Ilustrasi (Image by Horst Tinnes from Pixabay)

Resesi? Tenang, jangan dulu depresi.

Akhir-akhir ini istilah resesi mencuat lagi. Ibarat grup musik yang pamornya sedang naik, ia tak pernah luput dari pemberitaan media setiap hari. Melaporkan bahwa ia sedang tur keliling dunia – siap menghampiri sejumlah negara. Bahkan, namanya disebut-sebut jauh sebelum kedatangannya. Bedanya, kalau grup musik tersohor dipuja-puji sepenuh hati, resesi justru dihindari.

Sebenarnya apa sih resesi? Sederhananya begini. Resesi itu seperti rem yang ditarik pada kendaraan yang tengah melaju. Menghasilkan bunyi berdecit dan menahan putaran roda ekonomi. Bak slow motion, aktivitas ekonomi jadi melambat atau bahkan berhenti sementara. Resesi ditandai oleh penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam dua kuartal berturut-turut.

Gimana, bingung nggak? Kiri apa kanan sih? Ih, dasar kapitalis!

Nyatanya ekonomi menjadi lesu gara-gara pandemi Covid-19. Namun, Indonesia belum resmi disebut resesi. Meski begitu, taburan fakta yang ada mengarah kuat ke sana. Resesi seolah-olah sedang berkata di hadapan kita semua, “Ready or not, I am coming for you!”

Baca juga: Semakin Terasing Gara-gara Pandemi, Apa yang Bisa Kita Sadari?

Eitss… jangan panik. Tapi tentu tidak ada salahnya kita menyiapkan diri. Bukan cuma ujian di sekolah atau kampus aja kok yang punya kisi-kisi, menghadapi pandemi dan resesi juga ada kisi-kisinya. Mari kita simak.

1. Cash is King

Di tengah kondisi ekonomi yang serba tak menentu, memiliki dana darurat adalah prioritas. Istilah gaulnya, saat ini cash is king. Saatnya kita belajar lebih bijak dalam mengelola pengeluaran. Pangkas hal-hal yang tidak memberi manfaat langsung dan signifikan terhadap hidup kita.

Kalau menurut petuah Eyang Titiek Puspa, “Bang bing bung, yok kita nabung. Tang ting tung hey, jangan dihitung. Tau tau nanti kita dapat untung.”

Tapi itu doeloe…

Hari gini nabung mana untung? Namun, setidaknya kita siap uang cash, kalau memang ada. Itulah mengapa kalau kamu-kamu kelas menengah yang budiman mau cuan masuk ke kisi-kisi selanjutnya.

Baca juga: Perempuan Miskin Paling Menderita selama Pandemi

2. Berinvestasi

Semisal, memang terjadi resesi. Masa-masa resesi justru merupakan waktu yang tepat untuk berinvestasi. Lho, bukankah para pemodal justru melepas portofolionya saat resesi? Itu pemodal kelas kakap. Setelah puas mengeruk keuntungan, lalu pergi begitu saja, cihh… Tapi kalau kayak kita yang receh-receh begini justru momen yang pas. Sebab harga produk atau instrumen investasi bakal diskon besar, alias terjangkau dengan dana terbatas.

Jenis investasinya mesti disesuaikan dengan tingkat risiko yang kira-kira cocok dengan profilmu. Ada reksa dana, saham, emas, valas, hingga surat berharga negara (SBN). Semisal SBN, dengan kata lain kita meminjamkan uang kepada negara, lalu kita dikasih bunga. Kasih deh, daripada negara ngutang melulu ke asing?

Tentunya, setelah perlambatan ini, ekonomi akan kembali bergulir kencang. Memang betul, ekonomi bisa bangkit, orang mati tidak!

Baca juga: “Generasi Sandwich Baru” kala Pandemi dan Strateginya Agar Tak Jatuh Miskin

3. Gunakan produk dalam negeri

Resesi bisa memicu pemutusan hubungan kerja (PHK), karena banyak kegiatan usaha yang tutup atau efisiensi besar-besaran. Sebab itu, kita bisa membantunya dengan cara membeli dan menggunakan produk-produk dalam negeri. Termasuk, produk-produk usaha rakyat kecil – istilahnya rakyat bantu rakyat.

Iya tahu, daya beli masyarakat pasti melemah saat resesi. Tapi, bukankah yang lemah kalau bersatu tak bisa dikalahkan?

Seperti yang disebutkan Menteri Keuangan Sri Mulyani, konsumsi rumah tangga berkontribusi 57,9% terhadap total PDB Indonesia. Dengan membelanjakan rupiah kita untuk produk-produk dalam negeri, termasuk membeli barang-barang kebutuhan di warung tetangga, misalnya, kita ikut bergotong-royong mendorong pergerakan roda perekonomian nasional.

4. Belajar skill baru

Selama di rumah saja, kita bisa menciptakan ruang untuk belajar hal-hal baru, hobi baru, atau bahkan pekerjaan sampingan baru. Bisa jadi hobi dan keterampilan baru itu malah mendatangkan uang ke depannya. Tapi setidaknya, kita sudah meng-update diri sendiri. Jadi bukan cuma aplikasi atau status saja, diri kita juga perlu di-update.

Artikel populer: Yang Luput dalam Ekonomi, Dampaknya ke Para Istri

5. Memiliki support group

Manusia adalah makhluk sosial. Selain persiapan keuangan yang mantap, komunitas yang solid dan kompak juga penting. Komunitas kecil ini dapat bertindak sebagai pilar yang dapat menopang satu sama lain. Tak menutup kemungkinan, kelompok-kelompok kecil ini malah mampu menyalurkan bantuan dalam skala kecil di lingkungan masing-masing.

Kelompok ini juga bisa menjadi tempat berbagi waktu, cerita, hingga makanan saat menghadapi keadaan ekonomi yang (semoga tidak) semakin muram. Siapa tahu nemu pasangan hidup juga, eh gimana?

6. Menjaga kesehatan

Ini poin terakhir sekaligus paling penting, yakni menjaga kesehatan fisik maupun mental. Jika tidak, bisa ambyar semuanya.

Semoga kita sehat-sehat dan selamat dari situasi ini. Resesi adalah situasi yang kerap terjadi dalam siklus ekonomi. Apalagi, biang keroknya adalah pandemi. Tapi seperti meniti jembatan kayu, resesi bisa membuat kita belajar lebih fokus dan meninggalkan hal-hal yang tidak terlalu kita butuhkan. Ini bisa menjadi kesempatan tersendiri.

Sebab resesi bukanlah momok yang mesti begitu ditakuti, tapi butuh disikapi dengan lebih bijak dan penuh motivasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini