Kenapa Omongan Orang yang Dicap SJW ‘Kiri’ Suka Ngegas?

Kenapa Omongan Orang yang Dicap SJW ‘Kiri’ Suka Ngegas?

Ilustrasi (Image by prettysleepy1 from Pixabay)

Belum lama ini, terbit sebuah esai yang intinya nyinyirin kelakuan admin salah satu akun feminis. Menurut penulisnya, mengapa admin tersebut suka marah-marah alias galak ketika menyikapi berbagai isu? Apakah admin itu kurang baca buku?

Saya rasa nggak gitu, mereka semua penulis dan sudah menerbitkan buku. Ya kali nulis buku tapi nggak baca buku. Mereka pun perempuan yang merdeka, tentu bertanggung jawab dan bahagia atas pilihannya. Jadi rasanya juga tidak defisit kegembiraan.

Lantas, kenapa masih suka marah-marah?

Kesan kemarahan atau ‘ngegas’ memang lazim pada narasi yang dibawa oleh kawan-kawan yang sering dikatain sebagai SJW ‘kiri’ ini. Terutama, kalau lagi ngomongin narasi penindasan. Mengapa? Karena ketika berbicara penindasan tak mungkin bersanding dengan kegembiraan.

Seradikal-radikalnya kamu menganut mazhab satire, terkadang tidak relevan mengungkapkan penindasan dengan narasi yang gembira. Apalagi, jika narasi itu muncul dari mereka yang dirampas tanahnya, diperkosa, atau dipanggil “monyet”.

Baca juga: Kiri Kanan itu Apa sih, Kenapa Nggak di Tengah-tengah?

Tidak banyak dari orang-orang yang kalah dalam perebutan ruang berhasil keluar dari kemelut kemarahan. Sebagian dari mereka memilih tetap bertahan pada kemarahannya, kemudian mengkanal setiap kemarahan pada komunitas berdaya pulih. Sementara, sebagian yang lain terpaksa teralienasi sendiri.

Orang-orang yang sering dicap sebagai Social Justice Warrior (SJW) ‘kiri’ ini – dalam istilah peyoratif – sesungguhnya sedang berusaha menyalurkan pemikiran kritisnya untuk mengontrol penguasa, misalnya. Mereka sedang mengolah kemarahan agar terarah dan tidak destruktif.

Lah, tidak destruktif gimana? Ya seperti seorang suami yang tidak memukuli istrinya, meski sedang marah. Atau, orangtua yang kelelahan dengan beban hidup sehari-hari tapi tidak menyiksa anaknya, meski anaknya bandel.

Sungguh beruntung kelompok yang berhasil menyalurkan segala kemarahan dengan mengonversinya menjadi energi positif. Sebab, kemarahan ini bisa dibajak atau dimanfaatkan oleh segelintir elit untuk mencari keuntungan. Terbukti, kemarahan yang terorganisir berhasil menggagalkan seorang untuk menjadi gubernur.

Baca juga: ‘Uninstall’ Feminisme atau Tidak? Sebuah Saran

Murray Bookchin pernah mendedah persoalan akar kemarahan ini. Ia mengungkapkan bahwa hubungan antara social injustice dengan environmental injustice hanya sekadar mencari new kind of justice, yang kelak punya titik singgung dengan kritik terhadap kejahatan kapitalisme.

Baginya, dalam sistem kapitalis, alam dieksploitasi, kemudian dikonversi menjadi komoditas. Dari komodifikasi sumber daya alam inilah yang kelak menjadi materi penghubung dalam proses penumpukan kekayaan. Mengapa dengan mengeksploitasi alam, perampasan ruang hidup terus berlanjut? Jawabannya karena kapitalisme meniscayakan satu hal; kolonialisme.

Tentu secara konsep dan proses, kolonialisme akan terus berkembang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan. Namun, itu tidak berarti menghilangkan sendi kolonialismenya, yakni perampasan ruang hidup. Bedanya, kalau dulu harus capek-capek menyeberangi lautan dan melintasi benua, kini bisa dilakukan dengan cara melipat jarak dan waktu.

Bahkan, dampak dari kolonialisme yang terjadi sejak Perang Dunia I ini – mungkin juga jauh sebelumnya – adalah pandangan dan perilaku yang merendahkan harkat martabat perempuan. Kolonialisme memang selalu menyisakan korban, sementara pemenangnya selalu berhasil membuat sejarah.

Baca juga: Punk Tak Lagi Berideologi Kiri, Sebagian Menjadi Islami

Menurut Bookchin, eksploitasi alam oleh manusia terjadi akibat eksploitasi manusia terhadap manusia yang lain. Sebagaimana filosofi bahwa alam adalah ibu, maka perempuan juga menjadi perumpamaan mikrokosmos dari alam yang berkali-kali terjajah oleh segala bentuk penindasan, baik secara kultur maupun struktur.

Sebab itu, penindasan tak pernah hadir barengan dengan kegembiraan, ia mengakumulasi kekecewaan dan kemarahan.

Saya beserta keluarga termasuk golongan orang-orang yang kalah. Kami mesti merelakan sepetak tanah dijual dengan harga murah dan terpaksa pindah ke pinggiran Ibu Kota. Sebab, kota lebih ramah pada gedung pencakar langit dan lebih menghormati kelompok berduit.

Tentunya nilai ganti rugi yang diberikan tidak sebanding dengan sejarah kehidupan keluarga kami. Uang tidak bisa mengganti nyanyian saat kami bermain layang-layang dan tidak bisa mengganti nilai pendidikan yang selama ini diperoleh komunitas warga kami.

Seorang akademisi yang tidak pernah menjadi korban penggusuran mungkin bisa saja berujar bahwa di era disrupsi dan post-truth semacam ini, kemarahan bisa menghasilkan keuntungan dan ketakutan yang terorganisir bisa menjadi ladang bisnis. Tapi ujaran semacam itu bagai khotbah di atas bukit atau ibarat membangun istana di atas awan.

Artikel populer: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Sialnya, segala bentuk kemarahan bisa tertuju pada siapa dan apa saja. Seorang anak kecil yang memecahkan kaca jendela tetangga karena bola yang ditendangnya, bisa jadi sasaran amarah. Atau, seorang akademisi yang dengan santuy ngomong “soal gusur menggusur kan cuma soal ganti rugi” juga bisa jadi medium amukan korban penggusuran.

Padahal, semua akan tergusur pada waktunya. Lihatlah Jakarta tempo dulu, lalu bandingkan dengan Jakarta masa kini. Atau, lihat Kalimantan masa kini, lalu bandingkan dengan Kalimantan pada masa yang akan datang.

Jadi sampai di sini, sebagaimana kemarahan yang harus dikonversi agar menjadi suatu nilai, maka kapitalisme pun juga sama, yakni membutuhkan pengkonversian suatu bentuk sebelum diubah menjadi bentuk yang lain. Bedanya, kapitalisme adalah sumber dari kemarahan itu sendiri.

Jadi, apakah kamu sering marah-marah, galak, alias suka ‘ngegas’ kalau merasakan penindasan dan ketidakadilan?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.