A Quiet Place Part II. (Paramount Pictures)

A Quiet Place menuai banyak pujian sejak kemunculan film pertamanya. Film horor ini pun menjadi tontonan yang ramah untuk teman tunarungu. Sebab sebagian besar dialognya disampaikan dalam bahasa isyarat.

Nuansa film ini sama seperti serial bertema pasca ‘kiamat’ The Walking Dead. Populasi manusia nyaris punah. Para penyintas hidup berdampingan dengan rasa takut. Bangunan dan kendaraan kosong di mana-mana. Toko-toko bisa dijarah sesuai kebutuhan.

Namun, di tengah bencana kemanusiaan tersebut, manusia yang tersisa bukannya bersatu untuk saling menguatkan, justru menyakiti sesama manusia demi hidup sendiri. Jadi, selain melawan monster dan wabah, para penyintas harus menghadapi sesama manusia yang telah kehilangan kemanusiaannya.

Tokoh protagonis dalam film ini adalah sebuah keluarga yang memiliki seorang putri yang tunarungu. Latar belakang itulah yang membuat seluruh anggota keluarganya fasih menggunakan bahasa isyarat seperti penerjemah di kotak kecil di sudut televisi. Tak disangka kemampuan tersebut membuat mereka mampu bertahan hidup dari teror monster buta yang peka suara.

Baca juga: Kiat-kiat dari Alice in Borderland untuk Bertahan Hidup Selama Pandemi

Sang antagonis itu menerkam siapa saja yang berisik. Indra pendengarannya yang tajam bisa melacak keberadaan mangsa. Sensitivitasnya ngalah-ngalahin tetangga yang sedang sakit gigi dan senewen tiap ada anak kecil teriak-teriak pas main bola di depan rumahnya.

Bagi manusia di semesta film ini, bersuara berarti mati. Bahkan, untuk berdoa pun harus dalam hati. Jika berkeras hati, itu bisa menjadi doa terakhir sebelum bertemu Sang Ilahi.

Film pertama A Quiet Place disebut sebagai surat cinta dari John Krasinski, sang penulis cerita, untuk anak-anaknya. Sebab ceritanya memang mengisahkan pengorbanan seorang ayah untuk keselamatan keluarganya.

Nah, A Quiet Place Part II melanjutkan cerita keluarga protagonis pasca kematian sang ayah. Boleh dibilang sekuelnya adalah surat cinta untuk ibu tunggal, komunitas tunarungu, dan aktivis yang gugur karena memperjuangkan hak bersuara.

Baca juga: Berkaca dari The Invisible Man, Seseram Itu ‘Dihantui’ Mantan

Emily Blunt yang menjadi janda ditinggal mati suami dalam film ini adalah simbol perempuan yang tangguh dalam menghadapi kerasnya dunia. Merawat anak-anak tanpa didampingi sosok suami saja sudah berat. Ditambah, bencana dan teror dalam kesunyian. Plusnya, memang tidak ada bisik-bisik tetangga yang acap kali mendiskreditkan janda.

Di tengah teror pandemi monster gila keheningan, bahasa isyarat yang biasa digunakan oleh teman-teman tunarungu adalah protokol kesehatan dan keselamatan. Bahkan, film ini menunjukkan bahwa satu saja bahasa isyarat yang kita kuasai bisa menjadi kunci untuk lepas dari kondisi kritis yang mengancam jiwa.

Dalam kehidupan sosial, tak jarang kita bertemu dengan teman yang tunarungu. Misalnya, pengemudi ojol dari kalangan difabel. Ketika ingin mengucapkan terima kasih padanya, kita bisa membuka telapak tangan dan menggerakkannya menyentuh dagu. Satu gerakan dalam bahasa isyarat itu bisa menjadi apresiasi untuk kerja kerasnya sekaligus sikap menghargai sesama manusia. Sebab, ada satu pepatah yang mengatakan, jika engkau berbicara dengan bahasa mereka, kata-katamu akan sampai ke hati mereka.

Baca juga: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Kejadian seperti di A Quiet Place bisa juga menimpa sebuah komunitas masyarakat tanpa perlu penampakan wujud monster seperti di film. Katakanlah ada sebuah negara yang dikuasai oleh pemimpin yang buta hatinya. Pemimpin ini menjadi sangat buas ketika mendengar suara-suara yang mengkritiknya. Dengan tangan besi, ia bisa menghabisi orang-orang yang ‘bersuara’.

Ketika ada aktivis yang berani bersuara untuk menggugat rezim, selanjutnya orang itu akan hilang dan tidak diketahui nasibnya. Bahkan, tidak bisa ditemukan sampai bertahun-tahun kemudian.

Negara pun menjadi sebuah tempat yang senyap, karena warganya telah kehilangan hak bersuara. Kalau tetap bersuara, anggota keluarganya pun akan menaruh telunjuk di bibir, tanda supaya diam saja. Sebab tukang bakso dan penjual nasi goreng dadakan bisa tiba-tiba mangkal di depan rumah.

Menjerit dan menangis pun tak bisa, karena dianggap tidak bersyukur dan dihitung sebagai protes. Setiap protes akan mengurangi jatah hidup. Dengan ini, kebebasan berekspresi menjadi sebuah kemewahan. Manusia bertahan hidup dengan tidak bersuara. Membuat hidup hanya sekadar bertahan hidup.

Artikel populer: Attack on Titan Ditinjau dari Beragam Jurusan Kuliah

Hingga tiba masanya, warga negara yang ingin hidup sebenar-benarnya hidup, menggalang aksi untuk menyatukan suara. Menghasilkan suara yang sangat bising sampai terdengar ke seluruh dunia. Membuat sang antagonis tak kuasa untuk menerima serangan sebesar itu.

Seperti monster di A Quiet Place, sang antagonis pun kelojotan dan akhirnya bisa dikalahkan. Semua bersorak karena berhasil mendapatkan kembali hak bersuara. Bahkan di setiap periode, ‘suara’ itu diberikan oleh negara kepada seluruh rakyatnya dalam bentuk surat untuk menentukan sendiri siapa pemimpinnya.

Namun, bertahun-tahun kemudian, warga negara mulai merasakan kembali suasana mencekam mirip-mirip rezim terdahulu. Secara perlahan rakyat kehilangan kebebasan berpendapat, termasuk di media sosial. Bahkan, berkomunikasi dalam senyap bisa disadap.

Inikah yang dinamakan “A Quiet Place Part II”?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini