Ketika Film ‘Superhero’ Indonesia Punya Dua Kubu ‘Universe’ seperti Marvel dan DC

Ketika Film ‘Superhero’ Indonesia Punya Dua Kubu ‘Universe’ seperti Marvel dan DC

Gundala dan Panji Manusia Millenium (Screenplay Films, Legacy Pictures, Multivision Plus)

Joko Anwar, sang sutradara Pengabdi Setan, sudah mengeluarkan teaser film superhero garapannya: Gundala. Di film Gundala, Abimana Aryasatya berperan sebagai Sancaka versi dewasa alias alter ego Gundala.

Hingga saat ini, sudah ada gambaran perfilman Indonesia untuk punya semesta sinematik superhero seperti Marvel Cinematic Universe. Dari teaser film Gundala saja sudah ada easter egg bakal ada kemunculan pahlawan super lainnya, yaitu Godam.

Gundala masuk ke kategori Patriots dalam Bumilangit Cinematic Universe. Nantinya, sang putra petir akan berada dalam satu semesta dengan Godam, Sri Asih, dan Aquanus. Mereka akan menjadi Avengers versi superhero lokal.

Nah, agar nantinya perfilman Indonesia punya rivalitas macam Marvel dan DC, seharusnya film Gundala punya tandingannya. Saya mendukung superhero yang dulu eksis di televisi untuk dibuatkan film versi reborn-nya.

Untuk mewakili DC versi lokal yang dark, sepertinya Saras 008 dan Panji Manusia Millenium bisa masuk ke ceruk pasar gelap. Ditambah dua-duanya pakai kostum bernuansa hitam. Panji mirip Robin di film Batman. Sementara, Saras malah kayak Catwoman dengan kearifan lokal.

Baca juga: Ulasan ‘Captain Marvel’ dan Prediksi ‘Avengers: Endgame’

Anak 90’an mengenal Saras 008 dalam bentuk sinetron. Kode angka pada buntut nama sang jagoan merupakan bagian dari sponsor brand komunikasi saat itu.

Supaya bisa dinikmati Gen Z, mesti dibuatkan superhero perempuan versi terkini, yaitu Saras +62. Kode telepon Indonesia pada nama superhero ini akan menggambarkan watak Saras sebagai anggota dari negara ber-flower.

Saras 008 terlahir saat gadis SMU bernama Saraswati berkabung atas kepergian kucing peliharaannya, yaitu Ketty. Ternyata Ketty bukan kucing biasa. Arwah sang kucing kesayangan bisa masuk ke badan Saraswati. Ujug-ujug, ia kesurupan dan berubah menjadi Saras 008 Pahlawan Kebajikan.

Untungnya, Saras tidak memelihara ikan hias. Seandainya iya, nanti peliharaannya mati, Saras bisa-bisa kesurupan ikan. Bukannya jadi superhero, malah klepek-klepek kayak Magikrap.

Tentunya kemunculan Saras 008 bukan tanpa alasan. Tugasnya adalah mencegah Mr Blek dari Planet Crysmon menebar kejahatan di muka bumi. Hal itu dipengaruhi oleh unsur ekstrinsik atmosfer Orde Baru yang kental, salah satunya krisis moneter alias krismon.

Baca juga: Sejak Dulu, Orang memang Tergila-gila dengan Kesatria Perempuan

Nah, untuk versi Saras +62, musuhnya adalah Geng TKA dari Planet Aseng. Kekuatan Geng TKA menghadirkan ketakutan bagi fresh graduate. Salah satunya seorang wisudawan yang dalam keadaan masih pakai toga. Begitu dinobatkan sebagai sarjana, ia buru-buru bikin video SOS untuk meminta lapangan pekerjaan yang dijanjikan pemimpin negeri. Ia takut rezekinya direbut TKA, maka ia spam tagar di media sosial: #INAJobSeekerSOS.

Saras pun datang menolong sang wisudawan dengan membawa koran berisi kolom lowongan pekerjaan. Saras juga membantu pemuda itu membuat akun di LinkedIn dan mengajaknya gabung ke grup info loker di Facebook. Tak lupa, dikenalkan kepada Lina Jobstreet.

Pemeran yang cocok untuk Saras +62 adalah Isyana Sarasvati. Aktingnya yang kocak total di film Milly & Mamet membuat Isyana ditunggu di film-film berikutnya.

Selanjutnya, Panji Manusia Millenium. Primus Yustisio pernah memerankan sosok pahlawan super berkostum hitam putih macam kulit sapi Boyolali ini. Dengan gelang canggih ciptaan seorang profesor, Panji dapat berubah menjadi pahlawan super. Gadget itu memungkinkan Panji untuk bisa terbang, menghilang, mengeluarkan angin, menyemburkan api, dan menyemprotkan air seperti jet pump.

Baca juga: Joker dalam Keseharian Kita dan Bagaimana Ia Tercipta

Daripada keliling kesana-kemari belajar pengendalian elemen, Aang harusnya minta gelang Panji. Maka, Aang bisa jadi Avatar dalam sehari. Serialnya akan tamat kurang dari satu episode.

Panji perlu di-rebranding menjadi lebih kekinian. Maka, Panji harus di-upgrade menjadi Panji Manusia Milenial. Perbedaannya dengan Panji Manusia Millenium: gajinya lebih besar. Maklum, milenial kan sukanya minta naik gaji.

Aktor yang cocok memerankan Panji Manusia Milenial adalah Pandji Pragiwaksono. Dari namanya saja sudah sesuai. Pandji sebagai stand up comedian juga dekat dengan generasi milenial.

Kaum milenial sempat dituduh ‘membunuh’ grup lawak, salah satu item dari daftar panjang produk dan jasa yang ‘dibunuh’ oleh milenial. Sementara itu, Pandji menjadi founding father komunitas pelawak tunggal. Klop.

Seperti kita tahu, dalam dunia sinematik superhero Marvel dan DC, Batman sempat adu urat dengan Superman, sedangkan Iron-Man pernah gelut lawan Captain America featuring Winter Soldier. Ini menunjukkan bahwa sesama superhero wajar apabila terjadi selisih paham. Panji Manusia Milenial juga bisa saja bentrok dengan Saras +62.

Artikel populer: Filosofi ‘Shazam!’ untuk Kamu yang Merasa Hidup kok Begini Amat

Dalam sebuah materi stand up comedy, ceritanya Pandji bilang bahwa kucing adalah binatang gembel yang suka mengemis makanan. Sebagai jelmaan kucing jejadian yang dulunya cat lover, Saras langsung marah ketika mendengar lawakan itu. Maka, terjadilah civil war.

Saras v Panji: Miauw of Justice

Panji: “Dasar netijen +62, binatang aja nggak boleh dijadikan bahan candaan. Terus, gue harus bercandain apa? Tumbuhan? Ah, temen gue bercandain kurma juga bisa kena kasus penistaan agama.”

Saras: “Masalahnya, candaan lo nggak lucu. Kenapa sih kucing harus dihina begitu?”

Panji: “Itu kan keresahan gue. Komedi itu berasal dari keresahan.”

Saras: “Udah deh, Ji. Daripada ngurusin kucing yang cuma minta sisa makanan, mending fokus lo dialihkan kepada koruptor yang minta sisa uang rakyat.”

Dengan memiliki dua semesta superhero tersebut, perfilman Indonesia bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri. Persaingan yang sehat akan melahirkan inovasi. Masa depan perfilman kita semakin menjanjikan dan mencerahkan.

Sampai akhirnya, persaingan tidak hanya antara Marvel dan DC yang rebutan penonton di bioskop Tanah Air. Namun, Marvel dan DC juga harus bersaing dengan pahlawan super asli Indonesia. Tugas superhero Indonesia jadi lebih berat. Selain melawan musuhnya masing-masing, juga harus melawan serbuan impor superhero dari luar negeri, eh?

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.