Kiamat Iklim di Tangan Perempuan?

Kiamat Iklim di Tangan Perempuan?

Ilustrasi (Slawa Zu via Pexels)

Suatu hari, saya berkunjung ke Desa Mulawarman, Kutai Kartanegara, untuk kepentingan film dokumenter tentang tambang. Sebuah desa yang habis karena operasi tambang. Semula, lahan produktifnya seluas 500 hektare, kemudian menyusut tinggal enam hektare akibat aktivitas pertambangan.

Tak hanya itu, Kota Samarinda juga sering banjir saat hujan. Usut punya usut, ternyata 72% dari luas kota tersebut adalah konsesi tambang.

Seketika jadi teringat fakta-fakta yang dipaparkan UN Environment beberapa waktu lalu bahwa kita hanya punya waktu 12 tahun untuk berbenah. Jika tidak, bakal terjadi kiamat iklim!

Setiap tahun, dunia berutang ekologis pada alam. Utang ekologis ini adalah nilai ekonomis yang hilang ketika terjadi kerusakan alam. Ini terjadi karena tingkat konsumsi yang tinggi.

Tambang memang salah satu penopang industri. Kalau kata para dosen teknik, “Tambang itu penting karena tak ada peradaban tanpa industri.” Padahal, industri tidak menopang peradaban. Industri menopang gaya hidup dan perilaku manusia di peradaban modern.

Contohnya, perilaku konsumtif masyarakat di era milenial. Terlebih, para influencer mempertontonkan gaya hidup yang seolah membeli lipstick, hijab warna-warni ala selebgram, skincare tujuh rupa, hingga produk-produk sekunder kecantikan lainnya adalah keharusan. Demi memenuhi standar kecantikan ideal masyarakat umum.

Di sisi lain, para perempuan milenial sedikit sekali yang memiliki akses pengetahuan bahwa ‘kecantikan paripurna’ memberikan dampak kerusakan lingkungan yang cukup signifikan. Dan, produk kosmetik, pakaian, serta produk kecantikan lainnya menjadi salah satu penyumbang jejak karbon terbesar.

Baca juga: Lagi-lagi Perempuan Harus Cantik, Cobalah Lihat Sisi Gelapnya

Perempuan juga menjadi target pasar untuk mendongkrak produksi dan permintaan atas kebutuhan rumah tangga. Perempuan terus menerus terpapar iklan untuk mengonsumsi barang sekunder, dengan narasi persuasif seolah keluarga modern harus memiliki fasilitas rumah tangga modern.

Sesungguhnya, fakta-fakta tersebut sempat jadi perbincangan panas ketika saya berkumpul bersama pegiat feminisme, terutama yang concern dengan problem interseksional terkait perempuan.

Kita tidak bisa menyangkal, isu konsumerisme melekat pada perempuan khususnya perempuan di ‘dunia ketiga’ yang katanya memiliki beban penjaga dapur dan penanggung jawab teknis konsumsi keluarga.

Saya sempat mengusulkan suatu kajian tentang bagaimana konsumerisme bekerja dan bagaimana ia berdampak pada lingkungan. Buat apa? Biar kita bisa menolong lebih banyak subjek, baik itu laki-laki, perempuan, maupun Alam. Agar tidak masuk semakin dalam pada situasi ini.

Terus ada yang nanya, “Lho, kalau pakai lipstick dianggap konsumtif, kita pakai apa? Pakai Fanta?”, “Lalu, kalau kajiannya soal konsumerisme nanti daganganku gak laku”, “Tuntutan zaman lah kita pakai lipstick dan pakai baju bagus, masa kita mau gak rapi?”

Ya Tuhan, betapa alotnya pembahasan tentang bahaya perilaku konsumtif. Jika membahas bahaya konsumerisme saja enggan, bisa-bisa kita compulsive buying disorder berjamaah ini.

Baca juga: Mamak-mamak Penyelamat Bumi

Sebetulnya tidak masalah pakai lipstick. Tapi apakah penting membeli lipstik dengan shade sama dalam jumlah banyak, seperti yang biasa dilakukan para influencer di media sosial?

Atau, apakah penting membeli lipstick dengan 12 shade lengkap, yang ketika di-swatch warnanya mirip-mirip, bahkan beberapa warna tidak akan terpakai?

Setidaknya pikirkan, ketika kita membeli lipstick dengan shades lengkap, berapa jumlah limbah yang dihasilkan dan terbuang ke laut? Pada 2017, gabungan aktivis lingkungan di seluruh dunia telah membersihkan 25 ton sampah plastik dari laut yang sebagian besar adalah produk kosmetik.

Selain kosmetik, coba pikirkan juga ketika kita mau membeli perhiasan segambreng. Apakah kita tahu berapa mata air yang rusak karena limbah tambang di tempat perhiasan itu berasal? Apakah kita tahu berapa orang yang dikriminalisasi karena memperjuangkan lingkungannya yang rusak itu?

Belum lama ini, sekelompok aktivis Ecoton di Malang melakukan demonstrasi soal bagaimana popok bayi dan pembalut wanita menjadi limbah terbanyak di sungai Malang, yang mana jalurnya mengairi seluruh Jawa Timur.

Demonstrasi ini terkesan seksis karena para demonstran menggunakan wig, pakaian mermaid, dan beha yang dianggap sebagai simbol tubuh perempuan.

Artikel populer: Soal Traktiran saat Kencan dengan Feminis Hingga Angkat Barang yang Berat-berat

Sebab patriarki telah melekatkan wilayah domestik menjadi beban perempuan, maka seolah limbah domestik juga menjadi kesalahan perempuan. Menyalahkan perempuan perihal ini telah menambah daftar panjang kejahatan peradaban patriarki.

Para perempuan harus mulai mendapat akses pengetahuan terkait data industri yang menopang sikap konsumtif kita. Dan, bagaimana industri menjadikan mereka senjata sekaligus objek dalam menopang aktivitasnya. Bagaimana dampak lingkungan dan akses pengetahuan dikesampingkan.

Laki-laki juga harus memahami bahwa beban domestik, termasuk limbah popok bayi, bukanlah masalah perempuan, tapi masalah setiap orang dewasa di dalam keluarga.

Laki-laki juga harus mulai melibatkan diri dalam keputusan-keputusan terkait wilayah dapur. Dan, masyarakat harus mulai disadarkan bahwa dapur juga menjadi tanggung jawab laki-laki.

Kita juga setidaknya mulai berkontribusi positif pada bumi, dengan mulai mengevaluasi kebutuhan bulanan kita dan mencoba menghitung ke mana sampah-sampah kita berakhir.

Sampah tidak pernah hilang, mereka hanya pergi ke suatu tempat dan mencemari tempat itu. Suatu saat, racun yang dihasilkan dari pencemaran itu akan sampai juga di rumah kita.

Mungkin isu ini masih dianggap sebelah mata, karena sangat sulit untuk menghentikan perilaku konsumtif. Namun, sebetulnya, kita bisa memulainya dengan mudah.

Dimulai dengan berbagi ruang di wilayah domestik, lalu mengubah perilaku konsumsi secara bijak. Jika itu dilakukan, tentu kiamat iklim tak akan datang secepat itu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.