Ilustrasi WhatsApp (Photo by Marcos Paulo Prado on Unsplash).

Urusan grup WhatsApp (WA) keluarga memang tidak ada habisnya ya. Dari ngirimin tausyiah pagi, sebar hoaks Covid-19, hingga ngomongin apa saja yang sedang ramai. Belakangan ini soal Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Dari yang awalnya mendadak jadi ahli agama, ahli kesehatan, kini ujug-ujug jadi ahli hukum. Lalu, berspekulasi tentang siapa dalang di balik demo tolak UU Cipta Kerja. Seolah-olah sulit sekali untuk memahami bahwa mereka yang protes pun banyak yang berangkat dari hati nurani.

Apa sulitnya melihat keabsurdan UU Cipta Kerja (Ciptaker)? Entah apa yang merasuki anggota grup WA keluarga yang lebih condong berpihak kepada oligarki.

Memang sih, ada baiknya UU Ciptaker yang kontroversial ini dibahas, tapi kadang banyak anggota keluarga yang kelas pekerja tidak tahu ke mana mereka harus berpihak. Alasannya klise, namun ketika mereka hanya mendengarkan suara dan kepentingan oligarki, rasanya kita kudu bersuara.

Baca juga: Ketika Fasilitas Umum Dirusak saat Demonstrasi

Lantas, bagaimana ketika orangtua, tante, dan om kita juga ikut melontarkan pernyataan yang cenderung memihak oligarki? Apalagi, mereka sudah pensiun dan tidak bekerja lagi. Apa perlu ditanggapi?

Di era yang diklaim sebagai Industri 4.0 ini, mereka tidak sepenuhnya paham bagaimana mencari kerja dengan upah layak itu sulit. Mereka pun tidak tahu rasanya menjadi pekerja yang mudah diganti kapan saja seperti onderdil kendaraan demi memacu mesin-mesin produksi. Bagaimana dengan gaji pas-pasan harus bisa nyicil rumah dan tetap hidup ‘sejahtera’.

Tapi katanya sih, mereka bisa melakukan itu semua. Nyatanya hal itu sulit dilakukan saat ini. Bukannya tidak mau berusaha atau bersyukur, sebab tak sedikit kita mendengar bahwa teman-teman kita harus kerja di berbagai tempat untuk menyukupi kebutuhan sehari-hari. Itu memang salah satu plus minus pekerja lepas, namun bagaimana dengan buruh-buruh pabrik?

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Nasib buruh pabrik terutama buruh garmen tak seindah dua tahun kerja terus jadi karyawan tetap. Pada kenyataannya sistem kerja kontrak hanya mempekerjakan mereka selama tiga bulan, kemudian merumahkannya selama sebulan. Ia akan dipekerjakan kembali setelah satu bulan di rumah. Dengan sistem kontrak seperti itu, buruh tidak akan pernah menjadi karyawan tetap.

Sistem kontrak ini tentu bukanlah kondisi ideal untuk hidup layak, terutama di tengah pandemi ketika banyak orang kehilangan pekerjaan. Semestinya sistem kontrak tak pernah ada, karena menciptakan kemiskinan dan memarginalkan hak-hak buruh untuk dapat hidup layak.

Tentunya agak sulit membicarakan tentang pengalaman buruh, jika tidak mendengarkan langsung dari buruhnya sendiri, kemudian berusaha mati-matian menjelaskan kepada anggota keluarga yang lebih tua. Mereka akan kesulitan memahami, jika mereka tak memiliki cukup perspektif.

Baca juga: Bagaimana Kalau Keluarga Kita Sendiri yang Intoleran?

Karena generasi orangtua kita dibesarkan dengan sistem yang sangat feodal dan terbiasa dengan berbagai bentuk pembungkaman, maka ia akan cenderung bebal ketika kita berusaha untuk mengedukasi. Mereka malah akan menormalisasi bentuk represi dan pembungkaman.

Tentu tidak semua orangtua seperti itu. Jika ada orangtua yang paham hukum dan bagaimana cacatnya prosedur pengesahan UU Ciptaker, maka ia tidak akan meneruskan prasangka siapa dalang di balik demo. Ia akan paham bahwa UU ini memang tidak berpihak kepada rakyat.

Lantas, bagaimana mengedukasi orangtua? Hmmm… tidak ada cara sempurna untuk mengedukasi mereka. Namun yang pasti, jangan sampai pendapat mereka di grup WA keluarga membuat kita mengurungkan niat untuk aksi daring atau turun ke jalan.

Pendapat mereka tidak berpengaruh karena tidak menjalani hidup seperti kita. Kelak, kita lah yang akan berurusan dengan bos-bos eksploitatif. UU Ketenagakerjaan yang diterapkan selama ini saja tidak menjamin hidup layak.

Artikel populer: Octopus Law dan Demo di Bikini Bottom

Jadi, ada kalanya pendapat di grup WA keluarga tak perlu kita tanggapi. Simpan energi untuk protes ke pemerintah dan DPR daripada beradu pendapat dengan paman, misalnya. Toh, mereka sudah banyak yang pensiun, bahkan tak pernah sedikit pun bergaul di luar kelompoknya.

Jika dia memang ahli, dia tidak akan capek-capek berdebat dan mengirim pesan absurd lainnya. Ia akan turun ke jalan bersama rakyat atau aksi via daring. Atau, setidaknya duduk bercengkerama minum kopi sambil mendengarkan langsung cerita buruh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini