Ketahui Kepribadian Perempuan dari Ukuran dan Bentuk Payudaranya?

Ketahui Kepribadian Perempuan dari Ukuran dan Bentuk Payudaranya?

Ilustrasi (StockSnap via Pixabay)

Tidak ada yang perlu kamu ketahui kok!

Karena tidak ada kaitan antara payudara perempuan dengan kepribadiannya. Tidak ada pembuktian ilmiah secara psikologis yang menunjukkan bahwa perempuan dengan ukuran dan bentuk payudara tertentu memiliki sifat tertentu pula.

Belakangan, beragam artikel di internet memang berusaha menjelaskan hubungan tersebut. Namun, itu semua mengada-ada dan hanya dibuat untuk menguatkan fantasi laki-laki atau male gaze.

Beberapa artikel yang beredar menyebutkan bahwa seorang seksolog bernama Piero Lorenzoni berhasil mengaitkan ukuran dan bentuk payudara dengan kepribadian perempuan. Namun, ketika ditelusuri lagi, saya tidak menemukan kredensial seksolog tersebut.

Hanya sebuah buku kuno yang dikaitkan dengan dia dan tabloid Sun yang setara koran lampu merah. Tapi, tautannya sudah tidak ada isinya. Bahkan, fotonya pun tidak ada.

Kalau kamu baca-baca lagi artikel yang bersumber dari Piero ini, beberapa sifat yang berusaha dikaitkan dengan ukuran dan bentuk payudara adalah sifat-sifat yang begitu umum, seperti intelektual, baik hati, bijak, optimis, pemalu, dan lain-lain.

Baca juga: Cara Memuji Tubuh Seseorang Agar Dia Tidak Merasa Tersinggung

Kemudian, buah dada dianalogikan sebagai buah-buahan. Misalnya, semangka yang diasumsikan besar dan bulat. Perempuan yang punya payudara besar dan bulat katanya suka makan, selalu ingin dimanja dan dikagumi. Tetapi, tidak begitu menyukai seks.

Lalu, buah pir. Perempuan yang memiliki payudara berbentuk seperti pir cenderung religius, namun dikenal gampang selingkuh. Nah lo!

Padahal ya, perempuan bisa saja memiliki satu sifat atau lebih, bahkan bertentangan. Itu pun tak ada hubungannya dengan payudara. Plis deh.

Begitu juga dengan preferensi seksual perempuan. Sebab, mood perempuan ketika berhubungan seks sangat beragam. Yang mempengaruhi preferensi seksual, ya seperti apa situasinya saat itu. Apakah dia sedang lelah? Apakah dia memang menginginkan keintiman?

Bahkan, ada perempuan yang tidak menginginkan hubungan seksual sama sekali, dan itu tak ada kaitannya dengan ukuran dan bentuk payudara. Camkan itu, kisanak!

Baca juga: Berguyon tentang Tubuh Perempuan Adalah Kegagalan dalam Melucu

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Viren Swami dan Martin J Tovee yang menyatakan bahwa laki-laki yang lebih memilih payudara dengan ukuran yang lebih besar cenderung mengobjektifikasi perempuan, bersikap seksis, dan berperilaku kasar terhadap perempuan.

Penelitian kedua yang dilakukan oleh Swami dan Tovee juga menunjukkan bahwa laki-laki yang memiliki preferensi payudara yang lebih besar berasal dari ekonomi kelas menengah ke bawah.

Dari penelitian-penelitian tersebut diketahui bahwa objektifikasi tubuh perempuan yang dilakukan oleh budaya masyarakat berusaha menunjukkan bahwa ada upaya untuk mendominasi suatu gender.

Upaya tersebut dilakukan dengan mendorong narasi-narasi fantasi laki-laki heteroseksual untuk mengatur perempuan berdasarkan tubuhnya.

Kedua penelitian di atas memang tidak sepenuhnya merepresentasikan kondisi masyarakat di dunia karena keragaman budaya dan kultur, sehingga tidak bisa disamaratakan.

Baca juga: Perempuan dalam Lingkaran Orang-orang Terpelajar yang Sontoloyo

Begitu juga dengan ukuran dan bentuk penis yang sebetulnya tidak ada kaitannya dengan kepribadian. Sayangnya, artikel yang beredar di internet lebih banyak soal tips bagaimana penis dengan ukuran dan bentuk tertentu dapat memiliki performa yang baik. Tak ada objektifikasi laki-laki di situ.

Apa iya, kamu pernah diajari bahwa untuk mengenali seseorang, kamu hanya perlu melirik bentuk dan ukuran payudara atau penis seseorang? Kan, nggak yah cyin…

Kalau kamu mau kenal dengan kepribadian seseorang, ya kenalan dengan baik-baik. Bukan dengan asumsi yang berujung pada pelecehan seksual.

Konsep atau apapun itu namanya, yang mengaitkan bentuk dan ukuran payudara dengan kepribadian sangat merugikan perempuan.

Misalnya, asumsi macam-macam bagi perempuan yang memiliki payudara besar. Ada anggapan lain bahwa mereka memiliki libido tinggi, bahkan banyak orang yang berfantasi bahwa perempuan tersebut pernah berhubungan seksual.

Padahal, banyak anak perempuan yang mengalami pubertas dini. Ia mengalami perubahan tubuh yang begitu cepat dan signifikan, sehingga mereka dianggap memahami bagaimana tubuhnya berfungsi. Akhirnya, anak perempuan yang tubuhnya lebih cepat matang karena pubertas kerap mengalami pelecehan, semisal di sekolah.

Artikel populer: Nissa Sabyan dan Nashwa Zahira dalam Tatapan Mata Lelaki

Terlebih, edukasi seks di sekolah-sekolah di Indonesia, minim. Hal itu masih dianggap tabu, sehingga anak perempuan jarang mendapatkan perlindungan dari pelecehan. Bahkan, anak laki-laki lebih senang menyuburkan rumor mengenai anak perempuan yang bernada objektifikasi, seperti free sex dan lain-lain.

Adanya perubahan seragam dari penggunaan rok biasa ke rok panjang di tingkat SD hingga SMA menunjukkan bahwa ada pembiaran terhadap pelecehan seksual yang terjadi di sekolah.

Perubahan tersebut akibat anak laki-laki sering mengintip celana dalam anak perempuan dan guru laki-laki yang tak jarang melecehkan siswi.

Jadi, adanya artikel yang mengobjektifikasi ukuran dan bentuk payudara perempuan menunjukkan begitu masifnya upaya mengatur otoritas tubuh perempuan. Artikel yang mengobjektifikasi perempuan bisa berujung pada kekerasan seksual.

Karena itu, artikel-artikel yang kayak gitu harus berhenti di kamu dan tidak perlu diaminkan ataupun diteruskan. Saatnya berhenti menilai kepribadian perempuan dari bentuk payudara. Sebab, tindakan itu justru mencerminkan dirimu sendiri, bukan si pemilik payudara besar.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.