Kepada Lelaki Nusantara yang Masih Nafsu dan Nyinyirin Pakaian Seksi

Kepada Lelaki Nusantara yang Masih Nafsu dan Nyinyirin Pakaian Seksi

Ilustrasi perempuan (Photo by Chaozzy Lin on Unsplash)

Ada yang unik di sekolah anak saya. Setiap Jumat, sekolahnya mengadakan kelas diskusi tentang apa saja untuk sedikit menghilangkan jarak antara guru dan murid. Hingga suatu hari, tema yang dibahas menyangkut persoalan sexual rape di kalangan remaja.

Saya pikir itu tema yang bagus, namun si anak perlu ngobrol-ngobrol dulu dengan orangtuanya sehari sebelum diskusi. Bukan apa-apa, menghadapi anak remaja yang memasuki masa puber memang tidak mudah. Apalagi di zaman sekarang, arus informasi begitu mudah diakses. Mau yang baik, buruk, atau hoaks sekalipun.

Singkat cerita, saya coba memperlihatkan beberapa berita tentang kejahatan seksual yang dilakukan oleh oknum guru. Mulai dari oknum guru SD, SMP, SMU, bahkan dosen. Mengapa? Agar anak paham bahwa kejahatan seksual bisa terjadi di mana saja, pelakunya bisa siapa saja, dan apa pun pakaiannya.

Terlebih, dalam beberapa kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum guru kepada muridnya, terdapat unsur relasi kuasa. Bahkan, sering kali murid diancam akan diberikan nilai pelajaran yang jelek, jika tak mau menuruti kemauan oknum guru tersebut.

Satu kasus pelecehan seksual dengan relasi kuasa di sekolah, yang saya jadikan contoh kepada anak saya, adalah apa yang dialami Nusrat Jahan Rafi di Bangladesh. Perempuan berusia 19 tahun itu meninggal dunia secara mengenaskan, yaitu dibakar di atas atap sekolahnya.

Baca juga: Bagaimana Melepaskan Diri dari Relasi Kuasa Hubungan Seksual

Peristiwa itu terjadi sehari setelah tuntutan atas kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh kepala sekolahnya, Siraj ud-Daula, terhadap diri Nusrat, terpenuhi.

Awalnya, Siraj ud-Daula meminta Nusrat untuk membatalkan tuntutannya dengan ancaman pembunuhan. Namun, Nusrat tak mau memenuhi ancaman kepala sekolahnya yang sudah dipenjara itu. Hingga akhirnya, Siraj meminta kepada beberapa orang untuk membunuh Nusrat, alih-alih mengakui kesalahannya.

Dari kasus itu, kita bisa lihat bagaimana relasi kuasa bekerja, yang dengan mudahnya mengancam-ancam korban.

Sementara itu, di masyarakat kita, juga sering kali terjadi kekerasan seksual di sekolah dengan relasi kuasa semacam itu. Biasanya, orangtua atau wali murid baru mengetahuinya setelah kejadian kedua, ketiga, bahkan keempat.

Korban merasa tidak berani melapor kepada keluarga atau orangtuanya, karena takut dengan ancaman-ancaman si pelaku. Apalagi, pelakunya adalah guru atau kepala sekolah yang selama ini mendapat tempat terhormat di masyarakat kita, karena dianggap mumpuni, terpelajar, dan bijaksana.

Baca juga: Cek Lagi soal ‘Rape Culture’, Jangan Sampai Kamu Jadi Antek-anteknya

Kasus-kasus semacam itu tidak hanya terjadi di sekolah umum saja, melainkan di sekolah-sekolah agama. Bahkan, ada yang korbannya mencapai belasan anak!

Di sisi lain, masih banyak juga orangtua yang enggan melapor kepada pihak berwajib, karena merasa malu kalau orang lain tahu bahwa anaknya sudah ‘ternoda’. Tahu sendiri kan masyarakat kita? Alih-alih berempati atau ikut menolong, korban dan keluarganya malah mendapat semacam ‘sanksi sosial’.

Sementara, hukum negara ini yang belum benar-benar memihak korban kekerasan seksual. Semisal, korban yang mengandung bayi hasil pemerkosaan tak diperkenankan untuk aborsi, dengan alasan kemanusiaan. Tapi hukum lupa bahwa si ibu korban pemerkosaan ini juga manusia, yang punya hak untuk merasakan arti kemanusiaan.

Belum lagi, dalam masyarakat rape culture, posisi perempuan sebagai korban juga sering kali disalahkan. Perempuan malah dianggap sebagai pihak yang ‘mengundang’ laki-laki untuk melakukan pelecehan. Salah satu yang sering dipersoalkan adalah pakaian perempuan yang dianggap seksi.

Padahal faktanya, pakaian perempuan bukan pemicu terjadinya pelecehan. Seperti kejadian di Bandung beberapa waktu lalu, di mana kasus pencabulan anak melibatkan seorang guru mengaji. Si korban jelas masih anak-anak. Nggak mungkin pula pakai baju seksi yang bisa mengundang birahi, wong mau mengaji.

Baca juga: Panca Azimat Penangkal Pelecehan di Jalan

Nah, untuk persoalan ini, Lentera Sintas Indonesia pernah merilis data tentang pakaian yang dikenakan para korban pelecehan seksual, yang justru jauh dari kesan seksi.

Dari 62 responden, tercatat 18% dari korban ini memakai rok/celana panjang, 17% memakai hijab, 16% memakai baju lengan panjang, 14% memakai seragam sekolah, dan 14% memakai baju longgar.

Makanya, ketika nonton sutradara John De Rantau di sebuah acara TV yang mengomentari Shandy Aulia, saya kok jadi kesal. Komentar John De Rantau itu misoginis banget.

Duh, segitunya menganggap bahwa semua lelaki di Nusantara sama dengan dirinya, yang menginginkan Shandy Aulia ketika memakai baju yang sangat tipis dan memperlihatkan seluruh bentuk serta lekuk tubuhnya. Bahkan, dengan alasan itu pula, menurut John, Shandy tidak boleh marah kalau ada netizen yang mem-bully, sebab Shandy-lah yang dianggap mengundang reaksi itu.

Sementara, jawaban dari Shandy segitu classy-nya, tetep aja wise, pelan, selow, nggak pake ngegas ala knalpot bodong. Coba gitu, saya yang jadi Shandy Aulia, pasti deh jawaban saya bakal kayak motor di arena balap, “Yaelah mas, kalau punya pikiran mesum mah, mesum aja, gosah nyalah-nyalahin baju orang, keleus!”

Artikel populer: Bercinta dengan Tubuh Sendiri, Kenapa Tidak?

Pantesan aja, selama ini nggak banyak artis kita yang mau bersuara atau bikin action melawan pelecehan seksual. Perihal ini, kita bisa lihat Hannah Al Rasyid. Aktris dan model ini bahkan membuat petisi terkait pelecehan seksual yang pernah dialaminya selama di dunia hiburan.

Hannah termasuk aktif berkampanye tentang pelecehan seksual, walaupun resikonya berat. Tak hanya ditolak di beberapa film, pastinya lingkup kerjanya menjadi terbatas karena aktif menyuarakan keadilan bagi perempuan.

Hannah berharap lebih banyak perempuan yang mau bersuara dan peka terhadap isu-isu kekerasan seksual. Salute untuk Hannah Al Rasyid, karena perjuangan semacam ini jelas tidak mudah di negeri ini.

Di Hollywood, gerakan #MeToo sudah dimulai, menyusul kelakuan Harvey Weinstein, produser film asal Amrik, yang melakukan pelecehan seksual terhadap puluhan aktris di negara tersebut. Kasus ini tentunya tak lepas dari apa yang disebut relasi kuasa.

Hanya saja, Harvey Weinstein tidak membawa-bawa nama “lelaki se-Nusantara” sebagai pembenaran atas otak mesumnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.