Ilustrasi (Pexels/Pixabay)

Mitos keperawanan masih saja langgeng dalam masyarakat kita. Itu sebabnya kalau ngobrolin masalah consent (persetujuan) dianggap mengajarkan seks pranikah. Dan, perempuan yang sudah ‘tidak perawan’ sebelum menikah dicap tidak suci. Sementara, perempuan yang nggak nikah-nikah dilabeli ‘perawan tua’.

Hadeuhh… dasar society!

Itu pula sebabnya banyak orang menikah hanya karena butuh legalisasi di atas kertas supaya bisa making love dengan pasangan. Biar nggak digeruduk kos-kosannya. Apakah pernikahan itu menjadi jaminan hidup bahagia? Belum tentu. Sebab banyak juga yang melajang bisa hidup bahagia. Kita saja yang terlalu berprasangka.

Ironisnya, masalah pernikahan dan mitos keperawanan seolah menjadi satu. Masih banyak yang menganggap keperawanan itu soal ada atau tidaknya selaput dara. Ketiadaan selaput dara seakan menjadi malapetaka.

Padahal, sudah banyak penelitian dan temuan ilmiah soal selaput dara. Bukan berlandaskan mitos yang diciptakan masyarakat patriarki untuk mengontrol hidup perempuan hingga ke urusan tubuh dan seksualitasnya.

Baca juga: Kalau Keperawanan Bukan soal Selaput Dara, soal Apa Dong?

Parahnya, keperawanan itu diklaim sebagai hak milik laki-laki, yang wajib diserahkan oleh perempuan pada malam pertama pernikahan. Lha, itu sebenarnya yang punya tubuh siapa sih? Perempuan kok kayak punya semacam utang yang kudu ditagih pada waktu tertentu?

Nah, karena klaim tersebut, maka dikaitkanlah keperawanan itu dengan mitos-mitos perihal kesakralan dan kesucian. Diciptakanlah, kebohongan-kebohongan untuk mendiskreditkan perempuan. Mungkin sebagian besar dari kita tumbuh di tengah kebohongan yang hingga kini begitu dipelihara.

Pernah dengar ucapan kalau keperawanan perempuan bisa dilihat dari bentuk payudaranya yang masih kencang dan membusung? Padahal, kita tahu bahwa bentuk payudara setiap perempuan berbeda dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan keperawanan.

Ada pula yang menyebutkan bahwa keperawanan perempuan bisa diketahui dari caranya berjalan. Perempuan yang berjalan mengangkang dianggap sudah tidak perawan. Duh, bagaimana dengan orang yang punya kelainan ortopedik hingga kakinya menyerupai huruf O atau X? Apa iya mereka sudah ‘tidak perawan’?

Baca juga: Salah Paham soal Selaput Dara

Terus, ada juga yang ngomong bahwa keperawanan bisa dicek dari besarnya ibu jari dan telunjuk. Atau, dari warna telapak tangan dan puting payudara. Lalu, tampon atau menstrual cup katanya bisa menghilangkan keperawanan.

Dan, yang sering kali kita dengar selama ini bahwa perempuan yang masih perawan pasti merasa kesakitan dan vaginanya berdarah saat berhubungan seks. Padahal, belum tentu.

Semua anggapan tersebut sebetulnya bisa dipatahkan dengan logika, karena berakar pada mitos yang dibangun hanya untuk mensubordinasi perempuan. Mitos yang dilanggengkan hanya untuk merisak, membatasi ruang gerak, serta mereduksi harga diri perempuan. Tujuan akhirnya memaksa perempuan untuk ‘tahu diri’, kemudian menihilkan dirinya untuk setara dengan lelaki.

Celakanya, pemelihara mitos-mitos ini juga sesama perempuan. Sedih…

Padahal, budaya patriarki sudah jelas manipulatif. Memelihara mitos keperawanan sedemikian rupa agar perempuan merasa tak berharga. Di sisi lain, budaya ini juga merisak perempuan yang tak kunjung menikah atau memilih untuk tidak menikah.

Baca juga: Tidak Menikah Itu Normal, Sebagaimana Mereka yang Menikah

Kalau kita cermati logika patriarki, perempuan yang tak kunjung menikah dan masih perawan berarti mereka menjaga kesucian, kan? Tapi kenapa dirundung juga sebagai perawan tua, patriarkiiii..??

Aneh nggak sih, masa keperawanan dibagi menjadi dua golongan: perawan muda dan tua. Hih, konyol!

Segala perundungan terhadap perempuan yang melajang atau masih lajang ini juga tak kalah kejam. Perempuan dibuat merasa bersalah karena belum atau tidak menikah. Selain label ‘perawan tua’, sering kali dibilang ‘nggak laku’. Lalu, kalau dijodohin, orangtua suka bilang, “Masih untung ada yang mau sama kamu, lho!” Jika menolak, siap-siap dicap sebagai anak yang tidak berbakti kepada orangtua.

Seribet itu ya jadi perempuan, seolah nggak punya hak dan kemerdekaan atas tubuhnya sendiri. Segala sesuatu diatur oleh keluarga, juga masyarakat. Saat bersuara dan menentang, pasti bakal banyak hujatan, semisal dibilang “dasar perempuan keras kepala, makanya nggak laku, lelaki mana yang mau dengan perempuan kepala batu”.

Ngeselin, kan?!

Artikel populer: Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi

Beda halnya dengan laki-laki lajang. Meski sudah berumur dan tak kunjung menikah, kehidupan mereka tampaknya baik-baik saja. Nggak panen julidan seperti yang dialami perempuan lajang.

Saat ada laki-laki lajang usia 30 tahun, sudah bekerja, dan belum menikah, tanggapan masyarakat kita biasanya seperti ini: “Ah, masih muda, nggak usah buru-buru menikah. Nikmati aja dulu masa mudanya.”

Giliran ada perempuan lajang usia 30 tahun, sudah bekerja, dan belum menikah, tanggapan masyarakat kita biasanya seperti ini: “Umur udah 30 kok belum nikah? Umurmu sudah tua loh, mau nyari yang kayak apa lagi? Sebentar lagi kamu kisut dan berkeriput. Kalau sudah begitu, laki-laki mana yang mau? Lagian ngapain kerja, punya jabatan tinggi, yang ada nanti para lelaki jiper duluan mau ngedeketin kamu.”

See… sama-sama usia 30 tahun, tapi kedudukan antara laki-laki dan perempuan tidak egaliter.

Ya gitu deh, patriarki. Katanya selalu mengedepankan logika, nyatanya malah mereduksi logika demi melanggengkan mitos keperawanan. Dan, perempuan dibuat merasa berutang ‘keperawanan’ pada malam pertama pernikahan.

Maap, itu malam pertama atau tanggal jatuh tempo?

1 KOMENTAR

  1. Jangan salah, cewek badan gemuk kayak saya pun suka disangka “udah gak perawan”, gara2 asumsi badan saya mirip “bodi emak2”. Giliran yang kurus tapi anak udah 4, itu muka pada takjub semua kayak liat jelmaan dewa. HIH!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini