Kenapa sih Apapun Masalahnya, Menikah Solusinya?

Kenapa sih Apapun Masalahnya, Menikah Solusinya?

Ilustrasi via Pexels

Jika ada cinta yang benar-benar idealis, itu pasti cinta yang tak berbalas. Karena menuntut seseorang harus membalas perasaan kita, apalagi menuntut untuk dilegalisasi melalui pernikahan, itu terbilang pragmatis.

Jadi, misalkan ada istilah cinta platonik, harusnya ada pula aristotelian, yang empiris lagi rasional. Cinta platonik bersemai dan bersemi dalam kesunyian ruang rindu, sementara satunya dalam hiruk pikuk dunia berstandar materi.

Ya masuk akal sih, kalau di iklim dunia berkomposisi kelas-kelas sosial, pernikahan kadang jadi alat mobilitas sosial.

Pernyataan tentang ‘saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi’ yang bersumber dari akun bertema relijies sebenarnya menunjukkan secara gamblang bahwa asumsi soal menikah menurut mereka juga bukan perkara cinta, melainkan ya pragmatisme belaka. Menyandingkan urusan nikah dengan lapar dan dahaga.

Dari segi agama, propaganda pernikahan biasanya diasosiasikan sebagai bentuk ibadah. Tapi kini agar terkesan kontekstual dengan realitas hidup, ia dikaitkan dengan materi, urusan nafkah, dan menafkahi.

Dengan landasan tafsir yang sama, pernikahan dikonstruksi sebagai lembaga berstruktur hierarkis, dimana lelaki yang berada di puncak piramidanya. Maka, dalam urusan sumber materi, perempuan yang dinafkahi. Persis relasi buruh-majikan, bedanya ini di ruang privat.

Lantas, sebagian perempuan merasa jengah, tapi sebagian lagi justru bungah. Kita sebenarnya terbelah. Ada yang mengkritik habis-habisan, eh justru ada pula yang membagi-bagikan sebagai isyarat ke pasangan.

Bukankah kita sesama perempuan sering mendengar seloroh dari perempuan lain, semisal “capek gue kerja lembur bagai kuda, pingin nikah ajalah”?

Mari kita akui bahwa tak sedikit dari kita yang menganggap menikah adalah tahap menuju kemapanan dan kenyamanan materi.

Seorang liberal mungkin akan bilang, “Ya pantes perempuan nggak bisa maju, salahnya mereka sendiri yang berpikiran cupet.”

Tetapi, memandangnya murni kesalahan perempuan justru bertindak blaming the victim. Tentu bukan semata-mata karena perempuan kolot dan enggan berpikiran maju.

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Cara hidup institusi sosial kitalah yang mengajari dan menuntut sedari orok, masa kanak, pubertas, hingga beranjak dewasa agar pandangan kita kian submisif.

Pengetahuan memang mencipta kesadaran, tapi pengetahuan juga mengalami pertarungan wacana di ruang publik melalui macam-macam saluran budaya dan berbagai agen hingga sulit tersampaikan.

Sebenarnya, jika mau bersikap jujur dan adil, benarkah perempuan saja yang merasa menjadi korban?

Kamu-kamu lelaki yang baru dewasa, tapi tidak cemerlang-cemerlang amat kariernya, tidakkah merasa tertekan secara sosial atas tuntutan untuk segera menikahi dan menafkahi?

Ketika setiap seminggu sekali rumpi-rumpi di forum pengajian, saling melempar pandang atas apa-apa yang dikenakan, baik busana, riasan atau aksesoris, lalu mereka pulang dan menuntut barang-barang serupa ke kamu.

Ketika halaman tetangga terparkir Mercedes Benz S-Class keluaran terbaru, ketika anak-anak mulai membutuhkan jenjang pendidikan – tak lagi sekadar susu – bahkan ketika lingkungan pergaulan anak-anak nantinya mulai bersaing gengsi melalui gaya hidup, kamu yang upahnya tak seberapa itu tidakkah seketika lesu?

Lalu, kamu menghisap lebih banyak cerutu agar tetap terlihat tangguh. Tak heran, kalau iklan-iklan rokok tidak kalah motivatifnya dengan Mario Teguh yang dulu.

Selain kasus bertepuk sebelah tangan, cinta yang idealis tampaknya juga hanya ada pada tahap awal pacaran, kala komitmen-komitmen masih sekadar aku milikmu dan kau milikku, jangan sampai ada dia. Pada tahap itu, hanya ada puisi-puisi cinta Sapardi dan Neruda.

Ketika usia menuntut untuk berkomitmen menjalin sebuah lembaga keluarga, konflik-konflik bermunculan. Sebab, tak semua pasangan memiliki kemapanan materi yang sama.

Tak semua pasangan juga memiliki kerelaan yang sama dalam berbagi hidup ataupun memiliki kematangan dan kedewasaan yang sama, sehingga pertengkaran adalah hal yang biasa. Sidang perceraian pun rela ditempuh, meski ribet dan membosankan.

Artikel populer: Beberapa Bagian Penting dari ‘Crazy Rich Asians’ yang Perlu Dicermati

Kita sama-sama menjadi korban atas langgengnya budaya patriarkal. Katakanlah memang pernikahan adalah bagian dari pragmatisme hidup. Tidak bisakah urusan menikah kita maknai sebagai komitmen atas keinginan berbagi hidup bersama secara setara?

Tidak bisakah kita hilangkan sekat publik dan privat agar masing-masing kita bisa berkarya sebebas yang kita inginkan tanpa perdebatan karier siapa yang harus diprioritaskan?

Mengenai nafkah dan peran pengasuhan, tidak bisakah kita saling berbagi tanpa harus ada dominasi?

Dan, bisakah kita berhenti menjadikan pernikahan sebagai standar idealitas hidup seseorang, begitupun perceraian yang menjadi standar kegagalan membangun idealitas percintaan?

Bukankah sewaktu lajang orang harus siap apakah kelak akan menikah atau tidak menikah? Sewaktu menikah pun, harus siap apakah akan diberkahi keturunan atau tidak? Sewaktu diberkahi keturunan pun harus siap apakah terlahir seperti pada umumnya atau tidak?

Masa depan tak selurus dengan apa yang kita bayangkan.

Mereka yang memilih melajang seumur hidup dan mendedikasikan waktu untuk pengasuhan di ruang publik adalah individu yang mapan secara lahir batin.

Begitupun mereka yang memilih terlibat dalam pernikahan, bukan hal yang mudah menyatukan dua kepribadian, pandangan, kepentingan, bahkan mungkin latar belakang kelas yang berbeda menjadi satu kehidupan.

Pada intinya, menikah atau tidak, sama-sama memiliki tanggung jawab merawat peradaban.

Dalam situasi itu, kita tak bisa membayangkan bahwa kebahagiaan di masa depan bersifat tunggal. Nyatanya, kita bisa saja tak menikah atau menikah tapi tak diberkahi keturunan atau diberkahi keturunan tapi tak sesuai harapan.

Apakah salah satunya tergolong nasib terbaik atau terburuk? Semoga kita tak lagi-lagi memandangnya demikian.

Bagaimana masa depan bisa tunggal, jika pengalaman, keyakinan, jenis pengetahuan orang begitu jamak? Akhirnya jalan mana yang dipilih bakal sesuai pengalaman hidup dan gejolak pemikiran kita masing-masing, lalu kita sering menyebutnya takdir. Kita sesekali bahagia dan sesekali menderita di jalan masing-masing.

Jika kita memilih melajang, tentu karena pengetahuan dan pengalaman yang membentuk pilihan kita. Kalaupun memilih menikah, ya mari menikah untuk sebuah cita-cita, bukan karena lelah bekerja.

Memangnya pernikahan itu gerai salon dan spa, apa?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.