Ketika Menjenguk AU di Pontianak

Ketika Menjenguk AU di Pontianak

Ilustrasi (Anemone123 via Pixabay)

AU tergolek lemah di ranjang rumah sakit ketika saya menjenguknya. Wajahnya sedikit pucat, ada selang infus yang cairannya hampir habis di tangannya. AU berselimut. Dia senyum melihat saya dan berucap terima kasih. Lalu memandang ke arah ibunya. “Mama, rasanya badanku panas,” katanya.

Anak ini sungguh cantik. Dari perkataan, postur dan tutur katanya, terlihat sekali bahwa dia masih anak-anak. Ibu L, sang ibu, mengatakan bahwa AU sehari-hari masih tidur bersamanya, walaupun AU sudah berusia 14 tahun.

Baca juga: Yang Sayang M dan R Banyak Sekali, Mereka Takkan Sendirian

Ibu L perempuan yang kuat. Saya mengajaknya bicara dengan 2-3 orang. Banyak hal yang tidak bisa saya tulis. Pendek kata, ibu L berkata, “Saya tak akan lelah memperjuangkan keadilan untuk AU. Saya juga bicara agar AU kuat, karena kami berdua akan berjuang meraih keadilan. Saya hanya ingin ini kasus perundungan terakhir. Jangan sampai ada korban lagi,” ujarnya dengan tegas.

Sementara saya terbata-bata menahan tangis bicara ke Ibu L. Saya katakan bahwa saya dan teman-teman merasakan kesedihan yang sama. Apapun yang dibutuhkan adik AU, semisal layanan kesehatan, trauma healing, safe house, bahkan jika butuh menyepi untuk menenangkan diri, saya siap membantu.

Baca juga: Jangan-jangan Kamu Tidak Sadar, Kamu Adalah Pelaku atau Korban Kekerasan dalam Pacaran

Kasus perundungan di Pontianak oleh 12 anak berusia 17 tahun terhadap AU yang berusia 14 tahun ini sungguh mengoyak rasa kemanusiaan. Juga emosi massa yang tak terkendali. Sejuta sumpah serapah bertaburan untuk pelaku. Kepolisian hingga Presiden didesak untuk mengawasi kasus ini.

Bagi saya, kasus AU ini seperti puncak gunung es. Budaya permisif, berdamai dengan kriminal menggunakan alasan masa depan pelaku tanpa sedikitpun punya perspektif korban membuat perundungan ini kerap dianggap biasa saja. Perundungan ini memakan anak bangsa. Anak yang baik jadi retak fisik dan batinnya. Para perundung berjalan jumawa karena hukum kerap tak bisa menyentuh mereka.

Jika terus-terusan kita permisif terhadap budaya kekerasan, yang kita panen bukanlah bonus demografi, tapi degradasi generasi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.