Alice in Borderland. (Netflix)

Alice in Borderland adalah drama Jepang yang diangkat dari manga laris. Beda nasib dengan Death Note versi live action yang dikritik sana-sini, adaptasi kali ini lumayan banyak dapat pujian. Ditambah, promosi yang jor-joran. Sampai sempat menjadi headline di trending topic Twitter, sesaat menggantikan headline tentang perkembangan terbaru Covid-19 di Indonesia.

Kalau dipikir-pikir, Alice in Borderland dan hidup di tengah pandemi Covid-19 masih memiliki kesamaan. Sama-sama berbicara tentang bagaimana bertahan hidup. Drama ini pun menghadirkan kota yang sepi seperti sedang lockdown, meski kota-kota di Indonesia tidak demikian.

Dalam series ini, jagoan utamanya adalah Arisu – seorang gamer ganteng, tapi bukan idaman orangtuanya karena masih pengangguran. Bersama dua sahabatnya, Arisu tiba-tiba saja berada di Tokyo yang kosong melompong.

Seolah Thanos baru melintas universe untuk mencuri Dreamstone dari Wonder Woman dan memohon permintaan yang sama seperti di film Avengers: melenyapkan sebagian besar penghuni alam semesta.

Baca juga: Kekuatan yang Bisa Kita Peroleh dari Wonder Woman 1984 untuk Hadapi Pandemi

Ternyata Arisu (Alice) masuk ke dunia paralel yang menjadi arena permainan bertahan hidup (Borderland). Mirip seperti dongeng Alice in Wonderland, di mana Alice terjerembap masuk ke dunia antah-berantah. Bedanya, Borderland tidak semenakjubkan Wonderland, malah cenderung menyeramkan.

Untuk bertahan hidup, Arisu dkk harus mengikuti serangkaian permainan gila yang mematikan. Jika tidak ikut main, mereka tidak bisa kembali ke dunia asli dengan selamat.

Dengan penalaran yang ciamik, Arisu berhasil memenangi setiap permainan dan terus bertahan hidup. Setiap permainan selesai, pemenang akan dapat hadiah selembar kartu remi. Konon, kartu-kartu itu mesti dikumpulkan satu set agar menjadi pas masuk ke bumi.

PR banget ya? Padahal, Arisu bisa mampir ke poskamling setempat, terus minta kartu remi ke petugas ronda on duty. Oh, mungkin di Tokyo tidak ada budaya ronda.

Pelajaran dari Arisu berikut ini bisa kita terapkan dalam bertahan hidup di tengah pandemi yang notabene mirip ‘survival game‘.

Baca juga: Menebak Cara Najwa Shihab, Awkarin, dan Kekeyi jika Ikutan Main Among Us

Cermati ‘aturan main’

Sebagai seorang penyintas, kita harus mencermati ‘aturan main’ dan menyiasati segala rintangan untuk tetap bertahan hidup hingga akhir. Itulah yang selalu dilakukan oleh Arisu pertama kali setiap menerima tantangan.

Jika ada aturan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) untuk menghindari paparan virus corona, kita harus ikuti. Pakai masker yang benar dan mampu menangkal virus. Bukan cuma rutin pakai masker perawatan wajah ketika di rumah saja. Glowing doang tapi kalau batuk-bersin tanpa aturan, ya bakal dijauhi orang.

Kemudian, cuci tangan tidak sekadar cuci tangan, harus pakai sabun. Tapi, jangan cuci tangan dalam konteks kiasan yang artinya lepas tanggung jawab atau lari dari masalah, ya!

Jaga jarak pun sebatas jaga jarak fisik. Bukan jaga jarak dalam hal kemanusiaan.

Setiap nyawa berharga

Waspada boleh, karena siapa saja bisa mencelakakan kita, baik dalam permainan maupun pandemi. Namun, kita tetap harus menghargai nyawa orang lain. Itulah yang ditanamkan oleh Arisu ke benak penonton.

Baca juga: Nonton Drakor Kingdom tentang Politik di Tengah Wabah, Cocok Banget nih!

Ketika seorang pemain menyerah dan lari dari sebuah permainan, Arisu dkk sempat meninggalkannya. Namun, ketika Arisu menemukan solusi, ia kembali kepada pemain yang ditinggalkan itu. Ternyata langkah Arisu untuk menolong pemain tersebut justru membantu semua pemain dalam menghindari bahaya.

Kalau bisa selamat bersama-sama, mengapa harus mementingkan diri sendiri untuk menjadi yang satu-satunya selamat? Menolong orang lain tidak ada ruginya. Justru bisa menyelamatkan diri sendiri. Sebab setiap nyawa berharga, setiap orang berguna.

Menghargai pengorbanan orang lain

Kita yang masih bertahan hidup sampai saat ini tak lepas dari pengorbanan orang lain. Dalam Alice in Borderland, Arisu yang bisa memenangi sebuah permainan juga tak lepas dari pengorbanan teman-temannya, bahkan sampai berkorban nyawa.

Selama pandemi, banyak tenaga medis dan tenaga kesehatan yang gugur dalam tugas. Itu juga pengorbanan yang mulia untuk keberlangsungan hidup kita. Demi menghargai pengorbanan itu, kita harus berjuang untuk tetap bertahan hidup dan memenangi perang biologis melawan virus ini.

Artikel populer: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Perjuangan kita sebagai penyintas pandemi adalah menerapkan protokol kesehatan dalam keseharian. Jangan sia-siakan perjuangan mereka dengan menyepelekan pandemi. Itu sama saja bertaruh nyawa dan membahayakan nyawa orang lain.

Kabar terakhir menyebutkan bahwa musuh kita bersama, yaitu virus corona, telah bermutasi semakin ganas dan hadir dalam varian terbaru yang tidak kita harapkan. Tandanya, kita telah masuk ke next level.

Untuk menghadapinya, amunisi berupa aturan 3M saja tidak cukup, harus upgrade ke 5M. Ditambah dengan membatasi mobilitas dan menjauhi kerumunan, apalagi itu hanya party-party.

Latar cerita Alice in Borderland adalah gambaran amit-amit dari masa depan yang sepi karena populasi manusia menipis. Namun, itu bisa juga menjadi gambaran dari sebuah kota yang warganya sedang karantina atau isolasi mandiri di rumah masing-masing secara serentak.

Pilkada saja bisa serentak, mengapa karantina wilayah tidak? Mendanai pemilu saja mampu, mengapa menjamin hidup rakyat selama pandemi tidak mau?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini