Ada Kita di Balik Kemesraan Kim Jong-un dan Moon Jae-in

Ada Kita di Balik Kemesraan Kim Jong-un dan Moon Jae-in

Kim Jong-un dan Moon Jae-in (Korea Summit Press Pool)

Pertemuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in adalah peristiwa bersejarah. Setelah sekian lama pisah ranjang, kini kedua negara itu… ya tetep pisah ranjang. Yang satu di utara, yang satu di selatan. Tapi udah damai.

Kalau kamu penggemar film Korea, seharusnya kamu menangys bahagia melihat kemesraan Kim dan Moon. Setidaknya para artis K-Pop dan Drama Korea alias Drakor nggak perlu ikut wamil lagi. Kembali menghiasi hari-harimu, biar nggak cuma urusan 2019 mau ganti kaos atau kalender.

Yaelah, Kim sama Moon udah gandeng-gandengan pegangan tangan, keleus… Lha, kamu pegang-pegang apa? Kaos?

Tapi… tapi… itu kan butuh waktu lama, 65 tahun lho setelah Perang Korea. Ya betul, kamu mau menunggu sampai beratus-ratus, bahkan beribu-ribu purnama kayak gitu? Saya sama Rangga sih nggak mau, nggak tahu kalau Cinta.

Coba deh lihat foto-foto wajah cerah dan senyum sumringah Kim Jong-un dan Moon Jae-in. Pakai acara peluk-pelukan lagi. Kalau kamu peluu… ah sudahlah.

Tentunya, sikap Kim Jong-un itu kontras sekali. Selama ini, siapa yang tak tahu tipikal kepemimpinan Kim Jong-un? Meski demikian, setidaknya ia terlihat santun dalam bernegosiasi. Di sini ada juga yang begitu, santun dalam bernegosiasi. Tapi minta syarat penghentian kasus. Oh tidak bisa…

Terlepas dari kesepakatan-kesepakatan politik apa antara Korut dan Korsel, saya pikir ada beberapa poin nggak penting yang patut dicermati. Biar nggak cuma sekadar membagikan tautan atau screenshot kemesraan kedua petinggi semenanjung Korea tersebut.

Lucunya, maksud hati biar dibilang berwawasan internesyenel, tapi apa daya fotonya ketuker bosque… Itu foto Kim Jong-un dan Xi Jinping, bukan Moon Jae-in. Giliran bener Moon Jae-in, tapi sama Donald Trump. Hadeuh…

Untungnya bukan sama Pak Amien Rais.

Tentu karena ini Voxpop, Bung dan Nona, sehingga makna-makna ‘di luar dugaan’ dari KTT Korea tersebut merupakan ihwal penting bagi kita semua. Ternyata, kemesraan Kim Jong-un dan Moon Jae-in terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pertama, bagi para pejuang mantan, kemesraan antara Kim dan Moon adalah inspirasi, kalau tidak mau dibilang modus untuk baikan.

Sejak berpisah, Korut dan Korsel larut dalam perang urat syaraf, saling panas-memanasi. Proyek nuklir Korut menjadi salah satu yang tersengit dengan lontaran berbagai ancaman yang tak hanya meresahkan Korsel, tapi juga Amerika Serikat dan dunia.

Sama seperti mereka yang berpisah, sempat saling panas-memanasi, perang kode-kodean, dan tak jarang membuat, ehm, resah sang gebetan atau pasangan sang mantan.

Namun, ketika media-media memberitakan bahwa upaya denuklirisasi Semenanjung Korea jadi salah satu agenda utama pertemuan Kim dan Moon, semua pihak sangat menyambut baik. Inilah adalah babak baru dari perdamaian sama mantan, eh dunia.

Ini mungkin bisa juga menjadi inspirasi untuk memproduksi FTV yang bikin termehek-mehek itu. Judulnya: ‘Mantanku Adalah Mantanku dan Mantanmu’ atau ‘Tetanggaku Adalah Mantan Pacar Mantanku’ atau ‘Mantan Jadi Pacar, Pacar Jadi Mantan’.

Makanya, buat kamu yang masih sayang mantan menebar kebencian sama mantan, terutama di media sosial, sebaiknya berhenti dengan kekonyolan itu.

Apa jadinya kalau dulu pernah mesra dan sama-sama maju di pilpres, tapi sekarang berhadap-hadapan dan terpecah kubu-kubuan, lalu kasih kode mau baikan, bahkan balikan? Kalau beneran, gimana?

Modyar ente!

Nah, ini menjadi poin kedua. Nggak cuma sekadar baikan, tapi balikan. Memang betul, pertemuan Korut dan Korsel bukan untuk menggabungkan diri menjadi satu negara, melainkan membina hubungan baik yang sempat retak beratus-beratus purnama dan gerhana.

Tapi bagi para pejuang mantan, kalau bisa balikan setelah baikan, kenapa tidak? Sama seperti Korut dan Korsel yang dulu senasib-sepenanggungan dan satu wilayah, para pejuang mantan ini juga dulu pernah mesra dan satu atap, eh? Apalagi dulu berpisah pas lagi sayang-sayangnya…

Sekarang kita masuk poin ketiga. Poin ini lebih penting karena menyangkut bangsa dan negara kita, terutama dari ancaman bubar pada 2030, aih gokil!

Dulu, Korea terpisah menjadi dua karena adanya kepentingan politik global yang bergulat hebat setelah Perang Dunia II. Dua kekuatan besar itu adalah Amerika Serikat dan Uni Sovyet (sebelum cerai), yang masing-masing membekingi duo Korea.

Sekarang, kita pun sama meski tak sepenuhnya mirip. Tahun ini dan tahun depan adalah tahun politik, suhu politik memanas antar dua kubu – kalau memang tidak ada poros ketiga.

Bangsa ini ikut ‘terbelah’ akibat ulah para politisi. Pihak yang satu ingin mempertahankan kekuasaan, yang satunya lagi ingin merebutnya. Apakah ini yang namanya pesta demokrasi?

Mirisnya, figur-figur yang seharusnya tampil sebagai pengayom bangsa dan negara malah ikut-ikutan ngegas memperkeruh situasi.

Dari kacamata Antonio Gramsci, apa yang sedang kita rasakan dan alami merupakan bentuk hegemoni dari segelintir pihak sebagai aktor intelektual yang punya kepentingan terselubung. Barangkali mereka juga sebetulnya tak peduli sama sekali dengan hidup kamu.

Camkan!

Santai ajalah, gaes… Jaga selalu kewarasan berpikir dan jangan mudah terpancing emosi oleh hasutan pihak manapun, termasuk mantanmu. Kamu tidak akan kuat, biar para politisi saja.

Salam Drakor, menangys

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.