Ilustrasi perempuan (Image by Med Ahabchane from Pixabay)

Banyak orang sinis ketika mengomentari perempuan yang nangis-nangis minta dikawinin setelah diperawanin. Mereka malah sinis sama si perempuan. Intinya mereka mau bilang jangan cuma menyalahkan si lelaki.

Ah, seperti biasa, banyak sekali ocehan yang secara langsung maupun tidak langsung menyudutkan perempuan, bahkan cenderung memaklumi si fakboi.

Fakboi semacam istilah untuk laki-laki yang sama sekali nggak respek sama perempuan. Mendekati banyak perempuan cuma untuk berhubungan seksual, menganggap perempuan sebagai objek. Lelaki kayak gitu enggan menikahi si perempuan, yang ada malah ngeles bahkan kabur.

Namun, ada saja yang berkomentar:

“Udah tau belum tentu bakalan diajak nikah, mau aja dibujuk.”

“Ceweknya aja juga mau, abis itu playing victim.”

“Namanya juga cowok.”

“Pegang tanggung jawab sendiri aja gak bisa. Nyalahin cowok melulu.”

Yang lebih ironis, justru sesama perempuan nggak kalah kejamnya mengomentari perempuan yang terlanjur terjebak rayuan fakboi. Apalagi, mereka merasa superior karena nggak sampai mengalami hal serupa – atau nggak peduli. Sebab, mereka sendiri menikmati hubungan seksual tanpa harus menikah dengan si lelaki. Untuk soal itu, terserah si perempuan jika memang nggak keberatan dengan pilihan tersebut. Namun, cek dulu privilese kamu.

Baca juga: Sejak Lahir Dianggap Tergila-gila dengan Seks, Mati Jadi Dedemit Pula

Saya sepakat bahwa hubungan seksual apa pun itu seharusnya tanggung jawab semua pihak yang terlibat. Dalam konteks ini, ada consent antara si laki-laki dan perempuan. Tanpa consent atau persetujuan, itu namanya pemerkosaan.

Tapi, jangan lupakan faktor relasi kuasa dalam masyarakat kita yang patriarkis. Seorang fakboi berusaha merayu dengan segala macam cara hanya untuk bisa meniduri si perempuan. Janji-janjinya manis, tapi palsu. Setelah tujuannya tercapai, ia menyasar perempuan lain.

Apalagi, selama ini perempuan masih percaya dengan konsep ‘keperawanan’, dimana perempuan hanya dinilai baik dari utuhnya selaput dara. Begitu ditinggal fakboi, tak jarang si perempuan nangis-nangis curhat.

Ada benarnya Kalis Mardiasih ketika menyikapi hal ini melalui thread di Twitter, bahwa semua orang yang pernah melakukan kesalahan membutuhkan waktu untuk pulih. Terlebih, masyarakat sering kali jauh lebih toksik dan abusif ketimbang pacar yang kasar.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Ironisnya, masyarakat seakan lepas tanggung jawab. Sebab, tanpa disadari, masyarakat berperan besar mengkondisikan perempuan-perempuan untuk menjadi target empuk para fakboi.

Banyak contohnya, tapi sebelum itu cek lagi privilese kamu. Semisal, apakah orangtua dan keluargamu mengajarkan bahwa perempuan tetap cantik dan berharga tanpa harus disukai atau diajak pacaran sama laki-laki? Kalau ya, selamat.

Ini berbeda dengan perempuan yang sedari kecil dijejali paham sesat bahwa sesukses apa pun perempuan, mereka tetap nggak dianggap kalau belum punya suami. Bayangkan, saat mereka lama melajang dan semakin dinyinyirin, terus nggak kuat mental, dan akhirnya malah terjebak rayuan fakboi.

Contohnya lagi, akses pendidikan – terutama pendidikan kesehatan reproduksi seksual. Anehnya, masih banyak orang yang menganggap edukasi seks bakalan berujung ke pemikiran cabul dan pornografi. Padahal, kalau sudah tahu risiko kehamilan di luar rencana dan penyakit menular seksual, perempuan pasti akan lebih berhati-hati sebelum melakukan hubungan seksual.

Baca juga: Salah Paham soal Selaput Dara

Lantas, bagaimana tahu kalau si cewek beneran korban?

Jika ada teman perempuanmu yang curhat soal ini, coba dengarkan dulu ceritanya sampai habis – tanpa emosi. Buang jauh-jauh pikiran yang menghakimi. Apabila dia sudah merasa cukup bersalah, tak perlu menambah beban mentalnya. Ingat, ini bisa kejadian pada perempuan mana pun, meski sudah sangat berhati-hati.

Jadi, plis deh, setop belain fakboi dengan narasi basi mengandung pelecehan seksual, semisal analogi “kucing kalau dikasih ikan asin pasti doyan juga”. Lagi pula, kita lagi membahas manusia yang seharusnya memakai akal untuk mengontrol nafsu.

Kita justru harus berterima kasih kepada korban karena sudah mau bercerita. Belajar dari pengalaman buruk mereka juga privilese kamu untuk menghindari jebakan fakboi. Bukannya malah ikut menghakimi atau bahkan menghina.

Artikel populer: Alerta, Alerta! Para Aktivis Cabul di Sekeliling Kita

Fakboi tuh, ada yang awalnya kelihatan kalem, manis, sopan, alim, eh ternyata diam-diam cuma mau senggama aja. Jangan terlalu cepat percaya. Dan, perempuan yang nggak gampang kemakan rayuan mereka biasanya menerima komentar pedas semacam ini dari si fakboi dan antek-anteknya:

“Kamu lesbi, ya? Atau, jangan-jangan frigid?”

“Halah, muna. Sebenernya juga pengen, kan?”

“Udah bagus masih ada yang mau sama kamu!”

“Tapi aku ‘kan udah baik sama kamu selama ini.”

“Kamu nggak mau, aku masih bisa cari cewek lain.”

Jadi gimana, masih mau belain fakboi dan suka nyalahin perempuan? Kalau nggak mau perempuan jadi korban, mulailah mendidik mereka dari kecil bahwa mereka nggak perlu menunggu disukai laki-laki dulu untuk merasa cantik, cerdas, berharga, dan bahagia.

Begitu juga dengan laki-laki, didiklah sedari kecil untuk menghormati perempuan, tak hanya perempuan yang mereka kenal saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini