Ketika Citra Keluarga Ideal Tiba-tiba Buyar

Ketika Citra Keluarga Ideal Tiba-tiba Buyar

Ilustrasi (Jackie Ramirez via Pixabay)

Ketika kembali mendiskusikan “Melampaui Mimpi”, memoar Ginan Koesmayadi yang saya tulis dan terbit empat tahun lalu, seorang peserta tiba-tiba bertanya.

“Dari tadi saya dengar yang dibahas dari Ginan baiknya terus. Ada, nggak, kejelekan dia? Atau pas diwawancara sama Teteh, pernah nggak dia curhat sisi gelap dia yang orang-orang nggak tahu?”

Saya menelusuri ingatan sendiri. Ginan adalah sosok yang aktif secara fisik maupun mental. Ia adalah mantan pecandu narkoba yang terinfeksi HIV, pendiri komunitas Rumah Cemara dan vokalis band Jeruji yang kharismatik.

Tetapi di balik semua itu, Ginan adalah lelaki yang mellow dan filosofis. Ia tentu saja mempunyai banyak sisi gelap. Tetapi saya tak dapat menyimpulkan sisi gelap itu sebagai “kejelekan”.

“Ginan udah nggak bisa dipilah kebaikan atau kejelekannya. Di mata saya, dia manusia utuh aja,” jawab saya akhirnya.

Tapi saya mengerti mengapa pertanyaan itu bisa muncul. Berbagai dimensi yang ditampilkan Ginan justru membuatnya senantiasa diingat sebagai seseorang yang “baik”. Bukan karena ia tidak bercela, tetapi justru karena ia sama seperti kita semua. Manusiawi dan dekat.

Ketidakbercelaan membuat suatu sosok cukup tinggi untuk dijadikan panutan, sementara kelemahan membuatnya cukup membumi untuk disayang dan dipeluk. Saya rasa Ginan justru menjadi “manusia sempurna” karena keleluasaannya berenang di titik-titik ekstrem itu.

Baca juga: Hidup Manusia yang Kadang Tak Lebih Baik dari Owa Jawa

Nah, pertanyaan sang peserta diskusi tersebut kini mengingatkan saya kepada keluarga Gading Marten dan Gisella Anastasia.

Setiap materi posting-an keluarga Marten di media sosial selalu didesain sebaik-baiknya. Citra tanpa cela keluarga ini dibangun dari gambaran-gambaran yang sedap dipandang dan manis dinikmati.

Sepanjang lima tahun pernikahan, keluarga Marten adalah relationship dan family goal bagi banyak orang. Wajah kehidupan yang mereka tampilkan kepada publik begitu ideal. Sebagai pasangan, mereka yang ganteng dan cantik ini selalu tampil romantis pada setiap kesempatan.

Sebagai orangtua, mereka kompak mendidik dan mencurahkan kasih sayang kepada putri semata wayang mereka yang tumbuh aktif, cantik, dan cerdas, Gempita Noura Marten.

Bukan hanya itu. Gading dan Gisel pun dikenal sebagai bos teladan. Pasangan ini dipandang rendah hati dan tidak membeda-bedakan status sosial.

Belakangan, nama Siti Rukoyah alias Koneng, pengasuh Gempi, ikut menjadi populer. Melalui akun instagramnya, @siti_syalalah, Koneng cukup sering memuji dan menceritakan kebaikan Gading dan Gisel. Koneng bahkan diberi kesempatan ikut menikmati liburan ke luar negeri bersama Gading, Gisel, dan Gempi. Sempurnalah sudah keluarga Marten ini secara segala-galanya.

Gambaran ideal itu tiba-tiba buyar secara mengagetkan ketika kabar perceraian Gading dan Gisel merebak. Tak ada tanda-tanda keretakan yang merembes ke publik, padahal konon rumah tangga mereka sudah bermasalah sejak 1,5 tahun terakhir.

Selama ini, di mana mereka menyembunyikan sisi-sisi gelap yang tak diketahui orang-orang? Entahlah, itu tidak penting.

Baca juga: Rumah Tangga Itu Seperti Main-main Saja

Yang saya lihat, saat bingkai ketidakbercelaan menjadi terlalu sempit untuk mereka, ada kesadaran untuk keluar dari sana agar dapat bernafas selayaknya manusia hidup.

Namun, penggemar yang terlanjur menempatkan mereka sebagai panutan, takut kehilangan gambaran ideal yang mereka percaya. Apalagi Gading dan Gisel sempat menunda memberikan penjelasan kepada publik setelah kabar perceraian mereka beredar.

Karena publik begitu haus akan penjelasan, segera timbul berbagai spekulasi seputar perceraian mereka. Ada nama-nama yang muncul sebagai “kambing hitam”, pemberitaan media yang mulai mengada-ada, dan “tebak-tebak buah manggis” seputar masalah rumah tangga Gading dan Gisel.

Penggemar melakukan berbagai cara untuk mencegah perpisahan Gading dan Gisel. Mulai dari membanjiri media sosial Gading dan Gisel dengan permohonan dan segala nasihat, sampai menggencarkan tagar #SaveGempi. Saya sendiri diam-diam mengikuti tanpa berkomentar atau mengambil kesimpulan apa-apa dulu.

Hingga kemudian, tiba saatnya Gading dan Gisel tampil bersama di publik untuk jupa pers. Keduanya bersikap casual tetapi tetap profesional. Meski wartawan bolak-balik berusaha memancing, tidak sedikit pun pasangan Taurus-Scorpio ini menceritakan masalah yang menerpa rumah tangga mereka. Gading dan Gisel hanya mengklarifikasi apa yang perlu diklarifikasi agar opini tidak terlalu liar bergulir.

Artikel populer: Bagaimana Seharusnya Melihat Konflik Jerinx SID dan Via Vallen

Seperti semua posting-an keluarga Marten di media sosial selama ini, saya yakin apa yang mereka tampilkan pada jumpa pers hari itu juga sesuatu yang didesain baik.

Tetapi bukankah kita memang mendesain segala sesuatu yang kita presentasikan ke publik? Kita memilih pakaian yang kita pakai, kata-kata yang pantas disampaikan, topik yang ingin kita bicarakan, sampai apa yang kita pilih untuk bagi dan simpan.

Saya jadi berpikir. Saat kita mencegah perpisahan Gading dan Gisel dengan dalih “sayang sama Gading, Gisel, dan Gempi”, apa betul kepedulian kita kepada mereka yang menjadi alasannya? Siapa yang kita sayangi sesungguhnya? Mereka bertiga atau gambaran keluarga ideal yang kita ciptakan di kepala kita sendiri?

Saya rasa kini Gading, Gisel, dan Gempi justru menjadi lebih membumi untuk disayang dan dipeluk. Mereka sama seperti kita. Manusiawi dan dekat. Jika kita tak lagi memaksakan bingkai, mungkin kita baru dapat memahami ini seutuh-utuhnya.

Pada jumpa pers yang saya tonton siang itu, tampak dua manusia yang memilih melompat keluar dari bingkai ketidakbercelaan yang membatasi mereka.

Mungkin dulu mereka serupa foto-foto keluarga ideal di dinding rumah. Kini, mereka menjadi sosok tiga dimensi yang mempunyai bayang-bayang dari cahaya yang nyata.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.