Ketika Perempuan Ditakar dari Riasan Wajahnya dalam Ajang Pencarian Bakat

Ketika Perempuan Ditakar dari Riasan Wajahnya dalam Ajang Pencarian Bakat

Ilustrasi (Tookapic via Pixabay)

Setelah ada ustaz yang bilang bahwa salah satu ciri wanita solehah berat badannya tidak lebih dari 55 kg, kini giliran juri pencarian bakat menyanyi dangdut yang mengusir peserta perempuan karena dinilai datang tanpa tata rias wajah (make up) dan tidak mengenakan baju yang bagus.

Perempuan berusia 16 tahun asal Baubau, Sulawesi Tenggara itu bahkan tidak diberi kesempatan terlebih dahulu untuk menunjukkan bakatnya dalam bernyanyi. Lha, ini ajang pencarian bakat atau kontes ratu sejagat?

Tadi kamu ketemu temen-temen kamu nggak di luar?

Ketemu.

Mereka kayak apa mau audisi? Pake bedak nggak? Pake lipstik nggak? Pake baju yang bener nggak?

Pake…

Hah?!

Terus kenapa kamu nggak berusaha untuk seperti mereka?

Bajunya ketinggalan di kampung.

Hah?!

Serius kamu ikut ini, kamu cari baju lain…

Kamu nanti aja audisinya.

Video dialog antara tiga juri dan seorang peserta audisi pencarian bakat menyanyi dangdut itu menjadi viral. Sebab, komentar yang begitu nyinyir keluar dari mulut juri yang juga penyanyi tersohor.

Si peserta seolah dipaksa untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya. Padahal ya, kalau bicara soal bakat, itu seharusnya murni berasal dari dalam diri seseorang. Terus memangnya kenapa kalau tidak dandan seperti peserta yang lain?

Urusan tata rias wajah adalah pilihan bagi setiap perempuan. Yang mau dandan, silakan. Tidak dandan, ya seharusnya tidak menjadi penilaian utama dalam audisi pencarian bakat bernyanyi. Terkesan tidak cantik gitu, kalau tanpa make up?

Nawal El Saadawi dalam bukunya berjudul Perempuan dalam Budaya Patriarki, mengatakan bahwa kecantikan sejati bila perempuan menjadi dirinya sendiri. Tidak memalsukan kepribadian lain, tidak mengenakan sosok yang bukan miliknya.

Bahkan, Marilyn Monroe pernah bilang, “Sebuah senyum adalah make up terbaik yang dapat digunakan oleh perempuan.” Juri-jurinya malah yang nggak pake senyum.

Jadi, jika ada peserta audisi pencarian bakat tampil dengan apa yang dia inginkan, tanpa harus mengikuti penampilan dan gaya peserta yang lain, maka dia sudah cantik. Berbakat pula.

Terbukti, setelah akhirnya dipaksa dandan dan berganti baju, kemudian dibolehkan untuk kembali masuk ruang audisi, si peserta berhasil menunjukkan bakatnya dalam bernyanyi dan ia lolos!

Yaelah, jur… jur…

Masih saja make up menjadi salah satu penguji kepercayaan diri seorang perempuan. Bahwa tidak semua perempuan di Indonesia bisa mengaplikasikan make up, meskipun beauty vlogger menjamur di era siber ini.

Apakah peserta juga memiliki cukup uang untuk menunjang kebutuhan pasar? Membuat look sedemikian rupa, atau haruskah bernyanyi sambil bergumam agar ibu peri datang dan mengubahnya seperti Cinderella?

Tampaknya masih banyak pihak yang entah kurang paham atau apa, bahwa sebagian masyarakat kini memiliki pikiran terbuka tentang berbagai definisi ‘cantik’. Selama berabad-abad, definisi ‘cantik’ ya itu-itu saja. Kulit putih, muka tirus bersinar, tubuh langsing, rambut panjang tergerai, dan sebagainya. Kuno.

Bermulut pedas seperti habis makan seblak level 12 ketika berkomentar soal pakai make up atau tanpa make up sama saja menguatkan opini: “Wahai perempuan Indonesia, kalian harus pakai bedak, pakai lipstik, pakai baju yang benar, tidak peduli seberapa kuat bakat yang kalian miliki.”

Ada sebuah penelitian yang dilakukan Ester James dan Shauky Jenskins tentang persepsi wajah dengan menilai enam belas pasang wajah. Hasilnya, perempuan dengan make up tebal memiliki jiwa kepemimpinan yang lemah dan sembrono dibandingkan perempuan yang polos seperti kuah sayur bayam.

Hmmm…

Rating acara pencarian bakat menyanyi dangdut itu sebetulnya bisa tetap tinggi sekaligus menuai simpati, jika ada juri yang melakukan ‘pertolongan pertama’ untuk sekadar memberikan lipstik dan bedak. Itu kalau mengikuti selera publik tentang ‘standar kecantikan’ pada umumnya.

Sebagian penonton pasti akan tercengang dan berimajinasi seolah ada malaikat bersayap di layar kaca, kemudian juri menuai pujian dan sanjungan sampai ke kerak bumi.

Namun, balik lagi ke esensi, tampaknya memeluk kapitalisme lebih hangat pada era ini dengan hegemoni make up-nya semakin mempersempit ruang ekspresi dan potensi seorang perempuan.

Bahkan, semakin banyak ditemui perempuan yang rela tidak makan enak, karena lebih memilih membeli make up agar masuk ke dalam standar yang dikehendaki publik dan dipandang ‘normal’ serta diakui keberadaannya.

Terlebih, ponsel pintar telah menyediakan efek make up tirus mulus tanpa pori-pori yang semakin memperkuat definisi dan ‘standar kecantikan’.

Media pun berlomba-lomba menyerukan sulam bibir, sulam alis, ekstensi bulu mata, hingga sulam eyeliner lewat perantara beauty influencer agar tak ketinggalan mengunggah foto atau video di media sosial beserta caption: I wake up like this” atau No make up”.

Tata rias wajah atau make up seolah bisa menjadi angka-angka pada setiap perempuan. Jika menggunakan flawless make up atau natural diberi nilai 3 dari kisaran 1-5, misalnya. Namun, jika sesuai selera, terlebih mamakai gaun dan high heels, selamat Anda mendapatkan nilai 5!

Saat ini, bergesernya prioritas kebutuhan dari sekunder menjadi primer atau tersier menjadi primer telah menjadi standarisasi gaya hidup. Tapi, lagi-lagi, perempuan hanya menjadi objek.

Para juri tadi seharusnya bisa melihat juri-juri di ajang pencarian bakat yang lain. Pada suatu waktu, Fatin Shidqia Lubis, seorang peserta audisi, pertama kali datang dengan apa adanya, bahkan masih tampak seragam sekolahnya. Tapi, para juri santai saja. Dan, siapa sangka, Fatin berhasil menjuarai ajang pencarian bakat.

Atau, bisa juga sering-sering nonton ajang pencarian bakat di luar negeri. Lewat Youtube, banyak itu. Misalnya Alicia Keys, penyanyi R&B kelas dunia yang juga menjadi juri pencarian bakat. Alicia tidak menggunakan make up dan acara berlangsung baik-baik saja. Ini juri lho?!

Oh ya, kan beda level…

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.