Ilustrasi pekerja (Photo by Andrea Piacquadio from Pexels)

Saya tahu rasanya menganggur. Hampa dan insekyur.

Waktu saya memutuskan kuliah lagi setelah lulus jenjang sarjana, itu bukan lantaran minat belajar yang tinggi, melainkan persaingan tenaga kerja yang anjay. Namun, ternyata ijazah pascasarjana justru bikin peluang kerja semakin anjay. Perusahaan lebih memilih lulusan S1 yang punya pengalaman profesional ketimbang lulusan S2 minim pengalaman kerja.

Jadi, silakan pikir ulang, fresh graduate yang berencana S2 hanya karena tidak dapat pekerjaan sesuai passion.

Setinggi apa pun IPK tidaklah berguna, selain hanya mengantar ke tahap wawancara. Pengalaman praktik kerja lapangan itu lebih ‘menjual’ di pasar tenaga kerja. Oleh karenanya, secara filosofi, kebijakan Kampus Merdeka itu sip banget, yakni pendidikan berkarakter buruh. Cucok diterapkan di sebuah negara berkembang yang peradabannya dibangun atas kontribusi keringat buruh melalui sektor-sektor industri.

Penerapan Kampus Merdeka bisa membantu lulusan Ilmu Filsafat, Sosial dan Humaniora dalam bersaing di pasar tenaga kerja nantinya. Tahu sendiri kan kalau skill alumni fakultas-fakultas itu paling banter hanya berpikir dan ngomong dalam bahasa yang melangit. Dengan penerapan Kampus Merdeka, mereka akan lebih punya banyak SKS berupa praktik kerja ketimbang diskusi, seminar, dan ngopi.

Negara ini tidak butuh banyak filsuf, sosiolog, sejarawan, aktivis, apalagi penyair.

Baca juga: Kuliah S2 di Indonesia, Nasibmu Itu Lho!

Berapa banyak sih sarjana Ilmu Filsafat, FISIP, Humaniora yang terserap ke lapangan kerja sesuai dengan topik-topik makalah dan tugas akhir kuliah? Judul skripsi mereka memang keren-keren. Misalnya, “Tanda Zionisme dalam Film Kartun Anak di TV: Analisis Semiotika dalam Film Spongebob Squarepants”.

Tapi, tidak ada yang menjamin pekerjaan si penulis skripsi bakal jadi penyunting konten film. Siapa tahu dia malah jadi kader salah satu partai politik garis relijius atau jadi kasir di klinik pijat. Skripsi sekadar syarat administrasi. Proses bimbingan pun sekadar buat nambah-nambah kredit jabatan dosen.

Nasib kebanyakan lulusan fakultas Filsafat, Sosial dan Humaniora itu jangankan kerja sesuai passion, sesuai jurusan kuliah pun tidak. Alumni Hubungan Internasional (HI) kerja sebagai teller bank, marketing produk start-up, call center, ataupun akuntan. Alumni Filsafat jadi juragan olshop dan sarjana Ilmu Pemerintahan jadi juru pemasaran produk asuransi, juga ada. Ini semua diangkat dari kisah nyata, ya.

Baca juga: Selain Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kerja Bertepuk Sebelah ‘Passion’ adalah Kesengsaraan

Adapun yang tidak sesuai jurusan, tapi minimal sesuai passion, biasanya tidak sesuai dengan gaji yang diharapkan. Misalnya, alumni FISIP bekerja sebagai barista di kedai kopi. Di Indonesia, kuliah belajar apa dan lulus bekerja apa adalah sebuah kejutan.

Dan, yang paling apes dari semuanya adalah kerja tidak sesuai passion, tidak sesuai jurusan, tidak sesuai gaji yang diharapkan pula. Itu pengalaman saya. Punya pekerjaan saja sudah bersyukur, boro-boro mau milih yang sesuai passion, jurusan, dan gaji yang diharapkan. Menawarkan ijazah pascasarjana semata di pasar tenaga kerja tidak menjamin seseorang bisa memilih pekerjaan sesuai bidang, passion, maupun expected salary.

“Itu tetangga saya lulusan SMK sekarang jadi peternak lele sukses beromzet ratusan juta. Saya lho anak tukang becak bisa dapat beasiswa dokter di Harvard. Memang dasar mbaknya yang julid dan kurang usaha sih.”

Siapapun yang membatin begitu, sungguhlah saya percaya pada Anda. Pun, akan saya akui kalau saya kurang usaha dan banyak sambat. Tapi, tapi… Memangnya berapa banyak kisah sukses semacam itu? Apa jutaan angkatan tenaga kerja lainnya juga sekurang berusaha saya?

Baca juga: Suara-suara Sarjana yang Bekerja Tak Sesuai Jurusannya

Riset SMERU Research Institute menjelaskan bahwa kesuksesan bukan hanya dilatarbelakangi kapasitas otak dan usaha individu semata, namun juga modal individu. Bahkan, kapasitas otak sekalipun dibentuk oleh lingkungan yang sehat dan asupan nutrisi sejak kecil, lho!

Buku-buku berkualitas memang mampu membangkitkan minat literasi, imajinasi, dan membuka cakrawala pengetahuan. Instrumen belajar yang canggih dapat mengasah intelegensia ataupun kefasihan berbahasa asing. Tapi, siapa yang bisa mengaksesnya jika bukan anak-anak dengan latar belakang orangtua yang terdidik dan berfinansial cukup?

Modal individu yang dimiliki oleh Maudy Ayunda jauh berbeda dengan anak perempuan pedagang kaki lima. Kalaupun atas seizin Tuhan anak pedagang ini mampu memperoleh beasiswa yang sama dengan Maudy Ayunda, perjuangannya pun akan sangat berbeda.

Jadi, hanya karena kita lahir di bawah langit yang sama, bukan berarti dunia kita sama. Individu-individu yang berada di posisi yang sama pun bukan berarti pula perjuangannya setara. Jangan lupa kalau ada ketimpangan, baik dari aspek kelas sosial, ras, dan gender.

Artikel populer: Untukmu yang Suka Tanya atau Pamer Jurusan Kuliah

Sebab itulah, kadang-kadang saya jadi overthinking. Membayangkan seandainya Isyana Sarasvati adalah anaknya tetangga saya yang kuli bangunan. Apa mungkin bakat seni suaranya muncul dan terfasilitasi dengan baik? Saya duga ia paling-paling tamat SMK, lalu karier tertingginya adalah jadi buruh pabrik garmen pemasok sempak.

Anak-anak muda yang tumbuh dengan kemiskinan – dihibur dengan dangdutan dan jauh dari akses pengetahuan – seakan tidaklah pantas berharap terlalu tinggi bisa kerja sesuai passion, jurusan, dan mengisi kolom expected salary di aplikasi lamaran kerjanya. Mereka itu diterima sebagai karyawan dengan UMR dan jam kerja manusiawi saja sudah patut bersyukur dan bangga. Perjuangan memperoleh UMR itu sudah perjuangan besar bagi buruh manufaktur. Anjay!

2 KOMENTAR

  1. Di desa dan kelas menegah kebawah. Harapan untuk menggapai cita-cita tinggi menjadi sangat berbeda perjuanganya. Dari pada orang yang memiliki privilage. Sekalipun saya yang miskin dan lingkungan yang menutup diri. Akan sulit untuk bergerak. Karena pola lingkungan yang tidak mendukung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini