Ketika Deddy Corbuzier Dipuji-puji, Jadi Ingat Lukman Sardi, Asmirandah, dan Lain-lain

Ketika Deddy Corbuzier Dipuji-puji, Jadi Ingat Lukman Sardi, Asmirandah, dan Lain-lain

Deddy Corbuzier (Youtube)

Pada suatu kesempatan, saya pernah ngobrol semi ngegosip dengan seorang kawan yang asalnya dari Korea Selatan. Sosok yang kami gosipin adalah Ayana, brand ambassador sebuah produk make up halal yang dikenal sebagai mualaf cantique dari Korea.

“Ayana kalau tetap di Korea, dia tidak akan laku jadi artis. Di sana, kalau ada orang pindah agama bahkan memilih jadi ateis sekalipun, tidak ada yang ribut,” kata kawan saya.

Yup, berbeda dengan kita sebagai negara berpenduduk muslim terbesar sejagat raya. Segala sesuatu terkait agama, apalagi Islam, begitu populer bagi khalayak di seluruh negeri.

Siapapun yang masuk Islam disambut riang gembira penuh pujian, terlebih dia adalah figur publik. Pujian semakin kencang ketika orang yang sudah ber-Islam memutuskan untuk hijrah secara penampilan dan gaya hidup.

Baca juga: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Sementara, mereka yang memilih lepas jilbab mendapat hinaan, kemudian dirisak berhari-hari. Mereka yang memutuskan kembali berjoget di atas panggung setelah ‘berhijrah’ dinilai sebagai sesuatu yang amat disesali. Apalagi, kalau memutuskan pindah dari Islam ke agama lain, bagi mereka yang kebetulan figur publik bisa meredup kariernya.

Baru-baru ini, Deddy Corbuzier memutuskan menjadi mualaf dengan mengucap dua kalimat syahadat secara mantap. Lagi-lagi, peristiwa itu diwarnai haru bahagia oleh sodara-sodari seiman senusantara. Apakah saya ikut berbahagia? Ya, saya ikut bahagia, meski sedikit khawatir.

Ke depan, Deddy akan selalu menjadi sorotan mata audiens. Bagaimanapun, dia identik sebagai sosok magician yang menghibur. Sementara, akhir-akhir ini, semakin banyak orang atau kelompok gemar ‘nyunnah’ yang galak sensi dengan panggung hiburan. Tak sedikit penyanyi, pelawak, dan pembawa acara yang mendapat masalah.

Baca juga: Sebab Humor Adalah Cara Agar Kita Tak Lupa Berpikir

Tetapi, saya yakin, tanpa menjadi magician pun, Deddy tak akan kehabisan tawaran job. Tawaran iklan berlabel halal, syar’i, dan hijrah sudah siap menanti. Belum lagi, undangan gelar wicara bertajuk serupa sudah antre di depan mata.

Kalaupun Deddy kelak berubah haluan dalam mencari mata pencaharian seperti cara di atas, sebenarnya tidak masalah juga. Itu keputusan dia, alih-alih sebagai rezeki setelah memutuskan ‘hijrah’. Toh, selama audiens suka, industrinya tetap akan berputar secara mulus. Sebab kita adalah mayoritas, paham?!

Itulah mengapa orang-orang seperti Lukman Sardi, Asmirandah, dan lain-lain, termasuk Rina Nose, Marshanda, dan caesar YKS tidak mendapatkan perlakuan ‘sama baiknya’ di negeri ini. Ada yang salah dengan konstruk pemikiran masyarakat tentang konsepsi mayoritas. Bagaimanapun, yang namanya privilese itu nikmat, bukan?

Baca juga: Akibat Terlalu Sering Bilang “Maaf, Sekadar Mengingatkan”

Kenapa ya, kita tidak bisa bersikap B aja kalau ada yang memilih untuk tidak lagi ber-Islam atau tidak lagi ber-Islam dengan cara yang diyakini sekelompok orang?

Sebab, sependek dan sedangkal pemahaman saya, tugas Rasulullah itu untuk menyampaikan kabar gembira (bagi yang beriman) dan memberi peringatan (bagi yang tidak beriman dengan cara Islam). Sekadar peringatan lho, gaes… bukan tekanan, hinaan, atau boikot-boikotan segala. Adab Rasulullah dalam mengingatkan juga ada caranya, nggak waton komen “maaf, sekedar mengingatkan” di media sosial.

Mbok ya, kalau menilai manusia itu tidak sekadar identitas agamanya berikut simbol-simbol yang menempel atau lepas dari tubuhnya. Biar nggak bias-bias amat kalau memandang seseorang.

Artikel populer: Mukena Dijual Rp 3,5 Juta kok Anda Julid?

Biar nggak kagetan juga kalau besok-besok melihat mbak-mbak pakai rok mini atau mas-mas bertato lagi solat di masjid dan bermunajat khusyuk hingga menitikkan air mata. Atau, auto-nyinyir ketika menyaksikan temanmu yang lepas jilbab dan memutuskan untuk pindah agama.

Pun, nggak bingung kalau ada mas-mas celana cingkrang atau mbak-mbak jilbab lebar bahkan cadaran, tapi hobi karaokean dan baca sastra wangi. Terus, nggak langsung nge-judge kalau ada kawan yang nikah beda agama gitu. Eh?

Tengoklah prestasinya, pemikirannya, daya juang hidupnya, atau karya-karyanya. Mereka itu manusia biasa yang punya otak dan hati yang bisa berpikir dan merasa. Mereka adalah subjek otonom yang berhak untuk memilih dan memutuskan apa yang menjadi jalan hidupnya.

Kita bisa jadi tak sebaik dan sesuci mereka, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Memang sih, sebagai manusia biasa, kita sangat rentan bersikap bias atas subjektivitas yang tumbuh dalam alam bawah sadar. Tapi, saran aja nih, kalau bias jangan TSM lah, alias terstruktur, sistematis, dan masif. Kayak apa aja.

3 COMMENTS

  1. Artikelnya bagus, membahas permasalahan yang ada di masyarakat terutama tentang toleransi antar agama yang banyak dari mayoritas sebagai pelaku utama.

    Menurut saya pun, jika orang mau berpindah agama ya biarkan saja karena itu bukan urusan orang lain selain yang bersangkutan. Saya merasa jijik melihat perilaku orang yang terlalu fanatik terhadap agamanya dan menganggap bahwa pengetahuan nya tentang agamanya tersebut sudah sempurna dan berani ikut campur masalah agama lain dan mencaci maki mereka yang tidak se iman.

    Dan menurut saya pun memang mayoritas lebih rentan menjadi pelaku diskriminasi yang terbukti dalam sejarah dunia.

  2. wkwkwkwk,ngomong gitu di luar negri….. meski sekarang islamophobia udh agak berkurang tapi tetep aja.yang berkerudung dijauhin bahkan ama saudara sendiri dan temen temen….bule2 yg muallaf ituh.emg lgsg diterima di masyarakat.saya tau banget rasanya karena sering keluarsana.
    kalo masalah selebriti y memang tugasny utk disorot oleh “netijen” wajar klo digituin…tp yg masayarakat biasa yaudah…biasa aja mau buka kerudung….ya buka lah…nilai agama luntur

    indonesia ini negara membebaskan kita utk memilih agama… saya bkn orang alim tp menurut saya emg wajar kok gk lgsg di terima d masyarakat…sekarang apa yg mbak rasakan klo itu terjadi sm anak mba ato ortu…hmmmmm gmn tuh mebebaskan tanpa ada pikiran, never mind aja..saya rasa gk mungkin

    kalo bawa2 rosul hanya memberi peringatan wkwkwk alasan kuno bgt….sy sering liat d acara debat antar agama(no harsh feeling)
    masyarakat kalo gk saling mengingatkan(dg cara baik)jdny apatis…. jgn mbak nyindir sunnah… apa yg sunnah mengganggu yg lain? justru lebih menghormati…… MUI udh jelas klo ada yg membom dll bukanlah islam ahlusunnah tdk mengikuti rosul

    karena rosulpun buat perjanjian sm yahudi dan nasrani dan ahlakny baik..

    hancurlah dunia klo ortu membebaskan anakny mau lepas kerudung….oke kan bebas mbuat pilihan seks bebas ..oke…mabok ….oke…gak ada yg protes semua urus dirinya sendiri dg tuhannya.
    mbak memprotes dakwah islam tau gk di papua yg kurang makanan di bagiian ransum isinya kitab agama lain………….islam pernah gitu…pernah gak??

    memang indo mayoritas islam tetapi tingkat toleransi msh ada.. yg minoritas pun dihormati sekarang saya tanya bolehkah azan diluar negri?kan orang luar liberal…. membebaskan siapa saja seperti pemikiran mbak liberal…….gmn mau azan di luar negri lha wong yg didalam negri aja dikecilin…wkwkwkwkwk

    Pernahkah islam ahlusunnah misal orang2 masjid dtg rame2 ke gereja nutup menghalang2i
    islam ahlusunnah membom terang2an jelas…bukannya yg terang2an itu newzaeland lg sholat jumat ditembakin

    Udh deh tingkatkan amal ibadah…… jaga nilai agama gk luntur,yg mau nyunnah bagos yg blum bisa …yaudah jgn komen jelek..jaga persatuan… jaga toleransi HIDUP PANCASILA..SAY NO TO LIBERALISM

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.