa itu, Jorge harus menyembunyikan sebuah buku karya Aristoteles yang berjudul Poetics. “Ada banyak buku lain yang berbicara tentang komedi, banyak lainnya memuji tawa. Mengapa yang ini membuatmu amat ketakutan,” tanya William. “Karena itu ditulis oleh seorang filsuf,” jawab Jorge.

Harus diakui, kelakar punya daya ledak tersendiri. Dengan tawa, sebuah pesan bisa merasuk tanpa ada halangan. Sebuah propaganda bisa begitu efektif jika diiringi dengan cekikikan.

Selain itu, komedi bisa menjadi katarsis bagi rakyat jelata. Dengan komedi, mereka bisa bebas menertawakan para pembesar dengan penuh rasa puas. Namun, di sisi lain, komedi juga berperan sebagai sebuah senjata.

Terkadang, kelakar punya daya gedor yang lebih hebat terhadap sebuah tatanan ketimbang orasi yang berbusa-busa. Memang, respons yang diterima saat sebuah komedi tentang ketidakadilan diutarakan hanya berupa tawa, tapi itu justru menempel lebih lama di kepala.

Sebagai contoh adalah bagaimana para komika stand up comedy asal Indonesia timur membawa materi tentang ketimpangan pembangunan. Lewat komedi, isu-isu tentang ketidakadilan yang dirasakan masyarakat di Indonesia timur bisa lebih terdengar.

Baca juga: Filosofi ‘Shazam!’ untuk Kamu yang Merasa Hidup kok Begini Amat

Tulisan ini bukan berarti secara serampangan menjadikan tawa sebagai pembenaran. Dalam situasi tertentu, hal itu bisa membahayakan. Sebut saja dalam tindakan perundungan. Para perundung sering kali bermula dari bercandaan.

Di sini, saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam beragama, kita tak mesti bersungut-sungut. Serius itu perlu, tapi jangan lantas menghindari tawa. Sesuatu yang sering kita temukan akhir-akhir ini.

Namun, kekhawatiran atas keseriusan yang berlebihan terkait urusan agama kini mulai menemukan ‘obatnya’. Itu terlihat dari munculnya berbagai akun di media sosial – khususnya Twitter – yang membawa serta komedi dalam urusan iman.

Misalnya NU Garis Lucu (@NUgarislucu), akun Twitter yang berisi tentang kisah-kisah lucu yang terjadi dalam lingkup Nahdlatul Ulama (NU), organisasi ke-Islaman yang memang punya segudang ulama yang doyan melucu. Muhammadiyah juga tak mau kalah, muncul Muhammadiyah Garis Lucu (@MuhammadiyahGL). Isinya juga sama, hanya saja ini tentang banyolan warga Muhammadiyah.

Lalu, bermunculan juga akun-akun yang lain, seperti Katolik Garis Lucu (@KatolikG), Kristen Protestan Garis Lucu (@ProtestanGL), Hindu Garis Lucu (@GlHindu), Konghucu Garis Lucu (@KonghucuL), hingga GKI Garis Lucu (@GkiGGgan) dan HKBP Garis Lucu (@HkbpLucu).

Munculnya para ‘garis lucu’ ini bisa menjadi oase di tengah kepungan kelompok ‘garis keras’. Ini juga menegaskan bahwa agama, walau itu berkaitan dengan hal prinsip manusia, tetap bisa dipandang dari sisi yang asique.

Artikel populer: Ayah Konghucu, Ibu Islam, Anak Memilih Katolik Meski Jadi Minoritas Itu Berat

Sejujurnya, kemunculan akun-akun beserta para ulama dan kelompok-kelompok maupun pribadi yang asik dalam beragama itu hanyalah representasi dari apa yang sebenarnya sudah ada.

Dalam keseharian, cerita-cerita lucu tentang agama memang sudah berseliweran. Terlebih di daerah-daerah yang punya budaya mop. Di situ, lumrah menemukan sebuah kisah konyol yang tokoh-tokohnya bergelar ustaz maupun pendeta.

Seperti kisah tentang seorang pendeta dan ustaz yang kebetulan bertetangga. Suatu ketika, pendeta meminjam mobil kepada ustaz, karena mobil pendeta sedang diperbaiki. Dipinjamkanlah mobil itu. Namun, setelah beberapa hari, mobilnya tidak dibalikin. Ustaz pun pergi ke rumah pendeta. Di situ, ustaz melihat pendeta sedang mencuci mobilnya. Ustaz pun membawa pulang mobilnya yang telah dicuci.

Sepekan berselang, giliran ustaz yang meminjam mobil ke pendeta. Sama seperti sebelumnya, beberapa hari mobil itu tidak dikembalikan. Pendeta berjalan menuju rumah ustaz, namun sampai di sana ia melihat ustaz sedang memotong knalpot mobilnya.

“Lah, kenapa ko potong sa pu knalpot mobil ini?” tanya pendeta heran.

Sambil berkacak pinggang, ustaz berkata, “Siapa suruh kemarin ko baptis sa punya mobil, makanya sekarang sa sunat ko punya!”

Kalau anjuran MUI tadi diberlakukan, rasanya akan sulit menemukan kisah-kisah seperti di atas. Padahal, yang seperti itulah cara kita beragama selama ini. Luwes dan penuh keceriaan. Serius sih boleh saja, tapi jangan berlebihan. Apalagi, pakai mara-mara.

Kan, kasihan kalau sudah serius-serius, tapi akhirnya ditinggalin juga karena alasan “kamu terlalu baik buat aku”. Eh?

3 COMMENTS

  1. Bos memang agama gak selamanya kaku, keras dan serius, tapi bercanda juga ada aturannya.
    Jangankan dalam hal agama, candaan yang berabau penghinaaan itu sudah melanggar aturan di negara dna masyarakat, apalagi penghinaan terhadap agama yang merupakan keyakinan orang banyak.
    Bercanda boleh asal jangan sampai menghina.
    Yang terpenting konteksnya bukan sekedar asal bisa tertawa.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.