Ilustrasi perempuan. (Photo by Reafon Gates from Pexels)

Saya pernah membuka tanya jawab soal masturbasi perempuan. Tak sedikit yang berkomentar bahwa masturbasi bisa membuat tubuh perempuan seperti emak-emak. Tentu itu hanya mitos karena tidak ada penelitian yang membuktikan demikian. Namun, pertanyaan yang muncul adalah kenapa sih membenci tubuh emak-emak?

Sebelum lebih lanjut, mari lihat bagaimana emak-emak digambarkan oleh masyarakat. Setelah googling, emak-emak digambarkan sebagai perempuan paruh baya yang memiliki tubuh besar dan berpenampilan lusuh, serta tak menarik menurut kacamata lelaki. Mereka juga digambarkan sebagai perempuan yang loud alias cerewet, memiliki tingkah laku yang mudah marah dan sering berulah, serta riasan yang berlebihan.

Tapi kalau kita googling ‘mamah muda’, gambar yang muncul adalah perempuan muda, bertubuh kecil, kulit putih, dan tampak bahagia bahkan setelah memiliki anak. Beda dengan emak-emak yang selalu digambarkan dengan raut wajah yang lusuh dan tak bahagia.

Baca juga: Tubuh Gemuk Dibilang Bodi Emak-emak, Memang Emak Kenapa, Woi?!

Ketidaksukaan terhadap gambaran stereotip emak-emak menunjukkan bahwa masyarakat kita memiliki kebencian dan prasangka terhadap orang bertubuh besar alias fatphobia. Rasa tidak suka itu cenderung ditujukan kepada perempuan. Sedangkan lelaki yang bertubuh besar dinormalisasi – dianggap lelaki yang hidup berkecukupan bahkan makmur.

Kebencian itu karena emak-emak dianggap tidak mengikuti standar kecantikan yang diciptakan oleh patriarki. Perempuan tersebut mungkin memiliki fokus kehidupan yang berbeda, yaitu bekerja, memastikan anak bisa makan dan sekolah, serta memastikan rumahnya dapat memberikan rasa aman dan kenyamanan. Tak ada waktu memikirkan standar kecantikan yang eksploitatif.

Maka, tak jarang emak-emak juga digambarkan sebagai perempuan tua yang sering bolak-balik ke pasar atau antar jemput anak ke sekolah, meskipun yang bekerja di kantor tak luput dari sebutan tersebut. Bahkan, perempuan-perempuan paruh baya yang tampak memiliki kehidupan sosialita kadang dipanggil dengan sebutan emak-emak. Begitu juga dengan ibu-ibu yang mempertahankan rumahnya dari penggusuran.

Baca juga: Saat Perempuan Dituntut Cantik dan Laki-laki Dituntut Kaya

Berbeda dengan mama muda yang digambarkan sebagai perempuan lemah lembut dan rapuh, serta mengikuti standar kecantikan yang diciptakan patriarki agar pemilik modal bisa menjual produknya dan meraup keuntungan dari rasa tidak percaya diri tersebut.

Stereotip mama muda juga hasil dari objektifikasi oleh budaya patriarkal yang menuntut perempuan untuk bisa tampil ‘cantik’ sambil mengemban beban-beban domestik. Emak-emak juga harus menghadapi tekanan sosial dan beban domestik, tapi bedanya mereka digambarkan tampak lusuh dan mudah marah.

Selain stereotip yang sama-sama diciptakan oleh patriarki sebagai pembeda antar perempuan yang diinginkan dan tidak diinginkan, kedua stereotip itu memiliki kesamaan, yaitu perempuan yang telah berhubungan seksual (budaya patriarki masih melihat perempuan yang telah menikah dan memiliki anak adalah orang yang pernah berhubungan seksual).

Lantas, kenapa ada mitos yang bilang bahwa tubuh perempuan bisa berubah menjadi seperti emak-emak kalau bermasturbasi? Kenapa tidak bilang nanti akan berubah seperti mamah muda?

Baca juga: Perbanyak Dialog tentang Seks, jika Tidak Kapan Perempuan Bisa Dapat Kepuasan?

Pembedaan antara mama muda dan emak-emak sengaja dibuat agar perempuan saling berkompetisi, serta memarginalkan perempuan yang dianggap tidak berguna dan tidak menarik di mata masyarakat.

Perempuan tua kerap dibenci lantaran dianggap tak memiliki fungsi reproduksi dan tenaga untuk bekerja selayaknya perempuan muda, sehingga orang-orang merasa resah dengan apa yang dikerjakan dan dimiliki oleh emak-emak. Mereka juga marah ketika melihat emak-emak memiliki kekayaan berlebih.

Hal itu mengingatkan pada buku yang ditulis oleh Silvia Federici berjudul Witches, Witch-Hunting, and Women (Perburuan Penyihir). Pada masyarakat pra-kapitalis di Eropa, privatisasi tanah melalui proses pemagaran menyebabkan persekusi terhadap ‘penyihir’. Dalam bukunya, penyihir dianggap sebagai perempuan tua.

Sebelumnya, perempuan yang hidup dalam masyarakat komunitarian tidak memiliki pembatasan tanah. Namun, sejak adanya akumulasi dan privatisasi, perempuan tidak memiliki hak properti sehingga ia terusir dari tanahnya sendiri.

Perburuan ‘penyihir’ tak hanya terjadi dalam sejarah Eropa. Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi juga di beberapa negara di Afrika. Contohnya di Ghana, ada desa penyihir. Bukan karena mereka bisa menyihir dan membuat orang melakukan sesuatu, tapi mereka adalah perempuan tua yang mengungsi akibat dipersekusi oleh masyarakatnya, terutama oleh para lelaki muda.

Artikel populer: Di Balik Cibiran soal Ketiak Hingga Selangkangan yang Menghitam

Laki-laki muda itu adalah para pemuda pengangguran yang bersedia memberikan tenaganya untuk perburuan ‘penyihir’. Para lelaki ini menganggap bahwa hilangnya keamanan ekonomi dan identitas maskulin mereka karena pedagang perempuan – dianggap sebagai kompetitor. Mereka menyerang perempuan dengan tuduhan penyihir, lantaran tidak suka melihat keberhasilan perempuan dalam berdagang.

Persekusi terhadap perempuan tua juga karena mereka dianggap menghalangi agenda kebijakan ekonomi yang hendak melakukan intervensi ekstraktif terhadap tanah yang ia tinggali. Banyak perempuan berkeras untuk melindungi tanahnya dari perusahaan-perusahaan yang hendak masuk dan melakukan konsesi lahan.

Sesungguhnya emak-emak adalah perempuan yang berdaya dan berdikari. Ia tidak membutuhkan validasi, termasuk dari laki-laki. Menjadi emak-emak atau terlihat seperti emak-emak bukan hal yang harus kita takuti.

Sebab menua adalah keniscayaan dan patriarki mesti dilawan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini