Ilustrasi. (Image by PublicDomainPictures from Pixabay)

Bom bunuh diri lagi, seakan tiada henti.

Minggu, 28 Maret 2021, ledakan bom terjadi di depan Gereja Katedral Makassar. Dua orang yang diduga sebagai pelaku, tewas. Sementara, 20 orang menjadi korban dari luka ringan, sedang, hingga berat.

Pemerintah dan pemuka agama mengutuk aksi teror tersebut, seraya kembali menegaskan bahwa terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan yang tidak berkaitan dengan agama apa pun. Bahkan, sebagian masyarakat beranggapan bahwa para teroris itu tidak punya agama.

Waittt… teroris berarti ateis, gitu?

Namun, Alissa Wahid, koordinator Jaringan Gusdurian, berpandangan lain. Tidak tepat jika aksi teror itu disebut tidak berkaitan dengan agama. Sebab aksi tersebut tetap bersumber dari pemahaman (yang salah) tentang agama.

Mbak Alissa juga menyangkal anggapan bahwa terorisme tumbuh subur karena kemiskinan dan perut yang lapar. Ia memberi contoh tentang pelaku teror bom di Sri Lanka yang berasal dari keluarga konglomerat. Dan, seperti kita tahu, pelaku bom bunuh diri di Surabaya pada 2018 berasal dari keluarga yang berkecukupan.

Baca juga: Bagaimana Kalau Keluarga Kita Sendiri yang Intoleran?

Dalam artikel The Definition of Terrorism, Ruby CL juga membahas tentang para pelaku teror yang bukan orang-orang dengan latar belakang ekonomi lemah, bukan pula dari kalangan yang tertinggal secara pendidikan. Contohnya, Osama Bin Laden.

Justru, lebih cenderung pada faktor demografis yang seragam. Artinya, para teroris cenderung mengelompok di lokasi tertentu. Salah satunya daerah rawan konflik di Timur Tengah.

Jadi, anggapan bahwa para teroris adalah orang-orang yang miskin dan gampang dipengaruhi, jelas terpatahkan.

Balik lagi soal agama pelaku teror.

Jika kita terus-terusan denial bahwa aksi mereka tidak berkaitan dengan agama apa pun, alih-alih menyoroti pemahaman yang salah, justru bisa menimbulkan persoalan baru. Publik jadi lebih sibuk berdebat mengenai agama si pelaku teror. Bahkan, berisiko terjadi gesekan, apalagi banyak orang di media sosial yang mendadak jadi ahli segala bidang.

Alhasil, fokusnya sering kali bergeser, bukan lagi tentang perbuatan pelaku yang melukai nilai-nilai kemanusiaan, melainkan tentang agama si pelaku.

Baca juga: Kita Memang Butuh ‘Garis Lucu’ dalam Beragama

Di era post-truth yang serba ambigu ini, kita bahkan masih sering menemukan adanya pendapat masyarakat yang menganggap bahwa teror bom hanya rekayasa untuk pengalihan isu. Pernyataan yang disadari atau tidak, bisa melukai perasaan korban dan keluarganya. Apalagi, opini itu berasal dari sumber yang tidak jelas.

Tahu sendiri lah, banyak orang yang terobsesi dengan hal-hal berbau ‘teori konspirasi’. Perdebatan di media sosial pun menjadi makin panas. Tetapi, setelah peristiwa berlalu, semuanya kembali lupa dan abai.

Bahwa teroris punya agama, iya, itu pasti. Karena di negara ini, setiap warga yang punya KTP wajib punya agama dan kepercayaan, yang dicantumkan di KTP. Perkara dalam kesehariannya taat melaksanakan ibadah atau tidak, atau bagaimana ia menafsirkan dan menjalaninya.

Baca juga: Pada Dasarnya, Umat Beragama Itu Sama Saja, yang Beda Hanya Kelas Sosialnya

Saya jadi teringat Imam Samudera ketika dulu hendak dieksekusi mati. Tak ada penyesalan sedikitpun, jika dilihat dari pernyataan-pernyataannya maupun gesturnya. Bahkan, sorot matanya tetap tajam seolah penuh keyakinan. Memang dari mana keyakinan itu muncul, kalau bukan dari sebuah pemahaman? Tentunya pemahaman versi dia dan kelompoknya yang ekstrem.

Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengakui bahwa teroris merupakan orang beragama. Dia juga mengakui ada sebagian umat yang melewati batas dalam beragama, sehingga melakukan tindakan ekstrem – mengingkari nilai-nilai kemanusiaan dan merusak kemaslahatan bersama.

Jadi, sudahlah, tak perlu mengulang-ulang kalimat bahwa aksi teror yang terjadi tidak berkaitan dengan agama, apalagi menyebut para teroris tidak punya agama. Itu justru menjauhkan kita dari inti masalah.

Jelas-jelas, kita berhadapan dengan orang-orang halu dengan fundamental attribution error a.k.a. correspondence bias, kalau merujuk istilah dari Lee Ross. Mereka merasa perbuatannya paling benar, dan sesuatu yang mereka anggap salah harus diperangi.

Artikel populer: Aktivis HAM Itu Bernama Ibrahim, Bapak Tiga Agama: Islam, Nasrani, Yahudi

Repotnya ketika persepsi mereka mengarah ke dehumanisasi, maka mereka cenderung mencari pembenaran dalam melakukan agresi terhadap pihak yang dianggap sebagai lawan.

Dalam konteks terorisme, para pelaku teror sering kali membawa-bawa istilah ‘kafir’, bahkan orang-orang yang dilabeli ‘kafir’ tersebut dinilai pantas mati. Padahal, istilah ‘kafir’ yang mereka maksud masih menjadi polemik. Tetapi, ya itu tadi, mereka cenderung mencari pembenaran dan merasa paling benar.

Lantas, mau sampai kapan kita berdebat soal agama pelaku teror, alih-alih fokus pada deradikalisasi? Atau, de-ekstremisasi?

1 KOMENTAR

  1. Masalahnya sangat kompleks.

    Bisa saja dapat ditarik lurus ke belakang: bagaimana masa kehamilan ibu yang mengandungnya, pola asuh yang diterima pelaku, lingkungan terdekat pelaku, pendidikan dasar yang diterima pelaku cenderung kritis kontekstual atau formal konvensional, apakah pelaku pernah menerima perundungan atasnama agama di masa lalunya, dsb.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini