Kita Butuh Pengorganisir, Bukan ‘Organizer’

Kita Butuh Pengorganisir, Bukan ‘Organizer’

Ilustrasi (Image by LIMAT MD ARIF from Pixabay)

Tanpa pikir panjang, kala itu saya mengajukan pertemanan kepada seseorang karena menyukai gambar-gambar yang ia potret dan cerita tentang Halmahera. Sejak itu, rasanya begitu yakin bahwa menjumpainya adalah keharusan.

Nah, ramadan kali ini, waktu perjumpaan itu akhirnya tiba. Kami bertemu di Ternate, kota yang menjadi landmark Provinsi Maluku Utara. Namun, anehnya, ia tidak mengenalkan kota ini dengan keseruan jelajah kuliner takjil. Bukan juga dengan mengelilingi spot-spot wisata bahari yang jadi rekomendasi.

Pertama kali jumpa malah diperlihatkan bagaimana praktik bermasyarakat yang telah wajar menjadi laku sehari-hari. Ketika sore itu berjalan menyusuri Pasar Gamalama, ada saja yang membuat langkah terhenti akibat tegur sapa. Lalu, disusul anak-anak yang antusias meneriakinya ketika kami berjalan di kawasan sebelah pasar, konon sedang diadakan proyek pembangunan pasar modern di situ.

Saya mulai sadar dengan siapa saya tengah berkawan. Seorang pengorganisir yang memposisikan diri sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri, bukan sebagai organizer, nama profesi yang disematkan untuk mereka yang aktif membuat program-program di masyarakat.

Sebagai bagian dari masyarakat, pengorganisir bukan hanya memetakan problem sosial, namun menjalin relasi sosial.

Baca juga: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Esoknya jelang buka puasa, saya diajak berkenalan dengan kawanan anak-anak yang tinggal di permukiman sempit belakang pertokoan. Anak-anak yang jumlahnya mungkin hampir dua puluhan tersebut berusia kisaran enam hingga sepuluh tahun.

Anak-anak ini tidak seperti gambaran anak-anak kelas menengah yang melek teknologi, namun terkadang sulit berinteraksi. Anak-anak ini justru supel mengajak ngobrol, bercerita ini-itu, dan sedikit bertanya. Salah satunya berkelakar, “Kakak ini sudah lulus sekolah tapi masih menganggur ya?” Sontak, saya tertawa lepas, karena yang melontarkannya adalah anak-anak.

Sudah tiga tahun lebih anak-anak ini diasuh oleh kawan saya melalui kegiatan sekali sepekan yang dinamainya Literasi Jalanan. Mereka berlatar belakang orangtua buruh informal yang datang dari berbagai pulau.

Sebagaimana desain perkotaan pada umumnya, Ternate juga menjadi tempat peraduan banyak orang mencari penghidupan. Pun, memiliki struktur kelas yang dibagi menjadi tingkatan kepemilikan modal.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Maka, seandainya kota kepulauan kecil yang telah dan sedang mengupayakan reklamasi dimana-mana ini mengalami pembangunan, silakan tebak siapa yang bisa menikmati hasil pembangunan tersebut? Apakah anak-anak di sepanjang permukiman sempit belakang pertokoan? Buruh-buruh rumah makan yang mendapat upah sekali setahun dengan jam kerja lebih lama dari durasi berpuasa?

Atau, para kelas menengah lokal yang mampu mengakses pendidikan tinggi dan memiliki gengsi sosial tinggi? Para kelas menengah Bugis dan Jawa yang mengakumulasi kapital dengan keterampilan seadanya di sini? Investor-investor hotel, mal, serta promotor hiburan dari Jakarta?

Jika apa yang disebut pembangunan menduplikasi modernitas urban yang khas industrial, jadi siapa yang benar-benar bisa menikmatinya? Bukankah di mana-mana pembangunan yang demikian memiliki masalah yang sama? Bukan perkara cepat atau lambatnya, namun siapa yang menikmati dan tersingkirkan.

Rasanya tidak rela membayangkan ke depan pulau indah ini dipaksa menanggung beban infrastruktur yang lebih menguntungkan kalangan tertentu. Belum lagi, kawasan ini rawan bencana.

Baca juga: Belajar dari Aktivis Muda Lingkungan Greta Thunberg

Apa yang dilakukan oleh kawan tadi melalui komunitas anak-anak adalah satu dari banyak upaya menjaga ruang hidup lewat sebaran pengetahuan. Kerja-kerja ideologis yang tak akan selesai ditakar oleh proposal dan laporan proyek.

Padanya, saya bertanya, “Apa nggak ingin kerja di NGO-NGO internasional? Dengan pengalaman advokasi demikian banyak, pasti dapat posisi layak.”

“Ah, saya ingin kembali ke kampung saja,” ujarnya.

Memang terdengar klise. Kerap kali mimpi-mimpi ideologis begini dilontarkan oleh banyak anak muda. Ingin berkontribusi untuk daerahnya, membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Tapi, itu sering kali sebatas bahan ceramah dalam diskusi atau bekal interview lamaran beasiswa.

Oleh kawan saya, perihal itu mewujud secara konsisten dalam tindakan. Semoga terus demikian.

Pertemuan dengannya membuat saya merasa begitu memalukan dalam banyak hal. Saya perlu dibantu oleh teks-teks ideologis untuk sekadar sadar akan posisi kelas, ketertindasan, dan keberpihakan. Keberpihakan yang kemudian hanya jadi bualan-bualan dalam tulisan, jika bukan status media sosial. Padahal, bagaimana bisa hidup bermasyarakat hanya dalam dimensi alfabet?

Artikel populer: Orang Sering Keluhkan Bahan Pangan, Kini Saatnya Anak Petani Bicara

Bagaimana pun, tulisan hanya sebatas medium berkabar. Apa yang ramai di linimasa juga tak selalu mewakili persoalan di sekitar kita.

Tak penting soal hasil pemilu atau Ibu Kota mau pindah ke mana. Harga kopra di sini tetap murah. Masyarakat Halmahera yang terlanjur menggantungkan hidup pada kopra sebagai komoditas, bisa apa?

Di kampung Maribati, Halmahera Barat, ibu-ibu duduk santai di pinggir pantai sepanjang sore. “Mama tidak memasak menyiapkan untuk berbuka puasa kah?” tanya saya pada seorang ibu. “Hehehe… tidak ada yang mau dimasak, nanti makan pisang saja sudah.” Dijawab tanpa raut kesedihan.

Jika Ternate menjadi kawasan urbanisasi, pulau-pulau lain di Maluku Utara seperti Halmahera menjadi kawasan di mana tambang diekstraksi. Laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mencatat setidaknya 22 perusahaan tambang tersebar di Maluku Utara. Wajar, jika kesejahteraan petani kopra tak menjadi perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Kenyataan yang demikian, bagaimana mungkin didapat selama realitas sosial masih dipandang sebatas tagar-tagar di media sosial?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.