Ketika Final Fantasy VIII Menyoal ‘Toxic Masculinity’ dan ‘Anxiety’

Ketika Final Fantasy VIII Menyoal ‘Toxic Masculinity’ dan ‘Anxiety’

Final Fantasy VIII remastered (Square Enix Holdings)

“Kita membaca karya klasik bukan karena tugas atau sebagai rasa hormat, tapi semata-mata karena cinta,” sebut Italo Calvino dalam Why Read the Classics. Argumen ini bisa diaplikasikan pula pada sebuah permainan video keluaran 1999 yang akan dirilis remaster-nya pada September ini: Final Fantasy VIII.

Setelah 20 tahun, seri kedelapan dari franchise beken Final Fantasy ini bisa dimainkan ulang, sekaligus dilakukan pembacaan ulang. Sebagai karya fiksi, layaknya novel dan film, permainan video juga sangat terbuka untuk dijadikan subyek kajian. Gim memang komoditas hiburan, namun memungkinkan pula menjadi seni yang bisa diapresiasi.

Final Fantasy VIII merupakan sebuah kisah coming of age yang dibangun sebagai metafora bahwa tumbuh dewasa adalah perjalanan yang panjang dan berbahaya. Fantasi di dalamnya berfungsi sebagai alegori berlapis soal rasa sakit untuk menjadi dewasa.

Saat permainan dibuka, protagonis yang kita mainkan adalah seorang siswa di Balamb Garden, semacam persilangan antara Hogwarts dan akademi militer. Squall, seperti namanya, adalah sebuah hujan badai. Badainya terus berkecamuk dalam kepalanya, kontras dengan sikapnya yang menyendiri dan pendiam.

Baca juga: Maksud Hati Menggauli Sepi, Apa Daya Malah Digauli

Squall tak punya ingatan akan orangtuanya yang tiada ketika perang. Saudara perempuannya menelantarkannya di panti asuhan tanpa penjelasan. Kepribadian anti-sosial yang berkembang menahan orang melirik dirinya untuk diadopsi. Dia berakhir didaftarkan di akademi militer untuk diolah jadi sebuah alat kekerasan.

Squall berada dalam institusi yang militeristik, sesuatu yang dianggap sangat maskulin dan macho. Lelaki yang dibesarkan dalam sistem yang mempromosikan maskulinitas tradisional memiliki perasaan yang rumit terhadap emosi mereka sendiri. Sering kali, mereka berusaha menghindari, bahkan mematikan secara total emosi tadi.

Toxic masculinity atau maskulinitas yang beracun muncul ketika norma-norma maskulin tradisional yang ada punya akibat negatif bagi lelaki, perempuan, dan masyarakat secara keseluruhan; konsep maskulinitas toksik ini tidak dimaksudkan untuk menjelekkan atribut lelaki, tetapi lebih untuk menekankan efek berbahaya dari penyesuaian terhadap perilaku ideal maskulin tradisional tertentu, seperti dominasi, keegoisan, dan persaingan.

Pada awal 2019, American Psychological Association mewanti-wanti bahwa ‘ideologi maskulinitas tradisional’ punya kaitan dengan efek negatif pada kesehatan mental dan fisik.

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Lelaki yang mematuhi norma-norma maskulin tradisional, seperti laku kekerasan, dominasi, kebutuhan akan kontrol emosional, keinginan untuk menang, dan pengejaran status sosial, cenderung lebih mungkin mengalami masalah psikologis seperti depresi, stres, masalah citra tubuh, penyalahgunaan obat, dan fungsi sosial yang buruk.

Ketika Squall berhadapan dengan keruwetan emosionalnya, bukan hanya dia bersikap cuek; dia sebenarnya tidak tahu harus merespons apa. Kebanyakan lelaki tak diajarkan bagaimana merespons atau bagaimana memproses emosi mereka. Sebuah masalah yang timbul akibat maskulinitas toksik.

Squall menderita pengalaman ini, masalah emosinya selalu disalahpahami. Karena dia masih muda, dia diasingkan (sekaligus mengasingkan diri) untuk kemudian mendapat label lelaki emo dan cengeng.

Pengasingan ini berasal dari maskulinitas yang beracun, dari keyakinan bahwa lelaki harus selalu tegar dan mengatasi masalah mereka. Dibandingkan dengan protagonis lain dalam seri Final Fantasy, Squall terasa lebih membumi dalam kenyataan; pengalaman yang membentuknya adalah hal-hal yang bisa terjadi pada orang sungguhan. Berdasar pengalaman, Squall memiliki pengalaman ditinggalkan, dan rasa takut ditinggalkan ini adalah akar keengganannya untuk mengizinkan siapa pun untuk mendekat.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’, Bagaimana Kalau Sudah Terlanjur Sayang?

Hal ini berubah ketika dia bertemu Rinoa. Dia perempuan keras kepala dan naif. Dia juga penyayang, baik hati, dan idealis. Dia memang agak nyeleneh, tapi karena telah menyaksikan ketidakadilan, ia berusaha melakukan kebaikan.

Rinoa menentang ayahnya yang seorang jenderal militer, yang melayani kediktatoran. Rinoa bergabung dengan kelompok perlawanan. Dia mungkin cuma tahu sedikit tentang pertempuran atau dunia, tetapi ini tidak mencegah Rinoa untuk memperjuangkan sebuah kebebasan.

Rinoa menyewa jasa Squall sebagai tentara bayaran. Awalnya, hubungan mereka sebatas ikatan klien dan tenaga profesional. Lama-lama, Squall mulai bucin. Kondisi ini dimanfaatkan teman-teman Squall untuk menjadikan Rinoa sebagai semacam konselor.

Dalam suatu adegan, Rinoa memberi nasihat yang cukup penting: “Kami ingin kamu ngomong lebih banyak dengan kami… Aku tahu itu tidak mudah, tetapi aku harap kamu mempercayai kami dan sedikit lebih mengandalkan kami.”

Artikel populer: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Squall sedikit demi sedikit, terus berusaha merobohkan tembok dirinya. Lewat Squall, Final Fantasy VIII menumbangkan arketipe jagoan laki-laki yang kejam dan dingin. Bahwa seseorang seperti ini kemungkinan memiliki trauma dan pergulatan emosi yang perlu diproses. Squall tidak membutuhkan idealisasi; dia hanya perlu seseorang yang bisa melihat rasa sakitnya, mendengarkan kebisuannya, dan mengajarinya bagaimana menjadi seseorang yang dia inginkan.

Final Fantasy VIII juga bisa diterjemahkan sebagai kisah romansa. Adegan ketika Squall dan Rinoa yang terdampar berdua di ruang angkasa, dengan iringan lagu Eyes on Me yang dinyanyikan Faye Wong, jadi satu pengalaman sinematik yang susah dilupakan.

Pengembangan diri Squall adalah alur cerita Final Fantasy VIII yang berkesan bagi saya. Dia mengatasi dirinya agar bisa menjadi kekasih yang penuh dedikasi bagi Rinoa, seorang pemimpin yang percaya diri, seorang teman yang baik hati, seorang pendengar yang sabar. Yang perlu dicatat adalah, bahwa semua itu bukan andil Rinoa. Harus ada upaya timbal balik.

Menonton perjalanan cinta antara Squall dan Rinoa bisa sangat mengharukan dan menghangatkan hati. Sebagai dua karakter revolusioner yang diam-diam disatukan melalui keinginan bersama untuk menjadi lebih baik, dengan itikad untuk saling bantu satu sama lain.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.