Ilustrasi solidaritas. (Photo by Toa Heftiba on Unsplash)

Di podcast Deddy Corbuzier, Nadin Amizah sempat berbicara tentang orang miskin yang sibuk membenci dunia. Belakangan diketahui bahwa kalimat kontroversial itu dimaksudkan sebagai penafsiran ulang sebuah hadits. Bunyinya “Kemiskinan itu dekat dengan kekufuran”.

Adalah pedoman hidup yang pernah disampaikan sang bunda kepada Nadin kecil. Bedanya, penyampaian Nadin dewasa terasa indie nan edgy saja, sehingga memantik perdebatan. Alhasil, nama Nadin Amizah trending di Twitter, sebelum akhirnya ia minta maaf.

Padahal, sibuk membenci dunia kurleb sama dengan kufur. Contohnya kufur nikmat, penyakit hati yang membuat seseorang sibuk mengeluh dan lupa bersyukur. Makanya jadi tidak sempat membantu orang lain karena fokus merutuki nasib sendiri.

Di media sosial, Nadin Amizah dikenal sebagai penyanyi yang getol memberikan compliment kepada penonton konsernya. Yakni, kalimat penyemangat berbunyi, “Terima kasih sudah berjuang sampai sekarang.”

Saking populernya, kalimat sakti milik ibu peri itu pernah muncul di layar megatron dalam serial Alice in Borderland untuk menyemangati Arisu dan penyintas permainan lainnya. Juga pernah jadi latar belakang Presiden Jokowi disuntik vaksin.

Tentu saja itu cuma editan. Yang jelas, kata-kata Nadin berpengaruh terhadap budaya populer, khususnya asupan meme dan shitposting.

Baca juga: 3 Golongan Orang yang Ngegas soal Kemiskinan Berdasarkan Cara Pandang

Gara-gara polemik miskin-kaya tadi, bisa saja Nadin bakalan mengganti kalimat apresiasi untuk penontonnya dengan kalimat yang lebih jujur, “Terima kasih sudah ber-uang sampai sekarang.” Soalnya tanpa uang, tidak bisa beli tiket konser untuk support idola.

Atau, bisa saja Nadin malah memuji strategi pemerintah dalam menangani pandemi di Indonesia dengan kalimat, “Terima kasih sudah berutang sampai sekarang.”

Namun, Nadin juga perlu tahu bahwa orang kaya bisa dekat dengan kejahatan. Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely. Kekuasaan cenderung korup, kekuasaan mutlak benar-benar merusak.

Punya kekayaan berarti punya kekuasaan. Kekuasaan bisa digunakan untuk menerapkan keadilan, tetapi bisa juga untuk memenuhi hasrat pribadi dan golongan.

Contohnya, korupsi dana bansos yang dilakukan oleh orang kaya dan kuasa. Itu termasuk penyalahgunaan wewenang alias abuse of power. Dalam kasus ini orang miskin malah jadi korban. Ada andil orang kaya yang membuat si miskin membenci dunia.

Baca juga: Ibarat Virus yang Enggan Pergi, Apakah Pandemi Korupsi Bisa Berhenti dengan Hukuman Mati?

Dunia juga bisa menjadi tidak menyenangkan ketika orang kaya sibuk pamer harta di TikTok. Seperti borong barang branded ratusan juta dan menyebutnya murah. Nongkrong di mal mevvah dan makan di restoran mahal dengan total bill seharga motor bebek.

Tren pamer ini membuat orang kaya berlomba-lomba menjadi hedonis supaya viral dan ditonton semua orang. Sebab untuk saat ini, validasi adalah kunci. Sisi kelamnya, pamer kekayaan hanya membuat jurang antara si kaya dan si miskin semakin terlihat jelas.

Saat ada yang makan sushi seharga Rp 100 ribu sekali suap, ada yang menjatah selembar pecahan Rp 100 ribu untuk stok bahan makanan selama seminggu. Plus, isi ulang gas elpiji melon yang bertuliskan “Hanya untuk masyarakat miskin”. Hidup penuh perjuangan.

Mungkin unggahan di TikTok juga yang membuat ada anggapan orang kaya mudah berbuat baik. Selain mengajarkan pamer, di TikTok juga ada video inspiratif yang mengajarkan kebaikan dan indahnya berbagi.

Salah satunya video inspiratif yang bercerita tentang orang miskin mencuri gorengan dari orang kaya. Lalu, orang miskin itu berlari ke rumah gubuknya. Eh, isi rumah gubuknya kok kayak kamar hotel? (Mungkin karena kreatornya orang kaya jadi seperti di ‘menara gading’ dan tidak tahu seperti apa kamar orang miskin).

Baca juga: Jika Selebgram, Youtuber, dan TikToker Gelar Live Streaming Disuntik Vaksin

Kemudian, si kaya memaafkan kesalahan si miskin dan mengikhlaskan gorengannya, begitu tahu gorengan itu untuk seorang nenek yang sakit. Ending-nya, orang kaya tersebut berpose sok keren karena merasa sudah berbuat baik.

Padahal kalau benar-benar kaya, baik hati, rajin menabung, dan suka menolong, dia bisa mengantarkan nenek yang batuk-batuk itu ke dokter, alih-alih membiarkannya mengudap gorengan yang bikin tenggorokan makin gatal.

Sebenarnya kita bisa melihat perilaku orang kaya dan orang miskin yang lebih believable di film Parasite. Di situ, ada dialog yang menyebutkan bahwa orang kaya terasa wajar berbuat baik, karena mereka memang mampu. Ditambah ada materi yang bisa dibagi ke sesama, tapi takut habis.

Namun, orang kaya juga cenderung merendahkan orang miskin. Seperti menganggap orang miskin bisa sewaktu-waktu berbuat kriminal atau menularkan penyakit. Membuat harga diri si miskin terluka. Bagian akhirnya, apa yang ditakutkan si kaya terhadap si miskin menjadi kenyataan.

Menjadi kaya memang dianjurkan. Sebab ibadah seperti naik haji dan ber-qurban butuh harta yang tak sedikit. Namun, yang lebih penting dari itu adalah hati yang kaya.

Artikel populer: Cek Seberapa Borjuis atau Proletarnya Kamu setelah Nonton Parasite

Sebab orang miskin yang berhati kaya bisa berempati kepada sesama. Tahu rasanya kelaparan, ketika punya sepotong roti, ia bagi dua dan memberikan kepada yang perutnya sama-sama bunyi.

Orang kaya yang berjiwa miskin justru sebaliknya. Bantuan untuk orang miskin bisa disikat juga. Dengan pura-pura miskin supaya kebagian jatah yang bukan haknya.

Memang banyak orang kaya yang memberikan bantuan rutin kepada mereka yang berhak, seperti anak yatim dan kaum dhuafa. Namun, yang harus diingat, tak jarang orang kaya juga memberikan jatah bulanan kepada yang berhak… tinggi sepatunya. Alias sugar baby pakai high heels.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini