Kenapa sih yang Tua Doyan Mencibir yang Muda?

Kenapa sih yang Tua Doyan Mencibir yang Muda?

Ilustrasi (Image by David Bruyland from Pixabay)

Beberapa tahun terakhir, milenial mungkin jadi generasi yang paling dicibir bahkan dibenci. Milenial oleh generasi lebih tua (Gen X dan Baby Boomer) sering dibilang sombong, tak sopan, malas, cengeng, mentalnya lemah, tidak sabaran, dan masih banyak lagi.

Namun, layaknya perpeloncoan dalam ospek, milenial yang makin menua juga mulai terjangkit tradisi dari generasi bangkotan itu, menyindir generasi Z.

Saya sebenarnya tak terlalu suka akan pelabelan generasi ini. Namun, untuk beberapa kasus, penggolongan generasi ini bisa jadi alat yang membantu peneliti untuk menganalisis perubahan dalam pandangan dari waktu ke waktu.

Lewat kohort generasi, kita bisa lebih mudah memahami bagaimana pengalaman formatif yang berbeda, seperti perubahan teknologi, ekonomi dan sosial, serta berinteraksi dengan siklus hidup dan proses penuaan yang kemudian membentuk pandangan orang tentang dunia.

Menjadi masalah ketika pengkategorian generasi ini dipakai layaknya tribalisme: untuk meromantisasi superioritas satu golongan dan menempelkan stereotip, bahkan stigma pada golongan lain.

Tribalisme adalah naluri manusia, bahwa kita doyan mengorganisir diri menjadi kelompok-kelompok, baik dengan bergabung dalam satu kelompok, maupun menentang yang lain. Ini sebenarnya sifat yang berguna di masa lalu, dan dalam beberapa hal punya manfaatnya bahkan hingga hari ini.

Baca juga: Saran untuk Milenial yang Instagramnya Kurang Bergengsi

Yang paling sering terjadi adalah bahwa generasi yang lebih tua menyalahkan generasi yang lebih dini. Hal ini bisa dijelaskan secara Darwinian, bahwa kita selalu mereplikasi usaha yang punya dampak pada kelangsungan hidup kita untuk diwariskan pada keturunan selanjutnya.

Kelompok yang lebih tua adalah anggota spesies yang berhasil, disebabkan sudah hidup lebih lama. Dari sini timbul anggapan bahwa segala yang telah membawa mereka sampai hari ini pasti baik. Jadi ketika kelompok tua melihat yang lebih muda mengambil jalan yang berbeda, mereka khawatir.

Karena menganggap dirinya sudah hidup lebih lama, timbul keinginan untuk mengomentari ini-itu. Kamu sendiri mungkin pernah mengeluh kalau “kid zaman now” itu begini-begitu, kan?

Ada istilah untuk perasaan ini: juvenoia. Diciptakan oleh sosiolog Simon David Finkelhor, yang menjelaskan bahwa juvenoia adalah ketakutan berlebihan terhadap hal-hal yang mempengaruhi anak muda masa kini. Finkelhor menggunakan istilah ini dalam jurnal berjudul “The Internet, Youth Safety and the Problem of ‘Juvenoia’” yang diterbitkan oleh Crimes Against Children Research Center.

Baca juga: Daripada Meladeni Arogansi Anak 90-an, Ini yang Bisa Dilakukan Anak 2000-an

Dalam jurnal tadi, Finkelhor menyoal kekhawatiran para orangtua dan pembuat kebijakan terhadap adanya internet yang bakal merusak generasi muda. Meski istilah ini diciptakan pada tahun 2010, fenomena ini telah mendarah daging di masyarakat kita selama ribuan tahun. Finkelhor menyebut fenomena begini sudah ada sejak Yunani kuno, ketika Sokrates mencibir bahwa bocah hari ini tak tahu adat, tak punya sopan santun dengan yang lebih tua.

Aristoteles, generasi bocah yang dicibir Sokrates tadi, ikut dalam siklus saling menyalahkan ini. Dalam Rhetoric yang ditulis pada abad ke-4 SM, Aristoteles menyebut bahwa anak muda itu berpikir ketinggian karena mereka belum dihadapkan pada kehidupan, atau tidak pernah dipaksa keadaan. Aristoteles menambahkan cibirannya, “Mereka pikir mereka tahu segalanya, dan selalu yakin tentang itu.”

Sejak saat itu, orang yang lebih tua telah mencibir yang muda selama lebih dari 2.000 tahun. Yang mengejutkan adalah, bahwa selama berabad-abad, kritik mereka sangat mirip. Dari keluhan bahwa generasi yang lebih muda terlalu berhati-hati namun berbahaya, terlalu khawatir tentang dunia dan pada saat yang sama terlalu mementingkan diri sendiri, hingga mencibir selera musik yang makin ngak-ngik-ngok.

Baca juga: 3 Nasihat yang Tidak Perlu Didengar oleh Orangtua Milenial

Dari Sokrates yang mencibir Aristoteles, sampai Budiman Sudjatmiko yang meremehkan aktivisme Awkarin, apa yang salah dengan anak muda? Sebenarnya tidak ada, yang selalu ada hanyalah perubahan. Atau, agar terkesan adil: tiap generasi itu bermasalah, punya masalah masing-masing.

Ada satu faktor penting yang diajukan Finkelhor kenapa juvenoia bisa terjadi: nostalgia. Sebuah bias yang meromantisasi masa lalu seseorang. Nostalgia yang bersifat kultural dan universal ini meningkat seiring bertambahnya usia.

Nostalgia sebetulnya punya fungsi positif, dapat memainkan beberapa peran dalam menumbuhkan optimisme, memberi makna pada kehidupan, dan memerangi kesepian. Namun, juvenoia bisa juga terbentuk atau diperburuk oleh nostalgia. Bias ini mendorong orang tua untuk membuat perbandingan negatif antara anak-anak muda hari ini dengan masa mudanya.

Juvenoia memang sering bermanifestasi dalam penghinaan terhadap budaya anak muda. Dari Elvis Presley hingga musik rap sampai permainan video, orang yang lebih tua lebih cepat menyalahkan budaya anak muda ketika ada masalah sosial yang dirasakan. Padahal, sering kali lupa bahwa media yang dielu-elukan saat masa muda mereka juga sama-sama pernah dicibir.

Artikel populer: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Keyakinan setiap generasi bahwa generasi sebelumnya terlalu kaku dan konservatif, dan generasi setelahnya terlalu liar dan di luar kendali. Setiap generasi mengira budayanya sendiri yang paling pas. Ini semacam efek Goldilocks beracun yang akan terus berulang.

George Orwell telah mengekspresikan sentimen ini dengan sangat baik: “Setiap generasi membayangkan dirinya lebih cerdas daripada generasi sebelumnya, dan lebih bijaksana daripada generasi berikutnya.”

Semoga saja, sepuluh atau duapuluh tahun nanti, jika saya dan dunia masih ada, saya bisa membaca esai ini dan dijauhkan dari sindrom juvenoia. Kalau saya mengirim esai yang mencibir anak muda, saya akan berterimakasih jika Voxpop menolaknya.

Jauhkan kami dari penyakit juvenoia dan dekatkan Juventus pada tangga juara!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.