Kesannya Peduli ‘Moms’, Nyatanya Malah ‘Mom-shaming’

Kesannya Peduli ‘Moms’, Nyatanya Malah ‘Mom-shaming’

Ilustrasi (Photo by Maria Teneva on Unsplash)

Satu per satu, teman-teman saya menikah dan punya anak. Topik obrolan pun berubah. Kalau dulu seputar kekerasan dalam pacaran, toxic masculinity, dan toxic-toxic lainnya, kini membahas beberapa fenomena krusial setelah menikah, salah satunya mom-shaming.

Mom-shaming semacam perilaku seorang ibu yang mempermalukan ibu lainnya, seolah-olah si pelaku mom-shaming itu lebih baik. Modusnya bermacam-macam, mulai dari mengomentari metode persalinan, pilihan ibu apakah memberi ASI atau susu formula pada anaknya, pola pengasuhan, cara menyuapi anak, hingga hal-hal yang sederhana; pilihan sepatu dan pakaian anak.

Mom-shaming ternyata juga dialami oleh perempuan yang sedang menjalani program kehamilan. Jadi, fenomena ini bukan cuma terjadi pada perempuan yang telah melahirkan anak.

Belum lama ini, seseorang berkata, “Kenapa orang-orang ini udah pada bunting? Emangnya tabungannya udah cukup buat besarin anak?”

Sontak, pernyataan itu ramai dibahas. Seorang perempuan yang sedang hamil muda kesal bukan kepalang hingga menangis. Ia merasa terluka, seakan-akan hanya orang yang bergelimang materi yang boleh hamil dan melahirkan anak.

Baca juga: ‘Body Shaming’ Nggak Lucu, Karena Cantik Itu Hanya Mitos

Pernyataan itu memang personal dan sebetulnya tidak perlu memberikan counter argument secara akademik. Namun, sering kali ketika kita belum berada dalam fase yang dialami orang lain, kita tak mampu memahami konteks dan berempati.

Cerita lainnya, ketika seseorang mengumumkan kehamilan. Kebetulan, ia memiliki badan yang bongsor, sehingga ketika ia mengandung, baby bump-nya terlihat cukup besar. Ia pun sering mengeluh karena banyak orang yang berkomentar, “Nikah baru kemarin kok perutnya udah gede? Hamil duluan yaa sis?”

Sekeras apa pun dia berusaha untuk tidak baper. Tapi, asal tahu aja neh, komentar yang kayak gitu nggak lucu.

Ada juga cerita, ketika seseorang mengirim screenshot statusnya yang marah-marah di Facebook. Dia memang sedang berada di fase yang cukup melelahkan dalam kehamilan, sehingga sering kali melampiaskan emosi di media sosial. Lalu, statusnya itu dikomentari, “Mendingan kamu jangan sering marah-marah deh, kasian anakmu kalau ibunya marah-marah.”

Ya bagaimana ya, orang yang belum pernah merasakan hormon kehamilan sulit memahami bahwa itu rasanya berkali-kali lipat dibandingkan hormon saat menstruasi.

Baca juga: Sebut Saja Menstruasi, Kenapa Merasa Risih?

Cerita pun berlanjut setelah bayinya lahir. Ternyata, penderitaannya belum berakhir. Beberapa orang yang datang menjenguk menganggapnya tidak mampu menahan rasa sakit, karena memilih bedah sesar.

Belum lagi, ia mengalami sindrom baby blues yang cukup berat. Kemudian, kembali melampiaskannya di media sosial. Polanya pun berulang, banyak orang yang memintanya lebih bersabar sebagai seorang ibu. Mungkin, itu maksudnya baik, tapi belum tentu benar. Ia butuh didengarkan, dukungan dari kita, bukan malah cenderung menasihati.

Lagipula, marah-marah di media sosial itu hak seseorang sebagai netizen. Sama halnya ketika kita pamer kebahagiaan. Masa kita harus dituntut terus untuk selalu bahagia? Kalau nggak suka, media sosial punya fitur cerdas untuk melindungi kita dari konten yang tidak kita inginkan: mute. Jadi, kalau untuk urusan ini, lebih cerdas saja dalam bermedia sosial.

Menahan emosi itu tidak baik, lho. Kamu mau nggak kalau kebahagiaanmu sebaiknya jangan dipamerkan di media sosial? Begitu juga dengan marah-marah, boleh dong dipamerin juga. Sebab media sosial adalah tempat pamer.

Baca juga: Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Sebagai info aja nih, emosi yang tidak memiliki ruang katarsis tak akan pergi ke mana-mana. Meski kita merasa telah berhasil meredam dan menguburnya, kelak ia akan kembali dengan cara yang tidak terduga. Bayangkan, jika emosi marah-marah terluapkan pada seorang anak, ia harus menanggung dampaknya.

Jadi, mending berhenti deh melakukan mom-shaming. Pelaku mom-shaming bukan hanya mereka yang secara sengaja ingin mempermalukan ibu lainnya, tapi sering kali dilakukan oleh mereka yang sebetulnya punya niat baik.

Mungkin, niatnya ingin kasih masukan, tapi ternyata melukai perasaan sang ibu. Tapi tetap saja, niatan tersebut bukan berarti menjadi legitimasi untuk menormalisasi perilaku mom-shaming.

Persoalan ini sebenarnya hanya satu dari sekian banyak lapisan beban yang dilekatkan pada perempuan. Jika melihat sejarahnya, mom-shaming telah berlangsung selama berabad-abad.

Menurut Virginia Rutter, seorang profesor sosiologi di Framingham State University, mom-shaming tidak pernah hilang, ia hadir dengan cara yang berbeda pada waktu yang berbeda pula.

Artikel populer: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Sejarawan Stephanie Coontz pun melacak masalah ini hingga ke zaman Revolusi Industri. Era itu mengubah struktur keluarga modern yang akhirnya melekatkan perempuan pada beban domestik. Ini bersifat “pekerjaan reproduksi ekonomi yang tidak berbayar”, dimana perempuan harus bertanggung jawab sepenuhnya pada anak dan urusan rumah.

Menurut dia, mom-shaming adalah bentuk dari upaya membuat sistem kapitalisme terlihat intim, manis, nyaman, dan memberikan ruang krusial bagi perempuan. Padahal, mereka sebetulnya dipinggirkan dari sistem produksi.

Sampai hari ini, masyarakat kita pun masih membebankan persoalan pengasuhan anak pada ibu semata. Seperti pilihan melakukan bedah sesar, misalnya, hanya ibu yang akan dinyinyirin. Padahal, untuk menjalankan operasi tersebut, dokter juga meminta persetujuan dari ayah.

Sementara itu, pilihan terkait pakaian, sekolah, hingga makanan anak pun sering kali dibebankan pada ibu. Tapi lucunya, ketika anak berprestasi, pertama kali yang ditanyakan oleh masyarakat kita adalah “siapa ayahnya”.

Hari ini, mom-shaming pun masih ada, kita masih sering melukai perasaan perempuan dan melekatkannya dengan beban-beban reproduksi atas nama ‘perhatian’ dan ‘kepedulian’. Tanpa kita sadari, sesungguhnya kita telah melakukan opresi terhadap tubuh perempuan.

Jadi, pernahkah kalian melakukan mom-shaming?

2 COMMENTS

  1. Ah bener bgt. Aku langsung hamil pas blm ada sebulan nikah aja dikatain hamil duluan. Dan parahnya banyak yg wanti2 aku kalo nanti lahiran jgn sesar yah. Normal aja biar jadi perempuan seutuhnya. Duh sakit hati bgt sh.

  2. Temenku pernah dibilang kurang usaha dan sabar, gara-gara kasih anaknya ASI dan sufor (susu formula). Yang punya badan siapa, yang sotoy siapa? Idih.

    Trus, ada juga yang suka bilang gini sama ibu yang milih ngadopsi anak: “Rasanya beda sama punya anak sendiri.” (Kandung maksudnya.) Padahal, gimana kalo ternyata si ibu secara fisik nggak bisa punya anak alias steril?

    Serius deh, mulut jahat beraksi karena yang bacot gak pake otak maupun hati. Cuma memuaskan ego sendiri.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.