Kiat Menghadapi Orang-orang yang Tak Percaya Media

Kiat Menghadapi Orang-orang yang Tak Percaya Media

Ilustrasi (Alexandra via Pixabay)

Dalam bukunya berjudul How to Win Friends and Influence People, Dale Carnegie pernah bercerita pengalamannya bertemu seorang true believer; orang yang percaya dia selalu benar, sementara orang lain selalu salah. Kisah ini saya ketahui melalui buku Aleppo karya mendiang Rusdi Mathari.

Pada suatu malam, ketika tengah makan bersama, seseorang berbicara di depan Carnegie. Orang itu bilang, “Ada suatu kekuatan yang mahatinggi yang menetapkan nasib hidup kita, sekalipun kita tak memedulikannya.” Orang itu bilang, kalimat tersebut dia kutip dari Injil.

Carnegie tersedak kala mendengar pernyataan itu. Karena sepengetahuannya, kalimat tersebut datangnya dari William Shakespeare, sastrawan kondang.

Carnegie kemudian berusaha mengoreksi pendapat si orang itu dan terjadi perdebatan. Di sebelah Carnegie, ada Frank Gammond. Orang ini adalah teman lama Carnegie yang bertahun-tahun mengagumi karya Shakespeare.

Menariknya, Gammond malah bilang bahwa Carnegie salah. Orang yang berdebat dengan Carnegie merasa menang, dan Carnegie pulang dengan rasa marah karena merasa Gammond telah menipunya.

“Bukankah kau tahu, kutipan itu berasal dari Shakespeare?” tanya Carnegie saat berjalan pulang.

“Tentu saja. Hamlet bagian kelima, babak kedua. Tapi ingat, tak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak tahu. Orang-orang yang tidak mau tahu. Orang-orang yang tidak mau mengalah. Orang-orang yang hanya meyakini pendapat mereka yang paling benar. Mereka tidak butuh pendapatmu,” jawab Gammond dengan tenang.

Pengalaman Carnegie ini jelas sangat akrab dengan keseharian kita. Dalam konteks berselancar di dunia maya, kita akan selalu menemui mereka yang merasa lebih tahu dari pemberitaan di media arus utama (mainstream). Mereka menganggap, media tak lebih daripada corong kepalsuan.

Baca juga: Seberapa Banyak Beli Buku, Ujung-ujungnya Tidak Dibaca

Oke, media arus utama juga perlu bercermin dalam urusan ini. Beberapa pemilik media besar di Indonesia kebetulan orang-orang yang juga terjun ke dunia politik. Alhasil, pemberitaan bias – yang melebih-lebihkan satu pihak dan mengurang-ngurangi pihak lainnya – terpaksa dilakukan pekerja media. Itu seolah-olah menjadi praktik yang “lumrah”.

Selain itu, jurnalis yang malas verifikasi juga menjadi salah satu problem lainnya, terutama di media digital. Satu media digital yang idealismenya adalah klik, misalnya, bisa memuat satu berita lebih cepat daripada media-media lainnya karena turut memuat konten dari media sosial.

Namun, alih-alih memilih media dengan kredibilitas yang tak diragukan atau memberikan kritik, para pembenci media memilih jalan pintas. Mereka malah membaca dan mempercayai posting-an di internet dan tanpa sadar menjadi satu dari 65% masyarakat Indonesia, sebagaimana hasil riset Kemkominfo, yang mudah terpapar kebohongan di internet.

Mereka akan komentar “1” pada posting-an perempuan mandi di suatu fanpage, dengan harapan airnya akan betulan surut. Atau, komentar “amin” pada postingan tak jelas di Facebook. Lalu, cepat marah gara-gara screenshot judul artikel di ragam media (hanya membaca judul) dan membaca isi pamflet palsu yang dipasang logo resmi institusi negara.

Mereka juga langsung sebal dengan video yang katanya menggambarkan peristiwa di sekitar kita, tapi rupanya terjadi di luar negeri. Atau, memang terjadi di situ, tapi kejadiannya sudah beberapa tahun silam. Dan, celakanya, mereka menyebarkan itu kepada orang lain, sehingga menciptakan kepanikan dan keresahan massal.

Bentar… saya geleng-geleng kepala dulu. Oke, sudah.

Baca juga: Orang Boleh Pintar, tapi Selama Tidak Baca Fiksi, Mereka akan Merugi

News Co/Lab pernah melakukan riset perihal tren media saat ini. Hasilnya, jika kamu benci dengan media, kemungkinan kamu ditipu judul artikel palsu. Ragam tipu daya lainnya di internet juga besar.

Lantas, apakah mereka yang tertipu di internet itu orang-orang bodoh? Sayangnya, bukan. Atau, mungkin, lebih tepatnya bukan satu-satunya alasan.

Tak jarang, kamu temukan orang-orang yang berkoar-koar soal ketakutan yang diciptakan di internet merupakan orang-orang dengan jabatan yang tinggi di kantormu. Atau, dia adalah salah satu orang terpandang di lingkungan sosialmu. Dengan kata lain, mereka sebenarnya cukup terpelajar.

Namun, perlu dingat, tak sedikit orang-orang terpelajar yang percaya dengan hal-hal irasional, seperti minta ditemani pada malam hari ke kamar mandi karena takut gelap. Atau, seperti drama romantika anak muda yang tetap mencintai seseorang meski sudah jelas-jelas dikhianati.

Singkat cerita, manusia memang begitu. Seringkali berpikir mereka merupakan makhluk yang bertindak secara rasional. Namun, hampir dalam segala hal, manusia tanpa sadar mengambil keputusan dengan mengandalkan emosi dan hal-hal yang sesungguhnya tak logis. Manusia akan mengambil keputusan seperti itu untuk menghemat waktu.

Masalahnya, orang-orang yang membenci media ini terlalu mengandalkan kemampuan impulsif mereka. Apalagi, di era internet ketika feed-mu seakan tak berhenti bergerak.

Banyaknya data membuat otakmu bekerja dengan keras tanpa jeda. Kamu terasa seperti diburu untuk secepatnya mengerti apakah suatu pesan itu betulan atau bohongan.

Lalu, bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini? Sebenarnya ada beberapa kiat yang bisa kamu lakukan agar orang-orang itu bertobat, tidak lantas percaya pada kabar palsu, kabar bohong, atau kabar tak jelas. Anggap saja ini seperti exorcism.

Artikel populer: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Pertama, bisa dengan mengajak mereka untuk bersikap skeptis. Misalnya, mengecek klaim satu posting-an di internet itu benar atau tidak. Paling mudah, buka Google. Jika ada tiga atau empat media kredibel memberitakan hal serupa, kemungkinan kebenaran berita itu cukup besar.

Kedua, ajak orang itu untuk melihat kolom komentar satu posting-an berita. Biasanya, untuk satu berita yang kontroversial sekalipun, perbandingannya 75%:25% untuk yang pro dan kontra.

Dengan kata lain, ada beberapa orang yang masih memilih jalan sunyi untuk melakukan diskusi di kolom komentar atau sekadar membunuh kebosanan. Dari situ bisa jadi orang-orang yang membenci media atau figur tertentu bisa tercerahkan.

Ketiga atau terakhir, ajak juga orang itu untuk mengikuti penulis-penulis yang kamu ketahui memiliki kualitas baik. Penulis yang baik tentulah pembaca yang rakus. Dengan begitu, orang-orang semacam ini tentulah tahu mana tulisan yang tendensius dan mana yang bagus nan argumentatif.

Namun, kalau mengacu kepada kisah Carnegie di awal artikel, kamu harus sadar juga bahwa kamu tak bisa menyadarkan orang-orang yang tak ingin disadarkan. Bahkan, Nabi Nuh pun tak bisa menyelamatkan anaknya yang memilih untuk ke gunung daripada ke kapal yang telah dirakit dalam jangka waktu begitu lama.

Seperti kata Zen Hae dalam tulisannya di Beritagar, beberapa orang telah memandang kebodohan sebagai hak mereka. Jika itu terjadi pada orang-orang di sekitar kita, kita tak bisa berbuat apa-apa, kecuali melindungi agar tak terjerembab dalam lubang yang sama.

Ngomong-ngomong, setelah membereskan tulisan ini, saya jadi mengerti bahwa kebodohan mungkin menjadi sebab utama alien tak juga mau berkomunikasi dengan manusia. Kzl… Haha…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.