Ilustrasi (Image by Tumisu from Pixabay)

Ajang Piala Oscar 2020 sebetulnya tidak ada kejutan besar, sebab arahnya sudah terprediksi. Tentu saja, para pemenang penghargaan paling berkelas di industri film ini sesuai dengan tren: perjuangan kelas.

Semisal, film Parasite yang menang banyak. Film bertemakan gap ekonomi dua keluarga di Korea Selatan dan bagaimana dinamika pertemuan dua kelas sosial itu memborong empat piala untuk kategori film terbaik, sutradara terbaik, naskah asli terbaik, dan film internasional terbaik.

Parasite adalah film yang mampu menggebrak dunia internasional dengan gambaran kemiskinan yang kejam, kompleks, dan nyesek banget.

Selain Parasite, ada film Joker yang masuk dalam banyak nominasi dan menang untuk kategori musik orisinil terbaik, sementara Joaquin Phoenix yang berperan sebagai Joker menggondol Piala Oscar untuk kategori aktor terbaik. Film ini men-trigger banyak orang yang memiliki masalah kesehatan mental dan trauma mendalam atas kemiskinan. Sedangkan sosok Joker digambarkan sebagai penjahat yang lahir dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Baca juga: Cek Seberapa Borjuis atau Proletarnya Kamu setelah Nonton Parasite

Film Joker berhasil meruntuhkan narasi tentang realitas. Bahwa realitas bukan sekadar orang baik vs orang jahat, melainkan kelas borjuis vs proletar.

Lalu, film bernuansa perjuangan kelas lainnya adalah American Factory. Film yang diproduseri Barack Obama dan istrinya, Michelle, meraih Piala Oscar kategori film dokumenter terbaik. Film ini mengisahkan tentang pabrik milik perusahaan China yang beroperasi di Amerika, dan bagaimana nasib buruhnya yang hidup melarat. Narasi perihal buruh memang selalu menjadi sajian utama dalam perjuangan kelas.

Selain film-film tersebut, tentu masih ada beberapa lagi yang sarat makna perjuangan kelas. Bagaimana Toy Story 4 yang menyabet piala untuk kategori film animasi terbaik mengajarkan anak-anak bahwa tidak ada mainan jahat. Yang ada, mainan yang sakit hati karena terbuang.

Sama seperti realitas bahwa tak ada orang jahat, yang ada adalah orang yang sakit hati karena terbuang dari masyarakat. Mirip para proletariat yang kalah dalam perjuangan kelas, jatuh dan terbuang dalam semesta sosial yang kapitalistik.

Baca juga: Yang Luput dari Fenomena Joker soal Standar Orang Baik dan Orang Jahat

Sementara itu, Laura Dern yang meraih Piala Oscar untuk kategori aktris pendukung terbaik menceritakan kesulitan para perempuan dalam perjuangan kelas. “Bahwa masyarakat kita sungguh tidak adil pada perempuan. Mereka bisa menerima ayah yang tidak sempurna. Tapi mereka tidak pernah bisa menerima ibu yang tidak sempurna,” kata Laura dalam film Marriage Story.

Hal ini, menurut dia, terbukti bagaimana masyarakat dalam tradisi Yudeo-Kristen melihat sosok ibu paling sempurna di alam semesta. “Maria, menjadi ibu namun perawan, memiliki kekuatan untuk memeluk tubuh anaknya yang meninggal, mengasihi anaknya seorang diri, ketika sang ayah asyik-asyikan berada di surga dan tidak melakukan apapun. Iya, karena ayah adalah Tuhan! Ayah (laki-laki) akan selalu menjadi Tuhan,” sebut Laura.

Monolog itu menggambarkan bagaimana perempuan tersingkir dan kalah sebelum ‘berperang’. Belum juga memulai perjuangan kelas, sudah dikalahkan laki-laki di kelasnya sendiri.

Baca juga: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Selebihnya, film-film lain yang muncul juga rata-rata membawa narasi serupa. Sebut saja film Bombshel, Judy, 1917, dan The Two Popes yang tak jauh dari topik kemiskinan, perang, perempuan, hingga kelas sosial.

Namun, dari narasi-narasi tersebut, apa yang muncul bersamaan?

Tentu saja, komoditas.

Seperti yang kita tahu, komoditisasi adalah upaya menjadikan sesuatu yang bukan komoditas selayaknya komoditas yang bisa mendatangkan untung alias laba.

Ya betul, ajang Piala Oscar 2020 memang didominasi oleh film dan tokoh-tokoh yang membawa narasi perjuangan kelas, namun berpikir bahwa itu bukti dunia sudah melek perjuangan kelas adalah pemikiran yang tergesa-gesa.

Industri film, terutama Hollywood, adalah industri besar. Apapun narasinya, laba tujuannya. Tentu saja, mereka yang memiliki kapital dan privilese sangat ahli dalam melihat peluang emas ini.

Artikel populer: Selamat Datang! Barisan Pelamar Kerja yang Tak Punya Akses dan Peluang

Belakangan, narasi perjuangan kelas memang sedang trending. Bahkan, publik di Amerika, narasi sosialisme yang berbicara perihal kemiskinan dan buruh menjadi tren di kalangan anak muda. Pun, narasi feminisme beserta rangkaian aksinya.

Tentu saja, peluang ini dimanfaatkan oleh industri film untuk menggaet penonton sebanyak-banyaknya. Makin luas segmen pasar, laba makin besar. Potensi memboyong penghargaan pun terbuka lebar.

Lagi pula, naif banget sih percaya kalau ajang tahunan Oscar yang para undangan dan nominee-nya dikabarkan mendapatkan goodie bag berisi tiket liburan mewah dan hadiah senilai US$ 100.000 (Rp 1,3 miliar), benar-benar berminat meruntuhkan sistem kelas melalui film?

Nah, jika narasi perjuangan kelas saja bisa jadi komoditas dan alat memperkaya borjuasi, lantas nikmat kapital mana lagi yang sanggup kau dustakan, wahai manusia?

HA… HA… HA…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini