Ilustrasi (Photo by Engin Akyurt from Pexels)

Sudahkah bertanya bagaimana sesungguhnya perasaan ibu kita hari ini?

Bagi yang sudah nonton film Kim Ji-young, Born 1982, mungkin tak akan lupa adegan Ji-young berbicara dengan Mi-sook, sang ibu, kala Ji-young mengalami depresi berat. Atau, perkataan Ji-young pada psikiaternya, “Terkadang aku merasa bahagia. Tapi terkadang aku merasa seperti terkunci di suatu tempat.”

Membicarakan film Kim Ji-young yang mengisahkan seorang perempuan yang mengalami depresi berat setelah menikah dan punya anak, mungkin sudah terlambat. Namun, perkataan Debby – mama Rara – dalam film Imperfect seakan kembali menampar. “Dunia model tidak lagi bisa menerima keadaan mama. Tapi tidak apa-apa demi kalian,” kata Debby seraya memperlihatkan bekas operasi sesar di perutnya.

Dialog yang diucapkan Debby menegaskan bahwa dalam hidup, perempuan (lagi-lagi) akan menemui persimpangan antara dirinya sendiri dan kehidupannya bersama keluarga.

Sementara itu, di film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), ada dialog yang juga bikin mata sembab ketika Aurora berkata, “Yang aku tanyakan itu perasaan ibuk, bukan bapak.” Pernyataan itu terlontar saat Ajeng – sang ibu – menjawab apa arti kebahagiaan dengan lagi-lagi menaruh kebahagiaan orang lain sebagai muara kebahagiaan baginya.

Baca juga: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Perkataan Aurora sederhana, tidak sepuitis dialog-dialog yang ditorehkan pada adegan lain di NKCTHI. Tapi dialog ini menjadi awal dari segala kekuatan yang akhirnya berhasil membangkitkan sang ibu.

Sedikit menarik waktu ke belakang, kita tentu tidak akan melupakan pertengkaran penuh drama antara Nicole dan Charlie dalam film Marriage Story, terutama saat Nicole dengan sekuat tenaga berteriak, “People used to say to me that you were too selfish to be a great artist. I used to defent you. But they’re absolutely right.” Pernyataan itu terlontar saat Nicole akhirnya memutuskan untuk bercerai karena ia pun merasa hidupnya terenggut setelah menikah.

Ibu saya, adalah seorang anak perempuan bungsu kelahiran 1962. Beliau adalah perempuan yang walaupun dua kakak perempuannya tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi, ia tetap kekeuh mengambil double degree sarjana sekaligus. Yah, meski akhirnya hanya bisa lulus di satu perguruan tinggi saja.

Setelahnya, saat hampir semua perempuan di lingkungannya menganggap menikah adalah tujuan hidup yang harus diraih sebelum cap ‘perawan tua’ menggelantungi sepanjang hidup, ibu pergi ke Ibu Kota dan menekuni karier sebagai guru honorer.

Baca juga: Hari Ibu Bukan Ajang Pansos, Maaf, Ini Bukan Kata-kata Manis

Sampai akhirnya, ia bertemu ayah dan memutuskan menikah pada usia 29 tahun. Ketika memutuskan untuk menikah, ia meninggalkan seluruh impiannya dan pergi mengikuti suami dari kota muara impian: Jakarta, ke sebuah desa terpencil di Lombok Barat, NTB.

Meski saat itu dijanjikan menjadi guru tetap bila tak pergi, tapi keputusan telah dibuat, ia memilih pergi. Demi membangun sebuah keluarga, menikah dan membesarkan anak.

Oh, tentunya ini tidak bermaksud menghakimi pilihan perempuan untuk hidupnya. Semua mungkin baik bagi kehidupan masing-masing. Tapi kenyataan bahwa menjadi perempuan, mau tahun 1962-2020 sekalipun, tidak pernah mudah. Tidak pernah bisa berpusat dari apa yang sebenarnya mereka inginkan. Mana jalan yang ingin dipilih? Bahkan, bagaimana perasaan mereka sesungguhnya?

Ibu pernah keceplosan, “Seandainya masih di Jakarta…” Lalu, ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Dulu sekali, saat akan kelulusan SMA, betapa saya ingin segera lulus, kemudian melanjutkan kuliah dan bekerja. Pikirnya saat itu, akan sangat menyenangkan menjadi manusia matang dengan segala keahlian seperti orang dewasa lainnya.

Baca juga: Kelakuan Orang-orang di Negara +62 terhadap Profesi Ibu Rumah Tangga

Kenyataannya, umur hampir menyentuh 26 tahun, that I don’t have any idea about what life is all about. Langsung terlintas dalam pikiran betapa mengerikannya kehidupan ini. Ternyata tidak jauh berbeda dengan 10 tahun lalu. Bisa jadi keadaan tidak akan berubah banyak dalam 10 tahun ke depan, ketika mungkin sudah menikah dan punya anak.

Situasi ini juga bisa jadi sedang dipikirkan oleh banyak orang. Bahwa kenyataannya, tidak pernah ada proses yang jelas bagaimana seorang manusia berubah menjadi dewasa dan matang, selain permasalahan tak berkesudahan dalam hidupnya.

Lalu, dengan segala permasalahan itu, manusia – terutama perempuan – dipaksa memutuskan pilihan-pilihan, tanpa harus dimengerti terlebih dahulu apa yang mereka sebenarnya inginkan dan bagaimana perasaan mereka.

Selama ini, kita hanya tahu bagaimana proses seorang manusia melahirkan manusia lainnya. Namun, bagaimana proses seorang perempuan menjadi ibu? Mereka hanya tiba-tiba dipaksa mengandung selama kurang lebih 9 bulan dan mempertaruhkan nyawanya di meja persalinan. Esok paginya? Entah sanggup tidur atau tidak, ia dipaksa lagi harus sudah menjadi ibu. Atau, kalau mengutip dialog Ibu Dara dalam film Dua Garis Biru: “Seorang perempuan sudah menjadi ibu sejak mereka mengandung.”

Artikel populer: Waktu Bikin Anak Bilang Enak, Setelah Lahir Nyalahin Istri Melulu

Orang bisa saja berasumsi bahwa itu cuma pikiran feminis galau yang sedang mengalami quarter life crisis. Tapi, kenyataan bahwa kehidupan menjadi dewasa bagi perempuan, dengan slogan-slogan luar biasa seperti “Ibu adalah sekolah pertama bagi anak” atau “Memberi pendidikan pada ibu berarti sedang mencerdaskan kehidupan bangsa”, tidak pernah jadi hal yang mudah.

Para ibu mungkin sedang mencerdaskan bangsa, tapi apakah kita pernah bertanya bagaimana kehidupan para pencerdas bangsa ini? Do they have their own life? Jangan-jangan, mereka malah mati-matian mengubur kehidupannya demi memenuhi harapan semua orang.

1 KOMENTAR

  1. tulisan ini sangt mewakili ketakutan2 saya sehingga memilih untuk tidak menikah di usia muda. Masih banyak mimpi saya yg harus terwujud selain menikah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini