Mencari Alasan Mengapa Kerajaan Ubur-Ubur Memilih Ubur-Ubur sebagai Nama

Mencari Alasan Mengapa Kerajaan Ubur-Ubur Memilih Ubur-Ubur sebagai Nama

Ilustrasi (Stefan Keller via Pixabay)

Akhir-akhir ini ubur-ubur sudah bukan hanya milik Spongebob dan Patrick. Satu sekte yang sudah dicap sesat muncul membawa label ubur-ubur.

Justru yang pertama muncul di kepala bukan tentang keyakinan macam apa yang mereka bawa sampai dibilang sesat, melainkan pertanyaan, “Kenapa diberi nama ubur-ubur?” Bukan gurita yang lebih gelap, menyeramkan, penuh muatan mistis dan konspiratif, sebagai sesama hewan laut yang mirip-mirip.

Mengutip dari banyak berita, ternyata nama Kerajaan Ubur-Ubur diambil karena sifat ubur-ubur yang mampu menenggelamkan kapal ketika mereka bersatu. Benarkah ubur-ubur mampu menenggelamkan kapal? Atau hanya pemaknaan klise soal sesuatu yang tidak diperhitungkan tetapi mampu berbuat besar?

Ternyata memang pernah terjadi. Sekelompok ubur-ubur pernah menenggelamkan kapal nelayan di lautan timur Jepang pada 2009 silam. Kapal penangkap ikan bernama Diasan Shinsomaru seberat 10.000 kg terbalik, ketika tiga awak kapal sedang mengangkat jaring penangkap ikan.

Ternyata, jaring tersebut berisikan puluhan ubur-ubur spesies raksasa yang disebut ubur-ubur Nomura. Setiap ubur-ubur Nomura bisa mencapai berat 200 kg. Tak bisa dihindari, kapal pun terbalik dan tiga awaknya terlempar ke laut.

Peristiwa tersebut mendukung pemaknaan ubur-ubur yang disebutkan oleh salah satu anggota Kerajaan Ubur-Ubur yang diberitakan banyak media. Setidaknya nggak ngawur-ngawur amat. Ubur-ubur pun punya sejarah menenggelamkan kapal.

Namun, yang keluar dari mulut anggota sekte Kerajaan Ubur-Ubur soal alasan di balik penamaan hanya sebatas itu saja. Rasanya kurang puas dan kurang meyakinkan, jika tidak dibarengi penjelasan yang lebih mendalam.

Baca juga: Ngaku Penggemar Bu Susi, tapi Disuruh Makan Ikan saja Susah

Maka, saya tergerak untuk mengungkap lebih dalam alasan penamaan ubur-ubur tersebut. Anggaplah sudah kepalang tanggung diberi nama ubur-ubur.

Selanjutnya, tinggal mencari tanda-tanda untuk dimaknai dan kemudian dipelajari dari ubur-ubur untuk kehidupan manusia. Anggap saja penulis sedang latihan menjadi Benjamin Hoff. Tentu yang gadungan.

Ubur-ubur adalah cermin kepura-puraan manusia

Jika memandang ubur-ubur sebagai hewan laut tok, sudah jelas tak berarti. Kurang enak, jika dipakai sebagai nama kerajaan.

Ubur-ubur tak bisa berpikir, hanya mengambang, meluncur pelan, lemah melawan gelombang. Setelah melalui beberapa jam, hari, minggu, bulan, kemudian mereka mati. Tamat.

Namun, prinsip yang sama berlaku juga bagi manusia. Kebanyakan dari kita berpura-pura jadi seorang yang unik. Sementara itu pada saat yang sama, kita menginginkan hal yang sama persis, yaitu penerimaan dari orang lain.

Baca juga: Daripada Revolusi Putih, Mending Revolusi Biru

Pemikiran kita tidaklah asli milik kita sendiri, melainkan produk dari harapan orang lain terhadap kita, yang kita bawa seumur hidup. Setelah melalui beberapa jam, hari, minggu, bulan, tahun, dekade, kemudian kita juga mati. Tamat.

Menarilah dalam arus, seperti ubur-ubur

Mari melihat gerak ubur-ubur yang melayang di tengah laut, menghentak pelan ke atas lalu ke bawah. Pasang surut kehidupan akan sangat indah, jika dilihat seperti itu. Terkadang lebih baik melayang menyerahkan diri kepada arus daripada melawannya.

Jangan menilai efisiensi dari penetrasi

Gerak ubur-ubur dengan cara mengembangkan tubuhnya yang seperti lonceng itu memang terlihat tidak efisien. Padahal, justru sangatlah efisien untuk menyerap plankton dalam jumlah banyak sebagai makanan.

Artikel populer: Cara Memuji Tubuh Seseorang Agar Dia Tidak Merasa Tersinggung

Hikmahnya adalah, terkadang kita sangat rentan mengalami framing-error, salah mengartikan permasalahan sebenarnya dari suatu kejadian karena terlampau reaktif.

Regenerasi untuk keabadian

Beberapa ahli mengatakan bahwa ubur-ubur sudah hidup sejak jaman dinosaurus. Terbilang sangat tangguh. Bahkan ubur-ubur jenis Turritopsis nutricula dikatakan dapat hidup abadi secara biologis di dunia fana ini.

Ubur-ubur ini bisa hidup abadi karena kemampuannya meregenerasi sel-sel secara terus menerus. Seperti halnya dalam organisasi atau komunitas, regenerasi terus menerus itu penting untuk keberlangsungan. Atau sama halnya seperti penulis dan bukunya, cetak ulang itu penting untuk keabadian.

Soal pelajaran hidup tentu banyak lagi yang bisa digali kalau tidak mau disebut mengada-ada. Manusia akan terus mengamati segala hal lalu disangkutpautkan dengan keberadaan dirinya.

Atau mungkin, manusia memang sudah menjadi ubur-ubur? Terombang-ambing di lautan, menyuntikkan racun pada apapun yang tersentuh, lalu makan dan buang air melalui lubang yang sama?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.