Ilustrasi pandemi. (Image by Christo Anestev from Pixabay)

Sebuah PAUD di Cipayung, Jakarta Timur, disegel karena menggelar belajar tatap muka saat PPKM level 4. Alasan pihak sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka karena adanya desakan dari orangtua murid. Orangtua mengeluhkan pembelajaran daring yang terlalu membebani mereka, apalagi bagi orangtua yang memiliki anak lebih dari satu.

Di waktu yang hampir bersamaan, yayasan sekolah di Duren Sawit, Jakarta Timur, disegel karena menyewakan ruang untuk pelatihan kerja. Sebelumnya, pada Januari 2021, tiga sekolah dasar (SD) di Banda Aceh juga disegel karena tidak mematuhi protokol kesehatan.

Sebagai orangtua, saya sungguh paham betapa kewalahan jika harus mendampingi beberapa anak yang belajar secara daring. Namun, saya juga tidak dapat memaklumkan anak-anak belajar tatap muka secara normal – prokes longgar dan tanpa pembagian shift. Sungguh membuat pikiran lelah.

Pada suatu malam, berita duka disiarkan melalui pengeras suara masjid. Itu adalah kematian ketiga dalam sepekan di wilayah RT kami. Seorang opa yang merupakan tetangga dekat meninggal dunia. Ia menyusul dua anggota keluarganya – istri dan anaknya – yang lebih dulu meninggal dunia. Sedangkan anak serta cucunya masih berjuang melawan Covid-19 di rumah sakit.

Baca juga: Cerita Para Pendamping Pembelajaran Jarak Jauh yang Terlupakan

Sementara itu, di tengah kabar duka, masih terdengar jelas suara MC kondangan dan musik jaipongan yang terbawa angin sampai ke rumah. Musik itu seakan bersahut-sahutan dengan pengumuman dari pengeras suara masjid tentang informasi penguburan jenazah. Sebuah ironi yang membuat perasaan ini juga lelah.

Balik lagi soal belajar tatap muka. Pihak sekolah tentu membebaskan orangtua yang ingin anaknya belajar dari jarak jauh saja. Tapi, kapan pandemi akan berakhir? Orang-orang terus bepergian, saling berjumpa. Tentu SARS-CoV-2 bahagia karena manusialah inang-inang yang mereka butuhkan supaya bisa terus hidup dan bekerja. Mereka melompat dari satu tempat ke tempat lain. Mereka bebas, sementara umat manusia semakin terpenjara.

Pada masa PPKM, operasional sekolah bukan lagi terkait kena sidak atau tidak. Ada banyak hal yang dipertaruhkan dalam pembelajaran tatap muka. Pertama, tentu tentang nyawa manusia. Anak yang sehat dan lincah bukanlah ukuran kekuatan absolut mereka tidak mempan ditularkan dan/atau menularkan. Tapi nyatanya, masih ada orangtua yang berani mengambil risiko besar atas keberlangsungan hidup anaknya.

Baca juga: Cerita Orangtua, Guru, dan Anak selama Belajar dari Rumah

Saya mencoba meletakkan diri sebagai mereka, tetapi kabar tentang orang sakit dan kematian yang bertubi-tubi selalu terbayang. Eh, atau jangan-jangan ini problemnya? Banyak orang tidak mengalami apa yang saya alami. Apakah harus ada yang sakit dulu supaya muncul kesadaran tentang menjaga kesehatan? Lantas, bagaimana kalau terlambat menyelamatkan anggota keluarga kita?

Kedua, nasib sekolah dan para guru. Guru juga manusia yang punya risiko menularkan dan ditularkan. Masalahnya, sebagian besar sekolah menerapkan sistem kerja searah. Di banyak tempat, guru merupakan pekerja yang harus tunduk pada keputusan yayasan atau sekolah. Suara guru – bahkan dalam memperjuangkan haknya – bisa jadi kalah oleh suara pihak sekolah atau orangtua. Dampaknya jika suatu hari sekolah kena sidak lalu ditutup, maka guru akan berhenti bekerja.

Namun, pembelajaran secara online lama-kelamaan juga merepotkan orangtua yang mendampingi anaknya. Hari-hari terasa padat. Beruntung, bagi sekolah-sekolah swasta di kota besar yang melakukan Zoom meeting dengan video pembelajaran bagus-bagus serta hotline 24 jam untuk anak-anak. Lalu, bagaimana dengan sekolah atau anak murid yang terbatas dalam hal akses teknologi informasi maupun ekonomi?

Beberapa SD negeri melakukan antar-jemput tugas. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi penularan virus, meski tidak semua orangtua murid melaksanakan prokes dengan baik. Ketika sedang mengantarkan tugas, masih ada orangtua mengajak anaknya yang tanpa masker ke sekolah.

Baca juga: Varian Loki dan Varian Baru Virus Corona

Setiap hari, guru memberikan tugas melalui grup Whatsapp. Setiap Senin, orangtua atau wali menjemput dan mengantar tugas anak-anak. Maka, buku pelajaran harus ada dua eksemplar untuk setiap mata pelajaran. Buku pertama untuk mengerjakan tugas pekan 1, 3, dan 5, sedangkan buku kedua untuk pekan 2, 4, dan 6.

Untuk menemani anak-anak mengerjakan tugasnya, orangtua memang harus mengarahkan fokus. Apalagi, untuk materi-materi yang kalah menarik dibanding hobi mereka. Terlebih, tidak ada batas ruang yang jelas antara rumah sebagai tempat tinggal dan sekolah sebagai tempat belajar. Pun, begitu halnya dengan waktu belajar.

Menimbang keterbatasan ruang serta kesibukan masing-masing orangtua, pembelajaran tidak mungkin dilakukan melulu pada pagi hari dan selesai sekaligus dalam satu waktu, seperti ketika belajar tatap muka di sekolah.

Pandemi telah membuat paradigma tentang sekolah bergeser dua lapis. Lapis pertama berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi, lapis kedua terkait pandemi. Kalau TK dan SD generasi saya identik dengan bermain dan berkumpul bersama teman, keluh kesah teman sebangku, dan kenakalan kecil untuk bersenang-senang, maka anak-anak sekarang pasti mengidentikkan sekolah dengan tugas. Sebab selain tugas, tak ada hal lain yang dapat menjadi modal penilaian oleh guru.

Artikel populer: Andaikan Dunia The Walking Dead Menerapkan PPKM

Maka kemungkinan besar, pembelajaran daring akan lebih mudah jika konsep tugas yang diberikan guru terintegrasi dengan keseharian anak-anak. Tugas menjadi semacam proyek harian atau proyek kehidupan anak-anak. Kreativitas inilah yang mesti dikembangkan oleh guru dan diberi koreksi dan masukan oleh orangtua. Pendidikan anak-anak adalah kerja bersama.

Ada baiknya orangtua lebih intens berkomunikasi dengan pihak sekolah mengenai sistem belajar yang pas untuk anak-anak. Di tengah pandemi, pihak sekolah tentu tidak muluk-muluk menerapkan kurikulum belajar anak, terutama untuk pendidikan anak usia dini hingga kelas satu SD. Bahkan mereka mungkin jauh lebih membutuhkan pemahaman tentang situasi terkini seperti pengetahuan soal lingkungan rumah, kesehatan biologis, dan pengembangan empati.

Kalau di tengah pandemi yang mematikan saja mereka masih pergi ke sekolah tanpa beban, saya khawatir generasi ini akan terbiasa dengan teori empati di buku-buku teori, tanpa praktik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini