Ketahui Beberapa Hal sebelum Kamu Melenguh, eh Mengeluh di Grup WA

Ketahui Beberapa Hal sebelum Kamu Melenguh, eh Mengeluh di Grup WA

Ilustrasi (Geralt via Pixabay)

“Aduh, kok susah banget ujian kenaikan pangkat ini, ya?” Demikian keluhan seorang teman di grup WhatsApp (WA). Harap maklum, karena grup WA PNS, maka keluhan yang muncul nggak jauh-jauh dari kenaikan pangkat.

Ya gimana, kalau sekadar kenaikan gaji, semua orang juga sudah tahu bakal naik 5%. Kalau dinominalkan nih, masih kalah dibandingkan honor nulis di Voxpop. Hee…

Masalahnya kemudian adalah mengeluh soal susahnya ujian kenaikan pangkat di grup WA yang sebagian isinya adalah orang-orang yang bahkan belum mendapatkan kesempatan untuk ikut ujian.

Lha, ini yang sudah dikasih kesempatan dan kalau lulus bisa dapat kenaikan pangkat plus naik gaji, malah memilih untuk mengeluh. Keluhannya dipamerkan pula.

Contoh lain di grup WA bapak-bapak. Ada seorang bapak yang pasang Inter, tapi kalah sejuta. Kemudian, dia mengeluhkan kekalahan judi tersebut. Padahal, di grup itu, ada temannya yang pasang Manchester United dan kalah dua juta.

Ada juga keluhan soal nggak punya duit yang dipaparkan terang benderang oleh orang yang bergaji Rp 20 juta. Sementara, ada orang di grup itu yang pengangguran dan banyak utangnya.

Atau, yang lebih miris lagi, mengeluh di grup WA soal capeknya mengurus anak, sementara ada anggota di grup tersebut yang sudah menikah 8 tahun dan sangat mengharapkan buah hati, tapi belum diberi. Contoh-contoh keluhan semacam itu begitu jamak terjadi di dalam gawai kita sehari-hari.

Baca juga: Nggak Langsung Balas Chatting, Kasar Nggak sih?

Keluhan dalam perspektif ilmu pengetahuan lebih dari sekadar mengingatkan pelampiasan rasa kesal. Pada dasarnya, keluhan memang muncul dari situasi yang negatif, seperti kemacetan lalu lintas, film yang tak sesuai ekspektasi, pilihan calon presiden yang gagal maning menang, mantan yang menolak diajak balikan, dan lain-lain.

Keluhan biasanya muncul ketika keranjang seseorang sudah terlalu penuh untuk menahan hal-hal negatif. Keranjang itu sendiri ukurannya berbeda pada tiap manusia. Maka, jangan heran ketika setiap orang punya level kondisi negatif yang berbeda-beda untuk dikeluhkan.

Celakanya, keluhan ternyata merupakan ungkapan negatif yang menular. Hal paling simpel untuk melihatnya adalah, kalau lagi ngamuk-ngamuk delay atau pembatalan penerbangan di bandara. Soal ini saya cukup pakar, karena pernah mengalami pembatalan di dua maskapai terbesar negeri ini.

Situasi dari peristiwa delay jadwal penerbangan tentu saja mayoritas negatif, karena banyak perencanaan yang gagal. Awalnya, yang mengeluh hanya beberapa orang. Mereka tampaknya memiliki keranjang sabar yang kecil, sehingga cepat penuh dan tumpah ruah.

Mereka lebih peduli cepat-cepat berangkat tapi pesawat dalam kondisi yang tidak prima, daripada berangkat terlambat dengan pesawat yang baik-baik saja.

Lama-lama, keluhan dirasakan juga oleh orang yang tadinya sabar. Golongan ini terpapar keluhan-keluhan dan aliran negatif itu membesar, sehingga jadilah marah-marah masal.

Baca juga: Tren Menjadi Perantau Digital dan Alasannya kalau Ditanya Macam-macam

Tapi, kalau saya pikir-pikir, marah-marah itu cenderung tidak berguna. Wong, penumpang marah-marah sama ground staff yang memang tidak bisa apa-apa, kok. Sudah energi negatif yang dikedepankan, nggak ada hasilnya pula.

Nah, berbeda dengan keluhan ketika penerbangan batal yang rata-rata keluar spontan dari mulut, keluhan di grup WA jelas punya karakteristik berbeda. Keluhan di grup WA dituangkan dalam wujud tulisan.

Kita ketahui bahwa menulis itu sebenarnya tingkatan yang lebih tinggi daripada bicara. Artinya, ketika suatu keluhan sudah ditulis, seharusnya sudah merupakan hasil pemikiran. Toh, tidak mungkin jempol bisa mengetik sendiri tanpa arahan.

Mengeluh secara tertulis memang hal yang jamak terjadi pada era media sosial. Ketika interaksi sosial melalui kontak langsung semakin berkurang, maka mediumnya berpindah ke media sosial yang penuh dengan bukti-bukti tertulis. Yah, walaupun untuk keluhan di Instagram Story, misalnya, bukti tertulis itu cuma bertahan dalam waktu 24 jam.

Steven Parton dalam esainya berjudul The Science of Happiness: Why Complaining Is Literally Killing You menyebutkan bahwa emosi negatif berupa keluhan ternyata memiliki dampak negatif pada pikiran dan tubuh, terlepas keluhan itu berasal dari diri sendiri atau orang lain.

Sekarang, bayangkan rasanya ketika kita buka gawai dan yang terbaca di grup WA adalah energi negatif? Sudah negatif, yang dikeluhkan masih lebih ringan dari masalah yang kita hadapi pula. Rugi benar rasanya.

Baca juga: Pedoman Menjadi Orang yang Tidak Menyebalkan saat Bencana

Lantas, kalau sekadar keluhan saja sudah merupakan energi negatif, apalagi keluhan yang minus empati sebagaimana disebutkan pada awal tulisan ini?

Di grup WA, seorang pengeluh berkeranjang sabar yang kecil akan berhadapan dengan orang yang bisa jadi lebih susah, tetapi punya keranjang lebih besar, sehingga mampu menahan diri untuk tidak mengeluh.

Hal itu mungkin terjadi karena keluhan di grup WA maupun aplikasi bertukar pesan lainnya disampaikan dalam kesendirian. Kita sendiri cenderung tidak akan langsung mengeluh ketika sedang bertatap muka dengan orang lain. Butuh komunikasi pembuka terlebih dahulu sebelum pembicaraan sampai pada rumusan keluhan.

Kalau pakai gawai? Sedang guling-guling di kasur pun kita bisa meracau di grup WA yang isinya 100 orang, seolah kita adalah orang paling sengsara sedunia tanpa tahu kesusahan yang sedang dirasakan oleh 99 anggota grup yang mungkin akan membaca keluhan kita.

Kalau mengeluh di media sosial masih agak mendingan, karena pilihan untuk membaca suatu hal di beranda atau dinding sebuah akun media sosial merupakan pilihan. Sebuah status Facebook boleh di-like, bisa tidak, atau bahkan dapat dilewatkan sama sekali.

Artikel populer: Bincang-bincang Maha Asyik dengan Kubu Dildo Biar Netizen Mcqueen Yaqueen

Sedangkan grup WA sejatinya adalah kumpulan orang yang bersepakat tergabung dalam satu wadah karena kesamaan. Misalnya, sama-sama wali murid, sama-sama tertindas bos, sama-sama penggemar CEO Voxpop, dan lain-lain.

Layaknya percakapan, ketika kita melempar penyataan, sewajarnya akan ada orang yang menimpali. Beda mekanismenya dengan mengeluh di Instastory. Di grup WA, bisa jadi keluhan tidak direspons atau direspons tapi tidak sesuai harapan kita. Alih-alih katarsis, malah jadi penambah energi negatif.

Dan, jangan lupa, percakapan atas keluhan kita sesungguhnya menambah beban memori gawai teman-teman yang ada di grup WA. Jelas berbeda dengan keluhan di media sosial.

Jadi, mengeluh di grup WA yang notabene akan banyak yang membaca, jelas sekali lebih banyak mudaratnya. Selain menyebar energi negatif melintasi batas-batas komunikasi, tidak ada jaminan bahwa keluhan itu akan mendapat solusi.

Kalau memang pengen banget mengeluh di grup WA, pastikan terlebih dahulu bahwa kita adalah orang yang paling menderita di grup itu. Jika bukan yang paling menderita tapi butuh mengeluh, ya melenguh, eh?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.