Kisi-kisi Menjawab Pertanyaan Sulit dalam Debat Capres-Cawapres

Kisi-kisi Menjawab Pertanyaan Sulit dalam Debat Capres-Cawapres

Ilustrasi (Geralt via Pixabay)

Debat antar pasangan capres-cawapres jelas merupakan momen yang ditunggu-tunggu. Kapan lagi kita bisa menyaksikan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengadu visi dalam forum resmi?

Bukan apa-apa, selama ini kita sudah gerah, kesal, dan terkadang muak menyaksikan adu bacot antar pendukung kedua paslon. Dengan adanya debat, setidaknya kita bisa menilai sejauh mana visi dan misi setiap kandidat.

Kita tentu bisa meraba dan menerawang konsep kepemimpinan kedua pasangan. Sejauh ini, Jokowi kerap bicara dengan retorika harapan, misalnya dengan membangun infrastruktur, perbaikan mutu birokrasi, dan ekonomi. Sementara Prabowo dengan retorika ketakutan. Mulai dari Indonesia yang berpotensi bubar pada 2030 hingga negara bisa punah kalau dia kalah.

Semuanya sah-sah saja dalam usaha meraih suara. Tapi apa iya akan manjur dalam debat?

Baca juga: Jokowi Vs Prabowo, Siapa yang bakal Menang?

Sebelumnya soal debat ini, sudah ramai tentang kisi-kisi pertanyaan. Konon, ada yang minta untuk dipelajari. Ini aneh. Jika debat adalah ujian, maka ujian yang pertanyaannya sudah dikasih tahu semestinya tak layak diselenggarakan.

Tapi… tapi… Bukan Indonesia namanya kalau nggak aneh? Bukan apa-apa, wong kita kerap meributkan hal-hal sepele daripada substansi. Tempe bentuk saset, ribut. Padahal yang krusial soal komoditas kedelai di Indonesia. Lalu, ada berita tarif prostitusi Rp 80 juta, heboh. Padahal ada yang namanya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Mari kita kembali fokus soal debat.

Kepada tim pemenangan kedua paslon sebaiknya fokus pada hal-hal yang dianggap lemah. Misalnya, isu HAM. Lho, kok hak asasi manusia? Memang Pak Jokowi punya masalah HAM? Bukannya selama ini hanya Pak Prabowo yang disebut-sebut?

Gini gaes… Pak Jokowi mungkin tidak diduga menculik aktivis, tapi ingat bahwa selama beliau berkuasa ada banyak sekali indikasi pelanggaran HAM. Mulai dari pembunuhan di Paniai, Papua hingga berbagai konflik agraria di Jawa.

Baca juga: Begini yang Seharusnya Dilakukan Kubu Jokowi Agar Orang Tidak Golput

Jadi gimana dong? Gampang, tenang saja. Kalau Pak Jokowi ditanya bagaimana mengatasi pelanggaran HAM yang terjadi saat konflik agraria, beliau bisa menjawab, “Saya tidak tahu, bukan urusan saya.” Aman toh?

Ingat, beliau pernah mengatakan hal yang senada. Apakah publik menuntut penjelasan? Apakah kita marah? Kan tidak semua. Jadi jawaban semacam itu bisa digunakan.

Begitu juga Pak Prabowo. Jika ditanya soal kasus pelanggaran HAM masa lalu, beliau boleh juga menjawab, “Daripada negara bubar?” Nah, bubar karena apa kan nggak ditanya, yang penting kelihatan nasionalis dan patriot.

Kemudian, pertanyaan lain misalnya tentang sumber daya alam dan lingkungan hidup. Ini mungkin untuk debat pada sesi yang lain. Meski saya ragu ini akan muncul, tapi ya perlu waspada.

Baca juga: Eksperimen Sederhana tentang Politik di Kalangan Milenial, Apa Reaksi Mereka?

Jika Pak Jokowi ditanya bagaimana melindungi hutan dan alam? Beliau bisa meminjam sesuatu yang esensi dari jawaban Pak Luhut ketika berbicara di hadapan pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki). “Kalau ada yang menghambat perkembangan industri sawit nasional, kita buldoser saja.” Tegas, jelas, komitmennya pada investor.

Sementara, untuk Pak Prabowo, cukup dijawab dengan bukti bahwa wakilnya, yaitu Pak Sandiaga, punya komitmen melindungi alam dengan pembangunan tambang di Banyuwangi. Jelas dan praktis, nggak pakai retorika.

Lantas, bagaimana dengan penegakan hukum dan keadilan? Nah ini, sebaiknya kedua paslon abstain saja. Soalnya rada susah. Mending jawab dengan hal yang lain.

Pak Jokowi bisa ngomong, “Kenapa nggak bahas jalan saja? Saya kan sudah bangun jalan tol, infrastruktur, banyak.” Jadi, fokes saja pada hal-hal yang bisa bikin kita tambah kece.

Kalau Pak Prabowo, jawablah dengan tenang. “Soal penegakan hukum, ya biar kayak gini saya pernah disidang DKP, beda ya sama jenderal sebelah.” Telak dan sangat bijak.

Artikel populer: Bincang-bincang Maha Asyik dengan Kubu Dildo Biar Netizen Mcqueen Yaqueen

Sementara itu, untuk tema-tema lainnya, saya ragu jadi prioritas. Misalnya, isu perlindungan terhadap perempuan dan anak, jaminan hak buruh, petani, dan sejenisnya.

Bukan apa-apa, sekarang harga bawang dan cabe lagi murah. Netijen yang biasanya galak, kalau cabe lagi murah pada nggak peduli sama nasib petani cabe yang panennya menjadi tidak berharga.

Kan kalau nggak ngetren ngapain dibahas? Nanti saja kalau harganya sudah nggak masuk akal, baru bikin satgas. Sekarang fokus pada hal-hal yang bikin kelihatan pinter saja.

Nah, terakhir. Sebagai penutup biar greget, kita perlu mengajak mereka yang masih golput untuk memilih. Kalau alasannya milih satu dari yang paling buruk, kan salah. Pak Jokowi dan Pak Prabowo sama-sama baik.

Untuk itu, wahai sodara-sodari, mari kita lihat siapa yang performanya paling baik. Tapi Pak, kalau belum nemu juga siapa yang harus dipilih karena sama-sama baik, harus nyoblos dua-duanya dong? Yah, apapun keputusannya ada di tangan Anda.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.